Perlakuan Tidak Adil Persebaya kepada Rachmat Afandi

Cerita

by redaksi 46604

Perlakuan Tidak Adil Persebaya kepada Rachmat Afandi

Per tanggal 25 April 2017, Persebaya Surabaya memutuskan tidak lagi menggunakan jasa Rachmat Afandi. Saat itu, masalah medis menjadi alasan manajamen kesebelasan berjuluk “Bajul Ijo” untuk menghentikan kerja sama dengan striker berusia 33 tahun itu. Dari rilis yang disebar oleh pihak media Persebaya beberapa waktu lalu, pemain yang akrab disapa Fandi itu mengalami robek di bagian meniscus lutut kirinya, yang membutuhkan waktu selama enam bulan pemulihan. Dalam rilis tersebut, juga disebutkan kalau keterangan medis soal cedera Fandi didapat dari hasil tes Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Karena proses pemulihan yang dianggap terlalu lama, kubu Persebaya akhirnya mengeluarkan keputusan dengan mendepak Fandi. Namun, pemecatan tersebut diakuinya sebagai keputusan sepihak. Saat dihubungi Pandit Football melalui sambungan telepon pada Rabu (10/5), mantan penyerang Persib Bandung itu mengaku tidak pernah menandatangani surat pemecatan dari manajemen Persebaya, lantaran masih mempertanyakan kompensasi dan penggantian uang pengobatan dari pihak kesebelasan.

Pemain yang juga pernah menjadi bagian dari Persija Jakarta itu menjelaskan, kali pertama mendapat cedera pada tanggal 27 Maret. Saat itu, cedera didapat saat latihan bersama tim yang melakukan latihan pengganti uji coba yang batal terlaksana. Sebelum uji coba, Fandi juga sudah melakukan terpisah, dan dipastikan tidak turun dalam laga uji coba tersebut.

Setelahnya, tim melakukan latihan, dan dari sana Fandi mulai merasakan ngilu di bagian lututnya, yang keesokan harinya membengkak. Fandi mengaku, saat mengalami cedera, ia merasa ditelantarkan oleh pihak Persebaya. Dikatakan, saat itu ia bahkan sampai mencari terapis sendiri, juga dengan biaya sendiri.

Persebaya seolah lepas tangan

“Saya cari terapis sendiri dan itu pakai dana sendiri. Akhirnya, saya hubungi beberapa teman dan hubungi juga dokter yang pernah di Persija, Dr. Nanang namanya. Saya temui dia di Jakarta, tapi saya izin ke manajernya. Saya tanya masalah biayanya, dan mereka bilang nanti diganti,” terang Fandi.

“Saya akhirnya ketemu dengan Dr. Nanang, setelah itu saya balik lagi ke Surabaya. Tapi masih, saya tidak diurus. Akhirnya mereka suruh MRI, lima hari setelah MRI juga dibiarkan. Akhirnya, saya pinjam hasil MRI lalu saya foto, saya bawa ke dokter ortopedi masih dengan biaya sendiri. Setelah itu, mereka panggil saya, dan bilang kalau saya harus dioperasi, lalu butuh waktu enam bulan penyembuhan segala macam, dan putus kontrak saya,” sambung pemain berusia 33 tahun tersebut.

Ia mengaku, saat itu menerima keputusan manajemen untuk tidak lagi menggunakan jasanya. Namun, kala itu ia juga memberi tahu manajemen Persebaya kalau ia sudah berkonsultasi dengan dokter ortopedi, dari hasil konsultasinya itu didapat kabar bahwa ia tidak perlu menjalani operasi, cukup hanya terapi selama tiga sampai empat minggu. Namun, manajemen Persebaya tak bergeming dari keputusan tidak menggunakan jasa Fandi lagi.

“Waktu itu, saya juga bilang kalau memang itu keputusannya saya terima. Tapi saya mempertanyakan kompensasi dan biaya berobat, yang kemarin dan selanjutnya. Tapi, mereka bilang `tidak bisa`, saya bilang, `kan saya masih pemain Persebaya`. Besoknya saya tanya lagi soal operasi dan biayanya seperti apa dan bagaimana kompensasi itu,” terangnya.

“Tapi, manajemen bilang kita berjalan sesuai kontrak. Kalau sudah tidak ada kontrak, ya sudah. Saya pikir itu tidak pantas jawaban seperti itu. Saya juga belum tanda tangan pemutusan kontrak, karena saya juga belum tahu bagaimana kejelasan soal biaya berobat dan kompensasi yang harusnya saya terima,” lanjut Fandi.

Setelah tanggal 25 April ia diputus kontrak, satu hari kemudian Fandi kemudian meminta kejelasan manajemen soal penggantian biaya pengobatan dan kompensasi pemutus kontraknya. Namun, ia tidak mendapat jawaban yang sesuai dengan keinginannya. Setelahnya, pada 27 April, Fandi mendatangi kantor pengacara untuk membantu menyelesaikan masalahnya itu. Satu hari kemudian, ia menandatangani surat kuasa, dan memberikan mandat kepada pengacaranya untuk menuntaskan masalah yang ia hadapi.

“Setelah itu, pengacara saya kirim surat somasi kepada pihak Persebaya, per tanggal 4 mereka terima surat somasi dan tanggal 5 mereka hubungi saya. Mereka tanya, kenapa harus begini segala (somasi). Saya bilang, di kontrak ada pasal kalau ada sengketa diselesaikan dengan musyawarah. Saya, sudah musyawarah. Malah saya bilang, `saya punya keluarga. Kalau hanya dikasih gaji bulan ini, untuk keluarga makan gimana, berobat gimana, kemarin gimana, yang akan datang gimana?` Masa saya dibuang begitu saja,” katanya.

Kemudian, setelah itu pihak Persebaya pun menanyakan keinginannya. Namun, karena pada saat itu ia sudah menunjuk pengacara untuk mendampinginya, maka masalah tuntutan diserahkan sepenuhnya kepada pengacaranya. Ia mengungkapkan, sebelum mendatangi pengacara, Fandi juga sempat berkonsultasi di EXCO PSSI dan Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI). “Mereka juga waktu itu bilang seharusnya pihak klub tidak seperti itu, membuang pemain seenaknya karena cedera,” tegasnya.

Fandi menerangkan, dalam kontrak yang ia tanda tangani ketika memilih bergabung bersama Persebaya, ada salah satu pasal yang mengatakan kalau ada kompensasi yang diterima pemain ketika kesebelasan memutus kontraknya di tengah jalan. Selain itu, ada juga asuransi yang diterima bila pemain mengalami cedera. “Tapi, kenyataannya kan saya ngurus sendiri, biaya sendiri. Jangankan itu (kompensasi dan asuransi), tanya kabar saya saja tidak pernah,” terangnya.

Terkait kelanjutan kasusnya itu, Fandi mengaku kalau ia baru saja mendapat kabar dari pengacaranya, kalau pihak Persebaya bersedia melakukan pertemuan dengan pihaknya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut secara baik-baik. “Tadi memang saya dikabari, kalau Persebaya kirim surat ke pengacara saya, untuk mengadakan pertemuan. Tapi, saya belum dikabari lagi kelanjutannya seperti apa,” ungkapnya.

Mempertanyakan vonis enam bulan pemulihan

Bukan hanya soal kompensasi dan penggantian biaya pengobatan, Fandi juga merasa dirugikan dengan pemberitaan soal vonis enam bulan masa pemulihan cedera yang ia dapat. Menurutnya, vonis tersebut tidak mendasar karena pernyataan dikeluarkan oleh dokter umum, bukan dokter ortopedi yang ahli dalam mengurusi cedera yang Fandi alami.

"Mereka malah keluarin berita saya cedera enam bulan, harus operasi," curhatnya kepada kami. "Mereka punya media, gampang bikin berita sepihak."

“Setelah MRI, saya tidak pernah dibawa ke dokter ortopedi yang khusus menangani cedera saya ini. Saya mempertanyakan, keputusan tersebut dari mana. Akhirnya, saya penasaran dan mencoba konsultasi lagi ke dokter ortopedi, ada dua dokter dan Professor Indra dari Universitas Esa Unggul yang saya ajak konsultasi.”

“Mereka bilang, kalau meniskes itu bila di operasi hanya butuh waktu 3 bulan pemulihan, itu pun sudah bisa beraktivitas lagi di lapangan. Kalau yang enam bulan itu kalau saya kena cedera ACL, dan itu beda kasus,” tegasnya.

Fandi melanjutkan, bahwa setelah melakukan konsultasi didapat cederanya itu tidak membutuhkan waktu lama untuk pemulihan. Saat ini, Fandi akan melakukan pengecekan ke rumah sakit untuk mendapat surat keterangan, sebagai penguat rekam medisnya. Sebab, ia mengaku dengan adanya pemberitaan soal vonis enam bulan pemulihan cedera itu, pihaknya dirugikan, karena otomatis, kesebelasan tidak ada yang mau merekrutnya.

Ia melanjutkan, setelah menjalani terapi selama satu minggu, kondisinya kini sudah mulai membaik. Diakui, ia sudah berdiri dengan satu kaki. Selain itu, ia juga sudah bisa berlatih dengan bola. “Saya rutin terapi, pertama saya sudah ketemu Prof. Indra, dan bilang butuh dua minggu terapi. Sudah satu minggu ini hasilnya bagus. Saya sudah bisa berdiri satu kaki, bisa passing, dan bisa zigzag. Makanya, saya mau cek biar lebih pasti lagi,” terangnya.

***

Kutipan-kutipan di atas memang baru hanya kami dapatkan dari Rachmat Afandi. Namun jika benar, kasus Fandi ini tentunya menyoroti soal tanggungjawab kesebelasan-kesebelasan di Indonesia terhadap para pemain mereka. Biar bagaimanapun, pemain diikat dengan kontrak. Dan cedera, seberapa parahnya atau ringannya cedera tersebut, adalah bagian dari sepakbola.

Memang tidak ada kesebelasan yang ingin kehilangan pemainnya karena cedera. Tapi begitu juga, tidak ada pemain yang ingin menderita cedera. Apalagi jika sepakbola tersebut adalah hal yang menopang kehidupan mereka sebagai manusia. Oleh karena itu, pemutusan kontrak (kecuali dilakukan dua belah pihak) apalagi hanya karena cedera, adalah salah satu bentuk ketidakadilan dan perbuatan yang sangat tidak bertanggungjawab.

Foto: Jawa Pos

Komentar