Keinginan Mulia dari Mereka yang Terpinggirkan

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Keinginan Mulia dari Mereka yang Terpinggirkan

Semua orang, siapapun itu, punya keinginan mulia yang ingin ia wujudkan dan kabulkan. Hal itu tidak terbatas oleh kelas, ras, dan juga masa lalu dari orang tersebut. Begitu pula dengan para pemain-pemain timnas Indonesia Homeless World Cup 2017.

Tercatat ada delapan pemain yang sudah terpilih dari seleksi yang diadakan pada 30 April sampai 3 Mei 2017 silam di Surabaya lewat tajuk League of Change. Delapan pemain tersebut akan menjadi skuat timnas yang berlaga dalam ajang Homeless World Cup 2017 di Oslo, Norwegia. Mereka berasal dari enam provinsi yang berbeda, dan dipertemukan serta ditempa dalam sebuah pemusatan latihan di Bandung yang digelar pada 19 Juli sampai 24 Agustus 2017.

Sekarang, mereka akan segera berangkat ke Norwegia. Tanggal 25 Agustus 2017 menjadi tanggal keberangkatan mereka ke Oslo, melakukan aklimatisasi, sebelum akhirnya berlaga menghadapi 60 negara lain dalam ajang Homeless World Cup 2017. Indonesia sendiri tergabung di grup A bersama Bulgaria, Zimbabwe, Granada, Slovenia, dan Israel.

Seiring dengan keberangkatan mereka ke Oslo, ada beberapa keinginan serta harapan yang sudah mereka sematkan dan ingin mereka kabulkan, baik itu sesudah maupun sebelum HWC 2017 ini dimulai. Kapten timnas HWC, Pinsa Prahadian, menyebut bahwa ia punya satu keinginan, terutama setelah ajang HWC 2017 ini, yaitu menjadi sosok yang bermanfaat bagi masyarakat.

"Untuk harapan, saya gak muluk-muluk. Saya ingin bisa jadi lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya saya juga bisa bermanfaat untuk masyarakat sesudah ajang ini (Homeless World Cup 2017)," ujar Pinsa.

Selain Pinsa, ada satu pemain yang juga punya keinginan mulia yang ia sematkan dan ingin ia wujudkan. Ia adalah Rinaldi Zainal, anggota timnas Indonesia HWC 2017, yang juga pernah menjadi pemain profesional bersama Persikab. Rinaldi punya keinginan mulai tersendiri yang ingin ia wujudkan, bersamaan dengan terpilihnya dia sebagai pemain timnas Indonesia HWC 2017.

***

Di bawah teriknya siang toko perlengkapan outdoor Eiger, Selasa (22/8/2017) tersebut, Inal, sapaan akrab Rinaldi, sedikit bercerita perihal bagaimana ia yang awalnya seorang atlet profesional menjadi bagian dari timnas HWC. Ia tidak menampik bahwa ia pernah di Persikab, bermain di sana, sebelum akhirnya memutar haluan menjadi bagian dari skuat HWC 2017.

"Dulu saya pecandu juga, saya pernah make dulu, dari pas liga profesional di Persikab saya pake bareng-bareng sama temen saya. Dan akhirnya saya mengenal sebuah wadah namanya Rumah Cemara, terus kenal sama Om Ginan juga, ngobrol-ngobrol di sini, dari situ pertamanya saya dari pemakai, kenal Rumah Cemara, terus berkesempatan buat main di HWC ya tahun sekarang," kenang Inal, yang siang itu berbalutkan polo berwarna merah, dengan namanya terpatri di belakang baju polo tersebut.

Inal (berdiri, tiga dari kiri atas di sebelah Pinsa), menjadi bagian dari skuat timnas Indonesia di ajang HWC 2017

Akhirnya, setelah mengenal Rumah Cemara, Inal pun merasa bahwa ia punya keinginan lain yang bisa ia kejar. Tapi sebelumnya, ia juga menyebutkan perjuangannya untuk masuk ke dalam timnas HWC 2017 ini. Terhitung sejak 2014, ia rutin mengikuti seleksi untuk timnas HWC, namun tak kunjung mendapatkan kesempatan. Baru pada 2017 ini, ia dapat kesempatan untuk membela timnas Indonesia di ajang HWC 2017.

"Emang dari pertama saya masuk liga pro buat sepakbola di tim Persikab saya bercita-cita pengen masuk timnas sepakbola Indonesia yang mayoritas pemain-pemain profesional. Cuma pas ada kesempatan buat mengikuti seleksi (tim HWC) dari tahun 2014, saya ikut seleksi tim HWC ini, cuman alhamdulillah ya rezekinya tahun sekarang (2017). Jadi udah hampir dua sampai tiga tahun saya ikut seleksi buat tim HWC ini," kenang Inal.

Sekarang, setelah resmi menjadi bagian dari skuat timnas Indonesia di ajang HWC 2017, Inal pun memiliki keinginan yang cukup mulia, walau sebenarnya bisa dibilang keinginan ini cukup sederhana. Ia hanya ingin membela negara. Terlepas ia belum bisa membela negara lewat timnas futsal maupun timnas sepakbola, setidaknya lewat timnas HWC ia merasa bahwa ia juga bisa membela negara yang ia cintai, yaitu Indonesia.

"Perasaan saya terpilih menjadi anggota timnas HWC 2017 ini, saya sangat senang sekali, saya bangga. Ini bukan masalah ke luar negerinya, bukan masalah kita berangkat ke Norwegia, jalan-jalan, bukan. Tapi bagaimana caranya bisa mengharumkan nama bangsa. Mungkin jika saya belum bisa membela timnas futsal ataupun timnas sepakbola Indonesia, saya sama-sama bisa membawa nama bangsa dan negara ini lewat timnas HWC, kenapa enggak," ungkapnya dengan penuh semangat.

"Cita-cita saya, pertamanya saya ingin membela timnas Indonesia. Meskipun tim ini latar belakangnya berbeda, seenggaknya saya bisa membawa nama bangsa saya sendiri," tambahnya.

***

Di akhir obrolan, Inal pun sedikit menyelipkan keinginan lain selain membawa nama Indonesia di kancah internasional. Keinginan yang juga menjadi keinginan mungkin dari hampir seluruh anggota timnas HWC 2017. Ia menyebut bahwa ia ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi, dengan menjadikan ajang HWC 2017 sebagai batu pijakan memulai hidup yang baru.

Malah, jika ada kesempatan, ia ingin kembali menjadi pesepakbola profesional, seperti masa-masanya ketika di Persikab dulu. Sebuah keinginan mulia nan sederhana dari orang-orang yang kerap dianggap terpinggirkan dan termarjinalkan.

"Harapan saya buat di Norway bukan masalah juaranya, cuman gimana saya bisa mengubah cara hidup saya dari baik jadi lebih baik lagi. Kalau buat sesudah ajang Homeless (World Cup) ini, saya bercita-cita pengen masuk lagi liga profesional. Jadi pemain profesional lagi," ujar Inal.

Tetap semangat, Inal, dan semoga kau bisa mewujudkan keinginan mulia nan sederhana yang sudah kau sematkan itu.

Komentar