Sadio Mane, Si Pemalu yang Siap Berubah dan Mencetak Sejarah

Cerita

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Sadio Mane, Si Pemalu yang Siap Berubah dan Mencetak Sejarah

Tidak ada yang terkejut ketika Sadio Mane membuka keunggulan Liverpool atas Crystal Palace pada pekan ke-13 Liga Primer Inggris 2019/2020. The Eagles merupakan lawan favorit Mane. Di antara semua klub yang pernah ia hadapi di Liga Inggris, Crystal Palace adalah yang paling banyak ia bobol. Setiap kali bertemu dengan kesebelasan asal London tersebut, Mane sudah pasti menjadi sorotan. Akan tetapi, lampu sorot bukanlah sesuatu yang dinikmati oleh Mane.

Menulis untuk The Athletic, James Pearce menceritakan pengamatannya setelah pertandingan di Selhurst Park pada Sabtu (23/11) lalu. "Mane terlihat menutupi diri dengan jaket. Wajahnya tidak terlihat, tangannya nyaman di kantong. Ia berharap dirinya tidak terdeteksi. Namun, hal tersebut sangat sulit terjadi. Apalagi suporter Liverpool sudah menunggu, siap memberikan apresiasi mereka kepada tim. Mane akhirnya meluangkan waktu untuk beberapa foto dan mengacungkan jempol ke para pendukung setia The Reds," tulis Pearce.

Highlights pertandingan Crystal Palace 1-2 Liverpool

Mane sudah seperti ini sejak dulu. "Dia adalah sosok yang pendiam," aku Mandaba, mantan penjaga gawang profesional yang mengikuti karier penyerang Liverpool tersebut sejak bermain di Akademi Sacre-Coeur.

Bahkan ketika dirinya terpilih masuk Generation Foot, Abdou Diatta, selaku pemandu bakat salah satu akademi terbaik Benua Afrika itu sempat memperingatkan Mane agar menumbuhkan rasa percaya diri. "Jika terus begini, ada peluang Anda akan dipulangkan. Anda harus terlibat di dalam tim. Saat itu dirinya sangat pemalu. Seakan terlihat seperti tidak mau bermain," aku Diatta.

Seiring perjalanan waktu, Mane memang berhasil memperlihatkan kemampuannya sebagai pemimpin. Ia bahkan dipercaya untuk jadi kapten Tim Nasional Senegal dalam beberapa kesempatan, termasuk saat Piala Dunia 2018 melawan Polandia. Terlihat dari tingkah laku setelah pertandingan melawan Crystal Palace pekan lalu, Mane tetap tidak mengalami perubahan, sekalipun dirinya sudah disebut sebagai salah satu pemain terbaik dunia. Mane bahkan diunggulkan oleh Eden Hazard dan Arsene Wenger untuk memenangkan Ballon d`Or 2019.

Mane selalu siap untuk naik ketika dipanggil ke tengah lampu sorot. Dirinya adalah pemain paling bersinar di antara trisula maut The Reds pada musim 2019/2020. Setidaknya hingga pekan ke-13, Mane sudah memberikan kontribusi dalam 12 gol Liverpool. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan Mohamed Salah (9 gol) ataupun Roberto Firmino (7 gol).

"2019 adalah milik Sadio Mane. Sejak saya pertama bergabung dengan tim ini, ia selalu menjadi pemain yang hebat. Namun, ketika itu ia sering gugup di depan gawang. Sekarang, permainan Mane ada pada level yang berbeda," puji bek Liverpool, Andrew Robertson.

Transformasi Mane tidak lepas dari pengaruh Jurgen Klopp selaku manajer Liverpool. Klopp sebenarnya sudah menyukai Mane sejak ia masih menangani Borussia Dortmund. Pada 2014, Mane juga siap meninggalkan RB Salzburg dan menyusul Klopp ke Signal Iduna Park. Tapi menurut Klopp saat itu BVB tidak disokong oleh dana yang cukup untuk mendatangkan Mane. Hingga akhirnya Mane pindah ke Southampton.

"Itu merupakan kesalahan terbesar saya. Beruntung kehidupan memberikan kesempatan kedua," kata Klopp.

"Waktu pertama dia datang ke sini, dirinya masih butuh dorongan untuk menjadi percaya diri. Menurut saya saat itu masalah Mane hanya satu, dia merupakan satu-satunya pemain yang merasa dirinya tak bagus. Padahal semua orang tahu bahwa dia pemain kelas dunia," jelas Klopp.

Melalui bantuan Klopp dan bertambahnya pengalaman Mane di bawah lampu sorot, ia pun sadar bahwa dirinya perlu berubah. "Saya ada di klub yang tepat. Diasuh oleh manajer yang tepat. Ini adalah waktu yang tepat juga untuk berubah," kata Mane.

Telah tampil lebih dari 140 kali untuk The Reds, Mane siap masuk ke dalam buku sejarah klub. Mencatatkan namanya sebagai salah satu pemain yang berhasil membawa Liverpool menjuarai Liga Primer Inggris. Dengan keunggulan delapan poin dari pesaing terdekat, Leicester City, besar peluang Mane dan kawan-kawan mencatatkan sejarah tersebut.

Komentar