Cerpen Sepakbola: Kota-Kota Kecil Sepakbola

Cerita

by Sandy Firdaus 29693

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Cerpen Sepakbola: Kota-Kota Kecil Sepakbola

***

Apapun, ada banyak cara bagi sebuah kota untuk membangun eksistensinya. Membangun gedung, jalan dan jembatan, meresmikan mall, merebut Adipura, itu sudah biasa. Di antara yang tak biasa adalah membangun dan merawat klub sepakbola. sepakbola cukup pas membuat sebuah kota tinggal dalam rekam jejak kepala anak-anak yang berangkat remaja atau siapa pun yang bersentuhan dengannya. Lewat klub sepakbola, kota-kota kecil bersanding jika bukan bertanding dengan kota-kota besar lainnya, berseliweran di layar kaca dan berita-berita arena. Bukan hanya Divisi Utama, dalam daftar Liga Primer pun klub-klub kota kecil muncul percaya diri, tak ciut nyali bersanding dengan klub-klub kota besar.

Persik Kediri, Arema Malang, Deltras Sidoarjo, adalah klub yang sudah lama malang-melintang, bersanding dengan Persebaya Surabaya, Persib Bandung, Semen Padang, Persija Jakarta, Persipura, atau Sriwijaya FC Palembang. Belakangan muncul dengan meyakinkan Laskar Kalinyamat Persijap Jepara, Persela Lamongan, Persiwa Wamena, Persibo Bojonegoro, Persiba Bantul. Dua yang terakhir muncul menjuarai Divisi Utama dan memborong trofi pemain terbaik dan top scorer. Muncul pula Mitra Kukar, Persiba Balikpapan, Persiram Raja Empat, Bontang FC, Gresik United, Persema Malang.

Tak kalah banyak adalah klub Divisi Utama, yang sebagian mungkin sudah naik peringkat ke Liga Primer atau tutup buku. Mestinya mereka bisa lebih pasti jika dua organisasi yang merasa berhak—LSI dan LPI—bisa duduk semeja dan tidak semena-mena bermain dadu. Sebab ada banyak bendera klub berkibar di kota-kota kecil itu, mulai dari PSAP Sigli, PSLS Lokhsumawe, PSBI Blitar, PSCS Cilacap, PPSM Magelang, PSPM Mojokerto, Persiku Kudus, PSIR Rembang, Persibangga Purbalingga, Persepam Pamekasan, atau yang sudah lama eksis seperti Persis Solo dan PSS Sleman. Di klub-klub itu bertebaran tak hanya pemain-pemain masa depan, juga para pendukung yang tak kenal lelah, dan setia, dengan organisasinya. Boromania, Deltamania, LA Mania, Slemania, Pasopati, dan jangan lupakan Aremania—boleh jadi salah satu yang terbesar. Persiba Bantul bahkan punya lebih banyak komunitas: Paserbumi, Kere Hore, Bad Boys dan CNF. Dan Bonek, tentu juga mesti dicatat sebagai fenomena “heroik” dalam sepakbola kita.

Mau dibawa ke mana mereka semua?

Jauh dari pusat kota kecil tempatku tinggal, di stadion tengah sawah dalam kepungan kebun tebu, aku duduk mengenang kota-kota kecil yang membangun impian dan eksistensinya lewat sebuah benda bulat. Benda bulat yang, sebagaimana kusaksikan, mulai bergulir dari kaki ke kaki, dari dada ke dada, dan sesekali jatuh dalam tangkapan kiper. Lalu ditendang lagi, dikocok, dioper ke sana kemari, makin kencang dan liar seiring arena yang membahana dengan koor-nada, tempik sorak, yel-yel dan teriakan tiada habis. Tak pernah habis. Perpaduan industri dan hasrat menegakkan jatidiri membuat kota-kota kecil sepakbola seakan abadi dalam musim-musim berkabut yang tak pasti memberi janji!

Rumahlebah Yogyakarta, Desember 2012

Tentang Pengarang

Raudal Tanjung Banua adalah seorang sastrawan Indonesia yang banyak menulis cerita pendek dan puisi. Lahir di Taratak, Pesisir Selatan, Sumatera Barat pada 19 Januari 1975 silam, Raudal pernah menjadi koresponden surat kabar Harian Semangat dan Haluan. Pada 1997 silam, ia pindah ke Yogyakarta untuk menyelesaikan studinya di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Sembari tetap rajin menulis dan puisi, cerpen, dan esai, ia mengelola Komunitas Rumah Lebah Yogyakarta, Penerbit Akar Indonesia, serta Jurnal Cerpen Indonesia.

Cerpan "Kota-Kota Kecil Sepakbola" ini sendiri mengisahkan kembali sebuah masa ketika PSSI dan liga sepakbola di Indonesia terbelah menjadi dua, yaitu Liga Super Indonesia dan Liga Primer Indonesia. Di tengah masa kelam tersebut, yang sekarang juga mewujud kembali tampaknya di tubuh PSSI, ada semangat yang tetap menggelora. Semangat mewujud eksistensi di tubuh-tubuh klub sepakbola yang berasal dari kota kecil, yang berusaha memperkenalkan diri lewat sebuah benda bulat yang digulirkan di atas lapangan. Eksistensi yang jarang, atau tidak sama sekali, diperhatikan oleh pemerintah daerah dan otoritas tertinggi sepakbola Indonesia, tapi menjadi sebuah cara untuk mengenang, mengingat kembali, dan mengikatkan diri dengan kota-kota tersebut.

Cerpen ini sudah diterbitkan sebelumnya di surat kabar Jawa Pos, edisi 16 Desember 2012.

Komentar