Daniele De Rossi, Calon Raja Roma yang Baru

Cerita

by Abelio Pramayoga

Abelio Pramayoga

True football fans and an introvert writer. #RESPECT

Daniele De Rossi, Calon Raja Roma yang Baru

AS Roma memiliki seorang pemain yang ikonik. Siapa lagi kalau bukan Francesco Totti. Pemain berusia 40 tahun itu mendedikasikan seumur hidupnya hanya bermain unutk Giallorossi sejak 1993. Bulan Mei kemarin, Totti akhirnya resmi gantung sepatu setelah mencatatkan 786 penampilan dan mencetak lebih dari 300 gol.

Lantas, siapa yang akan menggantikan posisinya? Fans Roma tak perlu khawatir karena penggantinya pun juga menunjukkan loyalitasnya bermain untuk Roma. Pemain ini memang ditakdirkan akan bersinar bersama Roma bahkan berpeluang mengikuti jejak Totti.

Musim ini, Daniele De Rossi ditunjuk sebagai kapten baru untuk AS Roma. Sebelumnya, ia membawahi Totti sebagai wakil kapten. Dikenal karena dedikasi dan kepemimpinannya di lini tengah, De Rossi tumbuh menjadi jenderal lapangan tangguh bagi AS Roma.

Juara Dunia dan Menjadi Andalan Roma

De Rossi mengawali kariernya bersama Ostia Mora, kesebelasan yang kini merumput di Serie D. Klub itu sempat dibiayai AS Roma dalam perjalanannya di era 90-an untuk menjaring bakat muda dari Roma.

Saat itu, De Rossi bermain sebagai striker. Setahun kemudian, ia direkrut AS Roma dan menjalani debutnya di Liga Champions pada 2001. Musim berikutnya, ia debut di Serie A dan mencetak gol pertamanya di kompetisi tersebut. Bersama Roma, ia perlahan mulai sering dimainkan sebagai gelandang; posisi yang membesarkan namanya. Penampilannya yang semakin menanjak membuatnya mulai dipercaya menjadi starter untuk Roma.

Ia disebut sebagai pemain muda menjanjikan setelah membantu AS Roma finis sebagai runner-up Serie A musim 2003/04 dan dua Piala Italia berturut-turut pada 2005 dan 2006. Kematangan dan keuletannya di lapangan membuat ia dipercaya sebagai kapten untuk pertama kalinya di laga Piala UEFA melawan Middlesbrough.

Meski demikian, De Rossi juga dikenal sebagai pemain yang tak segan memberikan tekel keras kepada lawannya. Karakter permainannya inilah yang membuatnya menjadi sosok yang ditakuti di lini tengah. Hanya saja, ia harus berhati-hati agar tipe permainannya ini tak merugikan diri sendiri dan tim.

Penampilan apiknya bersama Roma membuatnya dipanggil untuk memperkuat timnas Italia di Piala Dunia 2006. Ia menjadi pemain termuda yang dibawa Marcello Lippi ke Jerman. Ia langsung dimainkan sejak awal di laga pembuka melawan Ghana.

Di laga kedua melawan Amerika Serikat, ia kembali bermain namun ia harus diusir wasit karena menyikut Brian McBride di wajahnya. Dilansir BBC, De Rossi disebut mempermalukan dirinya sendiri dengan melakukan pelanggaran tersebut. De Rossi kemudian meminta maaf langsung kepada McBride setelah pelanggaran tersebut.

"Saya meminta maaf kepada diri sendiri, tim, dan penggemar. Saya tak berniat menyakitinya (McBride). Saya juga sudah berbicara dengannya dan saya berharap itu tak terlalu keras. Saya merasa buruk karenanya lalu saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya dan dia sangat baik," ujar De Rossi dikutip Sportsnet.

Karena pelanggaran tersebut, ia harus dihukum tak bermain di empat pertandingan dan mendapat denda delapan ribu dolar. FIFA awalnya berencana menghukumnya lima pertandingan namun permintaan maaf terbuka De Rossi kepada McBride menjadi pertimbangan FIFA mengurangi hukumannya.

Dihukum empat pertandingan membuat De Rossi melewatkan pertandingan Italia hingga babak final. Nyatanya, Italia berhasil melaju hingga final dan De Rossi bisa kembali bermain. Kesempatan ini pun tak disia-siakan dan ia sukses membawa Gli Azzurri menjadi juara dunia. Ia menjadi salah satu eksekutor penalti Italia dalam drama adu penalti melawan Prancis.

Kariernya pun meningkat pesat dan terus menjadi andalan utama bersama AS Roma di musim berikutnya. Ia berhasil membawa Roma mengalahkan Inter pada Piala Italia 2007. Ia kembali menjadi pemain kunci kesuksesan Roma dalam mempertahankan gelar tersebut di musim berikutnya melawan tim yang sama.

Tahun 2009, De Rossi terpilih sebagai pesepakbola Italia terbaik tahun itu berkat kontribusinya bersama AS Roma. Musim 2009/10, klubnya nyaris meraih dua gelar domestik namun lagi-lagi kalah oleh Inter Milan. Roma kalah terpaut dua poin dari Inter pada klasemen Serie A dan kalah 0-1 di Piala Italia. Bisa dibilang ini menjadi salah satu musim tersukses De Rossi bersama I Lupi.

Hasilnya, ia kembali memperkuat timnas Italia untuk Piala Dunia 2010. Ia mencetak gol penyama kedudukan di laga perdana melawan Paraguay. Sayang, kiprah Italia di turnamen ini berakhir buruk dengan tidak meraih satupun kemenangan. Kiprah De Rossi bersama Roma di musim 2010/11 juga tak terlalu baik setelah Roma hanya finis di posisi ke-6 Serie A dan tersingkir oleh Inter di semifinal Piala Italia.

Posisi De Rossi sempat goyah saat Zdenek Zeman mengambil alih kursi kepelatihan Roma. Zeman menilai karakter De Rossi yang keras dapat merugikan tim meski ia juga menambahkan De Rossi tetap pemain yang krusial bagi tim. Karena hal ini, De Rossi jarang mendapat menit bermain yang cukup. Namun, setelah Zeman didepak pada Februari 2013 dan diganti asistennya, Aurelio Andreazzoli, De Rossi mulai kembali bermain reguler.

Kehadiran Rudi Garcia pada musim berikutnya membuat karier De Rossi kembali diuji. De Rossi menilai Garcia merusak gaya permainannya yang lebih cenderung menyerang dari sayap. Ini berdampak pada penampilan De Rossi yang kembali menurun dimana ia mencatatkan 40 penampilan di Liga dalam dua musim. Meski demikian, tahun 2015, De Rossi berhasil mencapai penampilan ke-500nya bersama AS Roma di semua kompetisi.


Baca juga: Kesenjangan Francesco Totti yang Bisa Dikejar Daniele De Rossi


Beruntung, De Rossi masih dapat menampilkan permainan terbaiknya ketika Luciano Spalletti datang menggantikan Garcia awal tahun lalu. Spalletti adalah sosok sentral yang meningkatkan kualitas De Rossi dan menjaganya dalam performa terbaik. Andai Spalletti tak datang lebih awal, mungkin De Rossi takkan dipercaya Antonio Conte memperkuat timnas Italia di Piala Eropa 2016.

Nahas, usai membawa Italia menang 2-0 atas Spanyol di 16 besar, ia kembali dihantam cedera ringan. Ia harus melewatkan laga perempat-final melawan Jerman dimana Gli Azzurri takluk 6-5 dalam adu penalti. Banyak pihak menilai De Rossi seharusnya dimainkan saat adu penalti meskipun ia belum pulih. Ia juga dituduh tak mau dimainkan pada saat itu. Hal ini dibantah keras oleh De Rossi yang mengatakan mereka suka menyebar rumor palsu mengenai dirinya.

"Apakah saya tipe orang yang tak mau mengambil penalti? Kami tetap senang hari ini. Anda selalu bisa berbahagia dimana pun, tidak hanya saat Anda tersingkir dari Euro atau jika hasilnya berbeda (melawan Jerman). Conte tidak meminta saya [bermain], saya bahkan tidak pemanasan saat itu," tegas De Rossi dilansir Football Italia.

***

Kini, di ulang tahunnya yang ke-34, inilah kesempatannya untuk menunjukkan sinarnya sebagai raja baru Roma setelah Totti memutuskan pensiun. De Rossi telah memperpanjang kontraknya selama dua tahun dan artinya ia masih berkesempatan mengejar rekor penampilan Totti meski paling tidak ia harus bermain sekitar empat atau lima tahun lagi.

De Rossi awalnya juga sempat tak yakin bisa terus bermain untuk Roma meski ia menegaskan terlalu dini membicarakan akhir kariernya bersama Roma.

"Saya tak tahu untuk itu (pensiun), dan sejujurnya saya pikir itu tak penting. Saya sudah sangat mencintai klub ini dan jika harus membicarakan mengenai kemungkinan pensiun setahun atau dua tahun lagi itu salah," tandas De Rossi dikutip ESPN FC.

Apa yang dikatakan De Rossi ada benarnya. Selama ia masih sanggup bermain dan berkontribusi untuk AS Roma, ia siap dipanggil kapanpun dibutuhkan bahkan jika itu melukai dirinya.

Kini, De Rossi mungkin bukan lagi berstatus kapten masa depan (capitan futuro) AS Roma. Tapi, De Rossi setidaknya sudah siap untuk mengemban tugas sebagai kapten baru AS Roma selama dua musim ke depan. Buon complleano, De Rossi!

Komentar