#PanditHighlights Mengingat Isyarat Blunder Steven Gerrard

Cerita

by redaksi

#PanditHighlights Mengingat Isyarat Blunder Steven Gerrard

Jika sepakbola adalah sebuah narasi, maka siapapun yang menciptakan naskah drama untuk Barclays Premier League musim 2013/2014 mungkin adalah fans seorang penulis Rusia bernama Anton Chekhov.

Pada 1889, Chekhov mengirim surat untuk sahabatnya seorang penulis drama, Aleksandr Semenovich Lazarev, dan memberinya satu nasihat tentang penulisan. Ia berpendapat: “Dalam suatu pementasan, jangan menaruh pistol di atas panggung (sebagai properti), jika engkau tidak akan menggunakan pistol itu kemudian.”

Hingga saat ini, nasihat itu dikenal dengan nama “Pistol Chekhov” atau “Chekhov’s Gun”. Lewat analogi tersebut, penulis kelahiran 1860 itu ingin mengajarkan soal kedetailan dalam penulisan, dan bahwa setiap elemen dalam suatu narasi haruslah penting dan tidak tergantikan.

Prinsip “Pistol Chekhov” ini kemudian digunakan untuk sebagai panduan dalam menuliskan pertanda,  atau foreshadowing. Bahwa hal-hal remeh yang terjadi pada babak pertama, atau episode-episode awal, sebenarnya adalah isyarat dari peristiwa penting yang akan terjadi kemudian.

Sulit untuk tidak mengaitkan prinsip “Pistol Chekhov” ini pada narasi terpelesetnya Steven Gerrard ketika Liverpool ditundukkan 0-2 oleh Chelsea. Pasalnya, dua minggu sebelumnya, secara tak sengaja Steven Gerrard seolah memberikan pertanda kecil akan blundernya lewat kata-kata.

Pasca Liverpool menundukkan Manchester City 3-2, layaknya seoerang pemimpin pasukan perang, Gerrard merangkul dan menyemangati teman-teman setimnya dalam satu momen heroik. Ia pun menegaskan tekad mereka dengan ucapan:

“This doesn’t slip now!”

"(gelar Liga Inggris) Ini tidak boleh lepas dari tangan kita sekarang!" (meski arti harafiah 'slip' adalah terpeleset)

Kata-kata ini jadi simbol bagaimana Liverpool akan berjuang sekeras tenaga untuk meraih trofi liga Inggris yang sudah 24 tahun tak pernah mereka pegang. Tapi, kata-kata yang sama pula malah seolah jadi pertanda momen penting yang akan terjadi selanjutnya, yaitu momen puncak klasemen lepas dari genggaman Si Merah karena blunder sang kapten.

Sebelum pertandingan, Gerrard sendiri tentu tidak merencanakan akan mengucapkan kata-kata itu. Aksinya didorong oleh luapan emosi karena telah mengalahkan musuh terbesarnya. Karena telah melakukan yang tidak mungkin, yaitu menundukkan sang raksasa. Ucapan heroiknya seolah meluncur begitu saja tanpa aba-aba.

Tapi nyatanya sang pembuat narasi tahu, bahwa dalam sebuah cerita, tak ada peristiwa yang begitu saja muncul tanpa terencana.

Peristiwa terpeleset sendiri boleh dikatakan sebagai satu hal yang biasa saja dalam sepakbola. John Terry pernah melakukannya. Suarez pernah melakukannya. Bahkan, semua pesepakbola pun mungkin pernah merasakan ketika kaki 'tergelincir', dan malah badan yang mencium tanah saat berlari mengejar sesuatu.

Suatu peristiwa yang sangat lumrah.

Dalam analisanya, Jamie Carragher sendiri coba untuk melogikakan kebetulan Gerrard itu melalui dua peristiwa.

Pertama adalah tentang Sakho dan ruang kosong di depannya. Menurut mantan bek bernomor punggung 23 itu, jika saja saat itu Agger yang bermain, maka Agger dengan kebiasaannya membawa bola akan menggiring bola  ke ruang itu, lalu baru memberikan umpan.

Agger, kemungkinan besar, tidak akan memberikan bola kepada Gerrard sebagaimana Sakho pada menit-menit akhir babak pertama itu.

Kejadian kedua yang bisa jadi penyebab terpelesetnya Gerrard adalah tentang sang pemain sendiri. Menurut Carragher, saat Gerrard menyambut bola dari Sakho, sebenarnya sang kapten sedang memikirkan opsi tentang ke mana umpan akan diarahkan secara cepat, sebagaimana biasa dilakukan. Ini karena Gerrard memang tak senang berlama-lama menahan bola. Akibatnya, ia tak sedang memegang konsentrasi penuh saat bola datang.

Dua kebiasaan ini –Sakho yang jarang maju ke ruang kosong di area tengah untuk membagi bola, dan Gerrad yang kerap mengumpan secara cepat—pada akhirnya menciptakan suatu kebetulan, yaitu peristiwa terpeleset.

Tapi penjelasan atas suatu kebetulan pada akhirnya adalah aksi menerka-nerka.  Atau aksi memilah-milah dan mengkombinasikan berbagai peristiwa demi mendapatkan ketenangan atas sebuah tragedi.

"Jika saja X, maka Y tidak akan terjadi".

"Jika saja Z, maka A tidak akan muncul".

Pada akhirnya, di atas lapangan hijau, boleh saja kita melupakan berbagai penjelasan tersebut, dan berlindung pada satu premis bahwa sepakbola adalah satu narasi. Dan, dalam setiap narasi, hanya ada satu logika: pistol Chekhov akan selalu memuntahkan peluru. Dan selalu akan ada orang yang terluka.

Kali ini, sang narator memutuskan bahwa orang itu adalah Steven Gerrard.

(vws)

Komentar