Mengenang Nielsen, Mengenang Denmark pada 1992

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Mengenang Nielsen, Mengenang Denmark pada 1992

Apa yang dilakukan oleh Richard Moller Nielsen, pelatih yang sukses mengantarkan timnas Denmark menjuarai Piala Eropa 1992, adalah buah dari kerja keras dan ikatan yang kuat dalam sebuah tim. Walau begitu, jasa Nielsen ini terhitung terlambat untuk diingat.

Untuk menjadi sosok yang diingat oleh banyak orang, maka kita harus menjadi sosok yang mampu melakukan sesuatu yang luar biasa bagi banyak orang. Namun terkadang, jasa dari seseorang tidak diingat oleh orang banyak ketika ia masih hidup. Jasanya malah baru diingat ketika ia sudah meninggal dunia, dan ada orang lain yang baik hati yang berusaha membuat orang lain mengingat jasa dari seseorang tersebut, sebagai usaha dari memelihara dan menjaga ingatan yang mungkin terlupakan.

Cukup banyak jasa orang yang baru diingat oleh orang banyak ketika ia malah sudah jauh meninggal dunia. Sebuah kisah dari Denmark tentang seorang pelatih bernama Richard Moller Nielsen, adalah salah satunya. Kisah Nielsen ini harus diingat sebagai buah dari kerja keras dan kebersamaan yang harus menjadi inti dari keselarasan sebuah tim.

**

Sebelum dilatih oleh Nielsen, timnas Denmark dilatih oleh sosok dari Jerman bernama Sepp Piontek. Piontek adalah sosok pelatih legendaris yang memimpin tim Denmark penuh talenta pada Piala Dunia 1986. Piontek memutuskan untuk mengundurkan diri pada 1990, sehingga menyisakan posisi kosong di kursi pelatih timnas Denmark. Nielsen, yang menjadi asisten pelatih Piontek pada Piala Dunia 1986, berharap dapat mengisi posisi tersebut. Tapi pihak DBU (federasi sepakbola Denmark) meragukan kapasitas dari Nielsen.

Dalam buku Europamestrene yang ditulis oleh Flemming Toft, dijabarkan bahwa DBU tidak punya rencana sama sekali untuk mengangkat Nielsen menjadi pelatih timnas. Mereka lebih menginginkan sosok Horst Wohlers, pelatih Bayer Uerdingen, untuk menggantikan posisi Piontek.

"Nenekku dapat mencatatkan hasil yang lebih baik daripada Richard Moller (Nielsen)," ujar Hans Bjerg-Pedersen, Presiden DBU kala itu.

Selain diragukan oleh DBU, Moller Nielsen pun diragukan oleh para pemain timnas Denmark yang kala itu sedang bertaburan talenta-talenta hebat. Jan Molby, yang kala itu menjadi bintang di Liverpool menyebut bahwa posisi Nielsen yang sebelumnya hanya asisten Piontek membuat ia sulit mendapatkan rasa hormat dari para pemain. Apalagi ia juga bukan pribadi yang bisa bicara empat mata dengan para pemain.

Meski pada akhirnya ia berhasil menjadi pelatih timnas Denmark (ini disebabkan calon-calon lain menolak tawaran DBU), keraguan ini membuat ia sulit menangani timnas Denmark. Ia lebih banyak bersinggungan pendapat dengan para pemain, seperti dengan Laudrup bersaudara (Brian dan Michael), Jan Molby, Preben Elkjaer, serta Peter Schmeichel.

Kegagalan Nielsen beradaptasi dengan cepat dengan Denmark tak lepas dari kepercayaan yang ia pegang. Tinggal di Denmark, membuat Nielsen paham betul dengan budaya sepakbola di Denmark saat itu. Liganya yang belum bisa disebut profesional, serta kurangnya talenta-talenta hebat membuat negara ini sulit bersaing di kancah internasional bersama dengan negara lain, baik itu di tingkat Eropa maupun dunia.

Dengan segala kesulitan yang dihadapi Denmark kala itu di bidang sepakbola, hal ini pun membuat para warganya tidak memiliki mimpi yang kelewat besar. Mereka bangga dengan kekerdilan mereka, sehingga ketika mereka melihat penampilan timnas Denmark yang begitu menghibur walaupun kalah dalam Piala Dunia 1986, mereka bahagia. Mereka bahagia dengan rasa malu yang mereka derita dalam ajang tersebut (dihancurkan Spanyol 5-1). Mereka juga bangga mendapat sematan best losers in the world.

Hal inilah yang ditentang oleh Nielsen. Nielsen berpendapat bahwa Denmark bisa berprestasi dengan baik di kancah dunia, tapi mereka harus bekerja keras dan melepaskan diri dari kekangan pemikiran masyarakatnya yang kerap merasa kerdil di mata dunia. Ia yakin bahwa dengan etos kerja yang baik, Denmark bisa berbicara di turnamen internasional walau tidak memiliki talenta hebat di negaranya.

Ketika diangkat menjadi pelatih timnas, ia pun langsung mempraktekkan pemikirannya ini. Gaya permainan Denmark yang sebelumnya begitu penuh kebebasan di bawah Piontek, ia ubah menjadi sedikit lebih keras dan penuh dengan kerja defensif. Walau hal ini sempat membuatnya berselisih dengan para pemain bintang timnas Denmark, ia tak peduli.

Dengan sedikit pertolongan dari tangan tak terlihat, Denmark pun tampil di putaran final Piala Eropa 1992 di Swedia, setelah Yugoslavia mengundurkan diri akibat perang saudara yang berkecamuk di negeri mereka. Dengan persiapan yang bisa dibilang mepet, Nielsen justru berhasil menyiapkan tim untuk Piala Eropa 1992 dengan baik, dengan berpusat pada Brian Laudrup serta Peter Schmeichel.

Walau tak diperkuat generasi emasnya di Piala Dunia 1986, Denmark justru meraih titel juara Eropa 1992 usai mengandaskan perlawanan Jerman di babak final dengan skor 2-0. Berkat etos kerja yang baik, serta kemauan Nielsen untuk berubah (ia menjadi sosok yang lebih hangat seiring dengan berjalannya Piala Eropa 1992), Denmark akhirnya bisa meraih gelar juara Eropa.

Gelar ini pun menjadi gelar pertama dan terakhir (sampai saat ini) dari tim yang sampai sekarang masih menyandang nama sebagai tim Dinamit ini di kancah Eropa. Nielsen, dengan mimpinya dan juga semangatnya yang tak pernah merasa inferior dari negara lain, berhasil membawa Denmark menjuarai Eropa.

**

Apa yang dilakukan Nielsen ini tak serta merta mendapatkan pengakuan dari masyarakat Denmark. Selain kegagalannya menyabet gelar sebagai Pelatih Terbaik Denmark pada 1992 silam, masyarakat Denmark pada saat itu justru lebih senang membicarakan kiprah Denmark yang begitu menghibur, tapi gagal, pada medio 80an kala dilatih Piontek.

Kesadaran mereka akan jasa Nielsen ini justru baru terbentuk pada 2015 silam, saat film berjudul The Summer of `92 (bahasa Denmarknya, Sommeren `92) diputar secara serentak di Denmark. Kegigihannya dalam merawat mimpi, kepercayaannya bahwa Denmark tidaklah inferior di mata dunia, ditambah dengan etos kerja keras yang ia terapkan di dalam tim membuatnya menjadi sosok yang tercatat di dalam tinta sejarah.

Richard Moller Nielsen, sosok yang membuat musim panas 1992 di Denmark menjadi lebih berwarna dengan segala kerja kerasnya bagi timnas yang begitu ia cintai, yaitu Tim Nasional Denmark.

foto: @zesty_arsenal

Komentar