Setiap Hari, Rasisme Itu Selalu Ada dan (Sebenarnya) Bisa Dihentikan

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Setiap Hari, Rasisme Itu Selalu Ada dan (Sebenarnya) Bisa Dihentikan

Kasus Sulley Muntari mungkin bukan kasus rasisme yang pertama kali terjadi. Namun, fakta bahwa rasisme ini membuatnya kesal, adalah mungkin ada sesuatu yang sudah pecah di dalam dirinya.

Rasisme memang hal yang bisa dibilang masih terjadi di dunia sepakbola sekarang. Ada kasus roti Hakan Calhanoglu di Bundesliga. Ada juga kasus buah pisang Dani Alves di La Liga (saat ia masih membela Barcelona dulu). Ligue 1 pun tak lepas dari kasus rasisme setelah Mario Balotelli disoraki oleh para pendukung Bastia dalam lanjutan Ligue 1 pada 20 Januari 2017. Serie A, sebagai salah satu kompetisi yang cukup ternama di Eropa, juga tak lepas dari kasus rasisme.

Kevin-Prince Boateng pernah menerima perilaku rasis pada 2013 silam ketika AC Milan beruji tanding melawan klub Pro Patria (Muntari juga ikut bermain dalam pertandingan tersebut. Pada 2017, kasus rasisme kembali mengemuka setelah Sulley Muntari mencak-mencak karena menerima perilaku rasis dari para pendukung Cagliari, tapi malah dirinya yang kena hukuman larangan bermain dalam satu pertandingan dari FIGC (hukuman ini pada akhirnya dicabut).

Setelah Muntari, baru-baru ini pada 6 Mei 2017 pemain Juventus, Medhi Benatia juga melaporkan hal serupa kala dirinya merasa dilecehkan secara rasial oleh RAI saat post-match interview usai Juve menghadapi Torino. Kasus rasisme ini, termasuk di Serie A, seolah-olah menjadi perilaku yang biasa dan selalu muncul setiap harinya.

Muntari, sebagai salah satu korban, akhirnya buka suara dalam sebuah wawancara eksklusif bersama CNN tentang pendapatnya atas kasus rasisme yang kerap terjadi dan tampak seperti hal biasa setiap harinya.

Suara Hati Sulley Muntari

Sulley Ali Muntari adalah pemain kenamaan. Ia sudah melanglang buana membela beberapa klub di Eropa, seperti Portsmouth, Inter Milan, dan AC Milan. Bersama timnas Ghana, ia juga sudah mencatatkan banyak penampilan bersama The Black Star, bahkan tampil di tiga edisi Piala Dunia bersama Ghana. Namun hal ini tak lekas membuatnya lepas dari perilaku-perilaku rasis, termasuk ketika ia bermain di Serie A.

Kepada CNN, ia mengaku bahwa ia sudah terbiasa dengan perilaku rasis karena sebegitu seringnya ia menerima perilaku tersebut ketika bermain. Setiap hari, ia mengaku, selalu ada aksi rasisme yang dialamatkan kepada dirinya, sehingga ia tampak kebal menerima aksi rasisme tersebut. Namun, pada 30 April 2017, saat laga antara Pescara melawan Cagliari, ia mengaku kesabarannya sudah habis, apalgi ia juga paham bahwa aksi serupa dialami juga oleh pemain-pemain lain.

"Saya tidak sanggup menerimanya lagi. Saya juga manusia biasa. Pada pertandingan tersebut (melawan Pescara) saya marah dan saya langsung menunjuk-nunjuk warna kulit saya kepada penonton yang meneriaki saya. Wasit menghukum saya, dan saya pun tiba-tiba merasa kesabaran menyelimuti saya. Saya pun berjalan keluar lapangan."

"Setiap saya bermain di akhir minggu, saya selalu mendengar teriakan-teriakan bernada rasis dari arah tribun. Bukan hanya saya saja yang menerimanya, tapi juga beberapa pemain lain. Bagaimanakah kita akan mengatasinya? Karena hal ini biasanya terjadi berulang-ulang. Minggu ini Anda menerima perilaku rasis, hal yang sama bukan tidak mungkin akan terjadi pada bulan-bulan berikutnya," ujar Muntari.

Pemain asal Ghana tersebut pun menyadari bahwa situasi ekonomi di Eropa yang tidak stabil bisa menjadi penyebab kenapa banyak aksi-aksi rasisme yang terjadi di Eropa. Orang-orang Eropa menganggap kedatangan para pendatang mempersempit lahan pekerjaan sehingga membuat orang-orang Eropa banyak yang menjadi pengangguran.

"Mungkin semua tindakan ini (aksi rasis) terjadi karena rasa frustrasi karena kurangnya lahan pekerjaan dan tempat tinggal. Orang-orang Eropa harus menerima orang-orang asing tinggal di daerah mereka. Ini yang menjadi awal mulai bermunculannya tindakan rasis," ujarnya.

Terkhusus di Italia, aksi rasisme yang terjadi dan lambatnya FIGC (federasi sepakbola Italia) menangani aksi rasisme tersebut bisa saja terjadi karena Carlo Tavecchio, Presiden FIGC memang sedang menyuarakan "rasisme" dalam bentuk yang lain. Demi memunculkan talenta-talenta berbakat asli Italia, Tavecchio bahkan tidak segan mengeluarkan pernyataan rasis bagi pemain muda dari negara lain yang menimba ilmu di Italia. Hal ini pernah terjadi kepada pemain muda Lazio asal Kamerun, Joseph Minala.

Baca Juga: Rasisme Tavecchio Melahirkan Banyaknya Pemain Muda Berbakat Italia

Boikot Pertandingan, Langkah yang Bisa Diambil

FARE, lembaga yang paling getol menyuarakan penghapusan aksi rasisme di sepakbola Eropa, melalui direktur eksekutifnya Piara Powar mengutarakan bahwa harus ada sebuah aksi besar yang dilakukan oleh pemain untuk membuka mata para petinggi federasi sepakbola negara-negara di Eropa yang kerap menganggap sebelah mata aksi rasisme.

Menurut FARE, salah satu aksi yang bisa dilakukan adalah boikot pertandingan. Aksi boikot ini harus melibatkan semua pemain dan dilakukan dalam skala yang besar, sehingga akan membuat federasi-federasi mulai menyikapi aksi rasisme secara lebih serius dan para suporter pun akan mulai terbuka matanya sehingga aksi-aksi rasisme akan berkurang dengan sendirinya.

"Di negara yang sepakbolanya terkenal macam Italia, ada nama-nama pemain besar yang sebenarnya melek akan isu ini. Jika mereka melakukan boikot secara bersamaan dan besar-besaran, ini akan menjadi sesuatu yang mengubah cara pandang federasi dan sikap-sikap suporter dalam menanggapi isu rasisme."

"Boikot memang merupakan cara yang ampuh. Hal yang sama pernah dilakukan Amerika Serikat, negara yang juga kerap dilanda isu rasisme. Kenapa di Italia tidak dicoba saja," ujarnya.

Muntari sendiri mengaku akan menjadi yang terdepan jika kelak akan ada aksi boikot yang dilakukan oleh para pemain. Hal ini ia ungkapkan dalam akun Twitter nya, dan langsung disambar oleh Kevin-Prince Boateng yang kebetulan juga pernah mengalami isu yang serupa dengan Muntari serta berasal dari negara yang sama dengan Muntari, Ghana.

***

Rasisme akan tetap muncul dan ada ketika kita tidak bisa melihat perbedaan sebagai sebuah keunikan. Selain itu, seperti yang diungkapkan Muntari, rasisme akan muncul jika ada semacam rasa iri dari diri kita kala melihat hal yang berbeda.

Muntari pun memberikan contoh nyata dari Inggris, tempatnya bermain, bagaimana caranya memberantas aksi-aksi rasisme yang terjadi di lapangan sepakbola. Setahun setelah kelahiran Liga Primer, FA langsung membuat sebuah kampanye bernama "Let`s Kick Racism Out of Football" yang empat tahun setelahnya berubah menjadi kampanye "Kick It Out". Muntari menyebut kampanye serupa bisa dilakukan di negara Eropa lain untuk memberantas rasisme.

"Saya tidak mengutuki Italia, juga negara Eropa lain. Tapi setidaknya mereka bisa meniru langkah Inggris, yang membuat sebuah kampanye untuk menekan aksi rasisme di sepakbola Inggris. Hasilnya pun bisa saya rasakan saat bermain di sana. Jarang terdengar aksi-aksi rasisme saat saya bermain di Inggris," ungkapnya.

Karena, bagaimanapun, sepakbola adalah untuk semua kalangan dan bukan milik kalangan tertentu saja.

Sumber: CNN Football

Komentar