Mengapa Final Piala AFC Kerap Diadakan di Salah Satu Kandang/Negara Finalis?

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Mengapa Final Piala AFC Kerap Diadakan di Salah Satu Kandang/Negara Finalis?

Piala AFC 2017 sudah memasuki babak final. Dua klub dari dua zona wilayah yang berbeda, yakni Istiklol dari Tajikistan dan Air Force Club dari Irak akan saling adu untuk merebut gelar juara Piala AFC 2017. Namun, terlepas dari siapapun yang juara, ada satu hal yang menarik yang terjadi dalam final Piala AFC sejak 2009: final kerap digelar di kandang/negara salah satu finalis.

Untuk perhelatan Piala AFC 2017 ini, terdapat cukup banyak perubahan yang dilakukan oleh AFC. Khusus untuk dan dimulai sejak 2017 ini, ada final zona dan final inter-zone yang mulai diselenggarakan oleh AFC, menghilangkan sistem babak 16 besar dan babak delapan besar yang sudah berjalan selama beberapa tahun ini dalam ajang Piala AFC.

Mengenai sistem final zona dan final inter-zone, Anda bisa baca di sini

Dengan diberlakukannya sistem final zona dan final inter-zone ini, perjalanan tim untuk menuju ke babak final menjadi sedikit lebih menarik. Mereka harus memenangkan final zona dan juga final antar zona agar dapat menjejakkan kaki di partai final. Namun jika ditelisik, sistem final zona dan final inter-zone ini sebenarnya mengakomodir para peserta dari zona Asia Barat, yang memang diberikan keistimewaan tersendiri oleh AFC karena prestasi yang mereka torehkan dalam ajang Piala AFC beberapa tahun ke belakang.

Di tahun 2017 ini, Istiklol diberikan keistimewaan untuk menggelar partai final di negara/kandang mereka sendiri, yaitu di Hisor Central Stadium, Hisor. Namun keistimewaan ini bukan hanya sekali saja didapatkan oleh Istiklol. Pada 2015 silam, mereka juga pernah mendapatkan keistimewaan yang sama, pun juga dengan klub-klub lain yang pernah mencicipi partai final Piala AFC ini.

Partai final di kandang salah satu klub, ditentukan lewat drawing

Pada masa-masa awal digelarnya Piala AFC, yaitu sejak 2004 sampai 2008 silam, partai final Piala AFC kerap diselenggarakan dengan sistem dua leg, serupa dengan partai final Piala AFF dan partai final Liga Champions Asia (sejak 2003 sampai 2008). Alasan diadakannya partai final secara dua leg tersebut, tidak lain adalah untuk menyedot animo penonton untuk datang dan hadir mendukung klub mereka saat berlaga di kandang.

Namun memasuki 2009, ada perubahan yang dilakukan oleh Komite Kompetisi AFC menyoal penyelenggaraan babak final Piala AFC ini. Jika sebelumnya babak final diselenggarakan dalam dua leg, pada perhelatan Piala AFC 2009 babak final diselenggarakan dalam satu single-match yang berlokasi di kandang salah satu tim finalis. Drawing mengenai penentuan venue partai final ini sendiri diadakan setelah hasil dari semifinal didapatkan.

Format ini pun bertahan sampai sekarang, dan khusus untuk 2017 ini, Istiklol mendapatkan sebuah keistimewaan dengan tampil di kandang/negara sendiri, Hisor Central Stadium, Hisor. Tapi, tidak seperti Liga Europa atau Liga Champions Eropa yang laganya kerap dilaksanakan di tempat netral, mengapa laga final Piala AFC (juga Liga Champions Asia) diselenggarakan di kandang salah satu finalis?

Bermuara pada segi ekonomi dan segi geografis

Memang mengadakan partai final di kandang sendiri bisa menjadi keuntungan bagi klub yang mendapatkannya. Namun dalam ajang Piala AFC ini, tak semua tim yang mendapatkan keistimewaan tampil di kandang bisa meraih kemenangan. Lebih jauh, alasan dari Komite Kompetisi AFC mengadakan partai final di salah satu kandang finalis ini adalah karena masalah ekonomi dan masalah geografis dari Asia itu sendiri.

Secara statistik, dari delapan partai final yang sudah diselenggarakan dengan menggunakan format ini (final di kandang salah satu finalis), tim yang mendapatkan keuntungan tampil di kandang pada babak final hanya bisa memenangkan empat dari delapan laga yang dijalani. Tiga sisanya berakhir bagi kemenangan tim yang berstatus sebagai tim tandang, termasuk kemenangan Johor Darul Ta`zim pada 2015 silam (untuk 2012, menjadi pengecualian karena partai final adalah derbi Kuwait antara Al-Kuwait lawan Al-Qadsia).

Jadi, jika bicara soal dominasi, tim yang mendapatkan keistimewaan tampil di partai kandang sebenarnya tidak terlalu mendominasi. Ada alasan lain yang membuat AFC akhirnya memilih untuk menggelar partai kandang di salah satu kandang/negara finalis, dan lewat situs resminya, AFC pernah berujar seperti ini.

"Komite kompetisi AFC melihat jika partai final diselenggarakan di salah satu kandang (atau negara) finalis, partisipasi masyarakat yang datang ke stadion akan lebih banyak, dan citra turnamen akan terangkat," ujar AFC.

Pernyataan itu mereka keluarkan terkait dengan perubahan format laga final Liga Champions Asia yang pada awalnya dihelat di tempat netral menjadi dihelat di salah satu kandang finalis. Dilihat secara relevansi, hal ini juga sama bagi ajang Piala AFC yang rutin menggelar partai final di salah satu kandang/negara dari finalis yang berlaga.

Secara geografis, wilayah Asia sangatlah luas. Tidak seperti Eropa yang antar negaranya bahkan masih bisa terhubung lewat transportasi darat, luasnya wilayah Asia membuat beberapa negara bahkan harus terbang sampai beberapa kali agar bisa mencapai sebuah negara. Luasnya geografi Asia ini berimbas kepada ongkos yang mahal jika kita ingin berkunjung ke satu negara tertentu.

Belum lagi soal ekonomi Asia yang masih belum se-mapan Eropa. Hampir semua negara di Asia masih dalam taraf berkembang, dan itu berpengaruh terhadap kondisi ekonomi negara tersebut. Belum lagi situasi di Asia Barat yang masih penuh dengan konflik dan perang saudara, mengakibatkan beberapa partai Liga Champions Asia ataupun Piala AFC harus berpindah venue.

Atas alasan inilah, Komite Kompetisi AFC akhirnya memutuskan untuk membagi kompetisi berdasarkan wilayah, dengan tujuan utama untuk menghemat ongkos perjalanan agar satu tim tidak harus mengeluarkan banyak ongkos jika akan melakukan perjalanan tandang. Digelarnya partai final di salah satu kandang/negara finalis pun, selain dapat menghemat ongkos, setidaknya dapat menarik antusias warga sekitar untuk datang menonton.

Dengan banyaknya penonton yang hadir di stadion, maka otomatis pendapatan dari hasil penjualan tiket akan bertambah. Hal ini akan berdampak baik bagi ekonomi klub penyelenggara partai final, karena mereka akan mendapatkan pendapatan lebih, selain tentunya match fee yang didapat karena berlaga di partai final.

Sebaran peserta Piala AFC 2017. Sumber: Wikipedia

***

AFC tentu sudah memikirkan masak-masak segala potensi dari luasnya wilayah Asia dalam mengadakan kompetisi antar negara yang mempertemukan negara-negara Asia, baik itu Piala Asia, kualifikasi Piala Dunia zona Asia, Piala AFC, maupun Liga Champions Asia. Faktor ekonomi dan geografis, juga faktor-faktor lain semisal keamanan, sudah masuk dalam pertimbangan AFC dalam penyelenggaraan ajang-ajang tersebut.

Penyelenggaraan partai final di salah satu negara/kandang finalis ini juga adalah salah satu cara dari AFC untuk mengakomodir keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh peserta, sekaligus menggemakan kompetisi level Asia di negara yang bersangkutan. Pada intinya, tujuan akhir dari AFC itu sendiri adalah meningkatkan level sepakbola Asia agar dapat bersaing di kancah sepakbola dunia bersama konfederasi yang lain.

Komentar