Saya Cristiano Ronaldo, dan Ini Kisah Saya

Cerita

by Sandy Firdaus 34260 Pilihan

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Saya Cristiano Ronaldo, dan Ini Kisah Saya

***

Memenangkan sebuah trofi, pada awalnya adalah sebuah hal yang emosional bagi saya. Saat saya memenangkan trofi Liga Champions pertama saya bersama Manchester United, saya merasakan sebuah kebahagiaan yang tidak terkira (wakau saat itu Ronaldo gagal mengeksekusi tendangan penalti dalam babak adu penalti). Begitu juga ketika saya memenangkan trofi Ballon D`Or saya yang pertama. Semua tampak begitu emosional.

Namun ketika saya membela Madrid, terutama dalam masa dua tahun ke belakang, ada rasa yang sedikit berbeda ketika memenangi sebuah trofi. Bukan hanya sekadar melibatkan emosi, memenangkan trofi tampak seperti sebuah kewajiban di sini. Yah, ini risiko pekerjaan, sekaligus risiko saya membela Real Madrid. Tapi ada satu momen di Cardiff yang membuat ingatan saya kembali ke masa kecil saya.

Ketika itu, saya merayakan trofi Liga Champions ke-11 kami, sekaligus memecahkan kutukan trofi Liga Champions yang sudah bertahan selama 10 tahun lebih. Saat saya sedang merayakan kemenangan ini bersama rekan-rekan saya, anak saya, Cristiano Ronaldo Jr., anak saya, masuk ke lapangan dan merayakan kemenangan ini bersama saya.

Sontak hal ini menghadirkan sebuah perasaan yang unik. Perasaan yang sama dengan yang pernah muncul ketika saya berusia tujuh tahun, saat ibu dan kakak saya menonton saya bermain sepakbola di Madeira. Cristiano Jr. berlarian bersama Marcelito, anak dari Marcelo. Setelah itu, kami mengangkat trofi bersama-sama, dan berfoto bersama-sama dengan trofi tersebut.

Cristiano Ronaldo, Cristiano Ronaldo Jr., dan trofi Liga Champions. Sumber: eventnews.tv

Ketika kami kembali ke Bernabeu untuk merayakan kemenangan ini, Cristiano Jr. berlarian di tengah Bernabeu bersama Marcelito dengan riang gembira. Sekilas kenangan kembali muncul, kenangan akan masa kecil saya yang berlarian di jalanan Madeira tanpa rasa takut, saya yang waktu itu berlarian dengan penuh rasa gembira. Saat itu terlontar sedikit harap, bahwa Cristiano Jr. bisa menjalani masa kecilnya dengan bahagia, tanpa harus memikirkan apapun.

Namun saya juga tidak bisa memungkiri bahwa kelak, bisa saja ia akan pergi jauh dari saya, menimba ilmu sepakbola di negara atau kota lain seperti yang saya lakukan dulu. Masa itu pasti akan datang, dan jika itu terjadi, seperti yang orang tua saya lakukan, saya harus ikhlas melepas kepergian anak saya. Karena saya tahu ada mimpi yang sedang anak saya kejar, dan saya harus mendukungnya.

Tapi, perasaan dilindungi dan dicintai, adalah perasaan yang harus saya hadirkan. Seperti halnya ibu dan kakak saya, saya juga harus menghadirkan perasaan ini bagi Cristiano Jr.

***

Setelah 400 laga yang saya jalani bersama Madrid, ada sebuah perasaan yang tidak pernah berubah. Saya kira saya memang dilahirkan untuk menjadi manusia yang penuh dengan ambisi. Namun, setelah memenangkan gelar di Cardiff, saya kira ada sebuah perasaan yang berubah. Ambisi itu kembali berubah bentuk, menjadi sebuab El sueno del nino. Mimpi sederhana seorang anak kecil.

Yap, saya kira kalian paham mimpi anak kecil apa yang saya maksud.

Saya masih ingin memenangkan banyak trofi dalam hidup saya. Saya masih ingin menjadi yang terbaik, dan memecahkan banyak rekor. Tapi saya juga tidak ingin melupakan mimpi anak kecil itu, yaitu bermain sepakbola selama dan semampu yang saya bisa.

Akhirnya, kelak ketika saya berusia 95 tahun, saya akan bercerita kepada cucu saya, bahwa dahulu saya pernah berjalan di stadion-stadion selayak seorang juara, dan juga saya pernah berjalan di sebuah stadion bersama anak saya seperti seorang juara sambil bergandengan tangan. Saya harap saya bisa melakukannya lagi nanti.

Saya, Cristiano Ronaldo, dan inilah kisah saya.

Jika Anda tertarik untuk membaca sumber aslinya dengan bahasa Inggris, Anda bisa membacanya di sini:

Komentar