Mengapresiasi Keputusan Southgate dalam Perselisihan Sterling vs Gomez

Cerita

by Hendi Abdurahman

Hendi Abdurahman

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Mengapresiasi Keputusan Southgate dalam Perselisihan Sterling vs Gomez

Papan skor di Stadion Anfield, Minggu (10/11/2019) menunjukkan angka 3-1. Di sisi kanan pertahanan Liverpool, Manchester City melakukan serangan lewat Raheem Sterling. Penggawa yang juga mantan pemain Liverpool itu mendapat gangguan dari Joe Gomez sehingga membuatnya tak leluasa melakukan penetrasi. Lantas, lantaran merasa kecewa, Sterling meluapkan emosi dan sempat bersitegang dengan Gomez.

Tak sampai di situ, perselisihan antara Sterling vs Gomez masih berlanjut. Sehari berselang, jelang sesi latihan timnas Inggris menghadapi Kualifikasi Euro 2020, keduanya kembali terlibat perseteruan. Melansir Skysports, keduanya sempat beradu mulut. Bahkan Sterling mendatangi Gomez sambil berucap, “Kamu pikir kamu sudah jadi bos di sini sekarang?”

Akibat dari insiden itu pun meluas. Hasilnya, pelatih Inggris, Gareth Southgate menghukum mantan pemain termahal Inggris itu dengan tidak menyertakannya di pertandingan Inggris melawan Montenegro, Kamis (14/11) atau Jumat waktu Indonesia.

Live Streaming Kualifikasi Piala Eropa Inggris vs Montenegro

“Kami mengambil keputusan untuk tidak memainkan Raheem [Sterling] di pertandingan melawan Montenegro Kamis nanti. Perasaan saya adalah hal terbaik untuk tim yaitu keputusan yang sudah kami ambil,” ucap Southgate dikutip BBC.

“Sekarang keputusan sudah dibuat dengan persetujuan seluruh skuad. Penting bahwa kami mendukung para pemain dan fokus untuk pertandingan Kamis malam,” tambahnya.

Keputusan Tepat Southgate

Melihat kepentingan tim, apa yang dilakukan Southgate patut diapresiasi. Sebagai pelatih, ketegasannya sangat diperlukan. Apalagi The Three Lions tinggal selangkah lagi untuk memastikan lolos ke putaran final Euro 2020.

Tergabung di Grup A bersama Ceko, Kosovo, Montenegro dan Bulgaria, Jordan Henderson dan rekan-rekan hanya membutuhkan hasil seri saat menjamu Montenegro di Stadion Wembley. Sejauh ini, Inggris telah memainkan 6 pertandingan dengan hasil lima kali menang dan sekali kalah (15 poin).

Tambahan satu poin sudah cukup membuat Inggris lolos. Pasalnya, Ceko yang kini berada di posisi kedua (12 poin) bakal menghadapi Kosovo yang berada di peringkat 3 (11 poin). Hanya menyisakan dua pertandingan, setidaknya Inggris sudah aman di posisi runner-up andai imbang melawan Montenegro.

Sebenarnya, apa yang dilakukan mantan pelatih Middlesbrough itu pun bukan tanpa risiko. Bersama Harry Kane, Sterling merupakan top skor Inggris di babak Kualifikasi dengan torehan 6 gol, selisih 3 gol dari penyerang Israel, Eran Zahavi yang berada di daftar pencetak gol terbanyak. Kontribusi Sterling semakin terlihat karena ia juga telah mengoleksi 5 asis.

Tak hanya itu, menghukum Sterling juga bisa dibaca sebagai sikap preventif sang pelatih agar keharmonisan tim tidak terganggu. Andai Southgate tidak pasang badan, bukan tak mungkin keharmonisan skuadnya terganggu dan dapat memengaruhi performa tim secara keseluruhan.

Jika menoleh ke belakang, keputusan penting yang dilakukan Southgate sempat pula ditunjukkan saat ia lebih memilih Harry Kane sebagai kapten di Piala Dunia 2018 menggantikan Jordan Henderson. Mengedepankan komunikasi dengan seluruh skuad, ia membeberkan alasan menunjuk Kane karena menganggap penyerang Tottenham itu memiliki kepercayaan diri dan standar tinggi. Alih-alih marah, Henderson justru menerima keputusan sang pelatih.

“Pelatih menelepon saya. Saat itu saya tidak memikirkan karena fokus saya ke laga final [Liga Champions],” ucap Jordan Henderson.

Permohonan Maaf Sterling

Usai insiden tersebut, Sterling pun menyadari kesalahannya dan telah meminta maaf. Dilansir dari Instagram pribadinya, penggawa berdarah Jamaika itu mengatakan bahwa emosi dan perselisihan di lapangan merupakan sesuatu yang biasa terjadi.

Apalagi laga Liverpool vs Manchester City sarat akan gengsi. The Citizens membutuhkan poin untuk mengejar Liverpool di tabel klasemen Liga Inggris. Sebelum pertandingan itu, skuad asuhan Pep Guardioloa berada di posisi kedua, tertinggal enam poin dari The Reds yang berada di puncak.

“Pertama-tama, semua orang tahu apa arti pertandingan tersebut untuk saya. Setiap orang tahu saya tak pernah bersikap begitu dan saya lebih terbuka. Joe [Gomez] dan saya pernah berselisih, namun kami dapat menyelesaikannya dan tak lagi mempermasalahkannya. Kami berada dalam sebuah olahraga yang seringkali melibatkan emosi tinggi dan saya orang yang cukup jantan untuk mengaku ketika hal itu terjadi, kami tetap melanjutkan permainan karena kami sama-sama mencintai olahraga ini,” tulis Sterling.

“Aku dan Joe Gomez baik-baik saja dan kami sama-sama paham kejadian itu hanya terjadi sekitar 5-10 detik. Urusannya sudah selesai, kami sudah tak mempermasalahkan dan tak membesar-besarkannya. Lebih baik kami fokus pada pertandingan di hari Kamis nanti,” tambahnya.

Keputusan yang diambil Southgate sebenarnya merupakan keputusan biasa yang dapat dilakukan pelatih mana pun. Namun, kecepatannya mengambil langkah yang dianggapnya terbaik tak bisa dilakukan oleh setiap pelatih. Di luar itu, hal ini juga bisa menjadi ultimatum bagi pemain lain yang ada di skuad untuk lebih disiplin.

Dengan rerata usia 24,5 tahun, Inggris membutuhkan sosok-sosok yang dapat dijadikan teladan. Pergantian kapten dari Jordan Henderson ke Harry Kane bisa dijadikan contoh. Situasi tim tetap harmonis.

Memang, kala itu Inggris hanya menjadi semifinalis. Akan tetapi, capaian itu menjadi yang pertama sejak Piala Dunia 1990.

Bukan tidak mungkin, keputusan-keputusan kecil yang diambil oleh Southgate—menghukum Sterling dalam kasus terbaru misalnya—bisa membuat timnas Inggris berprestasi di Euro 2022.

Komentar