Valencia Mulai Jadi Ancaman Real Madrid, Barcelona, dan Atletico Madrid

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Valencia Mulai Jadi Ancaman Real Madrid, Barcelona, dan Atletico Madrid

Kemenangan tiga gol tanpa balas yang diraih Valencia atas Leganes di Estadio Mestalla, Sabtu (4/11) memantapkan posisi mereka di peringkat dua dengan 27 poin. Valencia terpaut empat angka dari Barcelona yang saat ini duduk di puncak klasemen sementara La Liga dengan 31 poin.

Impresifnya performa Valencia pada musim ini bisa dibilang menjadi sebuah kejutan. Klub berjuluk Los Che itu memang dianggap sebagai salah satu kesebelasan besar di sepakbola Spanyol, karena berbagai prestasi yang pernah mereka raih di masa lampau. Namun setelah menjuarai La Liga di musim 2003/2004, Valencia malah menunjukkan penurunan performa pada setiap musimnya.

Menuju musim 2017/2018 pun Valencia tidak terlalu diunggulkan bisa menembus papan atas pada akhir musim nanti. Maklum, pada dua musim sebelumnya, Los Che mengakhiri kompetisi dengan menempati posisi papan tengah, tepatnya mereka finis di urutan 12. Bukan posisi yang bagus tentunya untuk sebuah kesebelasan besar, hingga status sebagai tim medioker pun mulai disandang Valencia karena hal tersebut.

Setidaknya prediksi yang menyebut Valencia bakal gagal menembus papan atas La Liga tampak menjadi kenyataan hingga pekan keempat La Liga. Setelah meraih kemenangan tipis 1-0 atas Las Palmas, Valencia harus meraih tiga hasil imbang secara beruntun yang membuat mereka harus puas menempati posisi tujuh di tabel klasemen pekan ke-4.

Meski begitu, hasil imbang tersebut cukup berharga lantaran dua dari tiga kesebelasan yang bermain imbang dengan Valencia itu adalah Real Madrid (2-2) dan Atletico Madrid (0-0), dua tim asal Madrid yang di gadang-gadang menjadi kandidat kuat juara musim ini. Real Madrid bahkan berstatus sebagai juara bertahan La Liga dan Liga Champions.

Tampaknya keberhasilan Valencia menahan imbang Madrid di Santiago Bernabeu dan Atleti di Mestalla bisa dibilang sebagai penanda awal bahaya bagi Madrid, Atleti, dan Barcelona untuk lebih waspada karena Kelelawar sudah mulai bangkit dari tidurnya. Karena setelah itu, Valencia melaju tak terhentikan.

Kebangkitan Valencia semakin terasa di pekan kelima hingga saat ini, di pekan ke-11. Santi Mina dan kawan-kawan berhasil melalui delapan pertandingan dengan poin sempurna. Delapan kemenangan beruntun itu mampu mengatrol posisi Valencia dari papan tengah ke posisi dua. Posisi Los Che saat ini bahkan berada di atas Atleti (posisi tiga) dan Madrid (posisi empat).

Sementara dengan Barcelona, mereka hanya terpaut empat angka saja. Mengingat bahwa kompetisi masih panjang, dan performa Valencia juga sejauh ini cukup gemilang, asal konsisten bukan tidak mungkin mereka menyalip posisi Barcelona.

Kans sangat terbuka, karena bersama Atleti dan Barcelona, Valencia masuk dalam jajaran tiga kesebelasan di La Liga musim ini yang belum mengalami kekalahan hingga kompetisi memasuki pekan ke-11. Seandainya Valencia bisa mempertahankan performa positifnya, maka kandidat kuat juara La Liga pada musim ini bertambah, menyusul telah bangkitnya Valencia dari tidur panjangnya.

Peter Lim yang Mulai Sadar Pentingnya Kehadiran Pelatih Berkualitas

Ada banyak faktor yang memengaruhi kebangkitan Valencia saat ini, salah satunya adalah penunjukan Marcelino Garcia Toral sebagai juru taktik. Bisa dibilang setelah kepergian Antonio Pizzi, pemilihan pelatih yang dilakukan Valencia terbilang sembrono. Gary Neville yang terbilang masih minim pengalaman pernah mereka rekrut dan hasilnya Valencia terbenam.

Setelah kepergian Pizzi pada awal musim 2014/2015, atau lebih tepatnya saat kepemilikan klub mulai diambil alih Peter Lim, melalui perusahaannya bernama Meriton Holding, ada enam pelatih yang menangani Valencia (termasuk Neville dan Voro). Dari lima nama tersebut, hanya Cesare Prandelli yang terbilang sebagai pelatih dengan status top.

Namun Prandelli akhirnya mundur karena keinginannya merekrut banyak pemain di bursa transfer musim dingin 2017 lalu tidak mendapat persetujuan pemilik klub. Prandelli akhirnya memilih mundur dan digantikan Voro.

Menuju musim 2016/2017, Toral pun akhirnya setuju untuk berlabuh di Valencia, ia merupakan salah satu pelatih dengan nama besar di sepakbola Spanyol. Ia merupakan pelatih berpengalaman karena pernah melatih di banyak klub Spanyol seperti Sevilla, Racing Santander, serta Real Zaragoza.

Selain itu, dua kali Toral pernah diganjar penghargaan sebagai pelatih terbaik versi Marca. Tak hanya itu, pada medio September 2013 dan September 2015, ia pernah menjadi manajer terbaik bulanan La Liga.

Pengalaman dan kemampuan Toral bisa dibilang sebagai salah satu faktor penting yang membuat Valencia bangkit. Toral jeli dalam memilih pemain baru yang menjadi rekrutannya di jendela transfer musim panas lalu.

Beberapa pemain anyar seperti Carlos Soler, Geoffrey Kondogbia, Jeison Murillo, Goncalo Guedes, dan Toni Lato mampu beradaptasi dengan cepat, hasilnya sejak awal musim mereka bisa langsung nyetel dengan permainan yang diinginkan Toral.

Toral Membuat Valencia Jauh Lebih Produktif

Selain kejelian Toral dalam memilih pemain di bursa transfer musim panas lalu, Toral juga mampu mengubah gaya permainan Valencia jadi lebih agresif dengan pola permainan sayap sebagai poros serangan, yang dikombinasikan dengan umpan-umpan pendek.

Gaya permainan tersebut berhasil mendulang banyak gol bagi Los Che. Dalam delapan pertandingan terakhir, minimal ada dua gol yang diciptakan Valencia di setiap pertandingannya.

Hal tersebut membuat Valencia tercatat sebagai kesebelasan paling produktif di La Liga, bersama dengan Barcelona. Total sudah ada 30 gol yang berhasil dicetak barisan penyerang Valencia, perolehan tersebut sama dengan jumlah gol yang dicetak Barcelona.

Melihat catatan tersebut, barisan penyerang Barcelona tentu tak kalah moncer dengan duet Lionel Messi dan Luis Suarez di Barcelona. Bahkan, mereka mampu mengalahkan produktivitas Real Madrid (19 gol) dan Atletico Madrid (16 gol) yang terkenal punya pola penyerangan yang juga agresif.

Melihat sangat produktifnya Valencia, faktor gaya permainan agresif yang diusung Total tentu bukan satu-satunya yang memengaruhi hal tersebut. Penyerang dengan penyelesaian akhir mumpuni menjadi faktor penting lain di lini depan. Dan itu ada dalam diri Simone Zaza dan Rodrigo Machado sebagai dua penyerang yang juga sering berduet sebagai juru gedor utama. Satu nama lain, ada Santi Mina yang kerap turun dari bangku cadangan.

Zaza untuk sementara menjadi pencetak gol terbanyak Valencia dengan sembilan gol, Machado berada di tempat kedua dengan tujuh gol, sementara Mina berada di posisi tiga.

Selain dari barisan depan, sumbangsih gol juga sering diberikan oleh pemain tengah mereka. Goncalo Guedes menjadi pemain tengah paling produktif dengan tiga gol, yang disusul Dani Parejo, Kondogbia (dua gol), Carlos Soler dan Pereira yang masing-masing sudah mengemas satu gol.

Melihat klinisnya barisan depan dan tengah dalam memberikan sumbangsih gol bagi Valencia, tentu ini menjadi faktor krusial yang membuat mereka mampu menjadi salah satu tim produktif di La Liga. Tapi bukan berarti Toral tidak memiliki evaluasi untuk timnya. Fokus utama yang perlu diperbaiki adalah lini pertahanan karena tingkat kebobolan mereka yang cukup tinggi.

Dalam 11 pertandingan yang dilakoni di La Liga, Neto sudah 11 kali memungut bola dari gawangnya. Catatan tersebut membuktikan bahwa rataan kebobolan Valencia per pertandingan adalah satu gol. Sejauh ini, lini pertahanan yang masih perlu pembenahan tersebut mampu tertutupi dengan tajamnya lini depan yang bisa mencetak lebih banyak gol dari tim lawan.

Baca Juga: Perlahan, Kelelawar Hitam Mulai Terbang Tinggi

Baca Juga: Kegagalan dan Penyesalan Membuat Zaza Bersinar Bersama Valencia

Foto: Twitter @Valenciacf, Fourfourtwo,

Komentar