Bagi Ze Roberto, Umur Hanyalah Sebuah Angka

Cerita

by Muhammad Firza Richsan

Muhammad Firza Richsan

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Bagi Ze Roberto, Umur Hanyalah Sebuah Angka

Ada yang masih ingat dengan nama Ze Roberto? Anak generasi 90an tentu cukup familiar dengan nama ini. Karena memiliki kecepatan dan tendangan yang keras, bersama Ronaldo, Roberto Carlos, dan Rivaldo, Ze Roberto menjadi salah satu nama yang selalu diandalkan, dan selalu menjadi alasan bagi kita untuk memilih Brasil dalam game Winning Eleven di Playstation 1.

Namun tidak seperti para kompratiotnya yang memilih untuk gantung sepatu beberapa tahun ke belakang, baru-baru ini, Ze Roberto justru menambah masa baktinya di lapangan hijau dengan menandatangani kontrak baru yang berdurasi satu tahun bersama klubnya, Palmeiras. Itu artinya, Ze Roberto akan tetap bermain setidaknya hingga usia 43 tahun.

Pemain yang memiliki nama lengkap Jose Roberto da Silva Junior ini mulai muncul ke permukaan ketika dirinya menerima pinangan raksasa liga Spanyol, Real Madrid, pada Januari 1997. Bersama El Real, Ze Roberto berhasil memenangi Liga Champions 1997/1998. Akan tetapi, dirinya selalu berada di bawah bayang-bayang kompratiotnya di timnas Brasil, Roberto Carlos.

Ze Roberto pun hanya berhasil bermain sebanyak 15 kali. Dirinya yang merasa membutuhkan menit bermain karena memiliki asa yang besar untuk tampil bersama timnas Brasil di ajang Piala Dunia 1998, meminta untuk dipinjamkan ke klub tanah kelahirannya, Flamengo.

Masa-masa peminjamannya di Flamengo pun tidak disia-siakannya. Ze Roberto tampil apik dan berhasil terpilih ke dalam skuat timnas. Namun lagi-lagi, di timnas Brasil Ze Roberto hanya menjadi pilihan kedua setelah Roberto Carlos, dan hanya bermain satu kali di turnamen yang diselenggarakan di Prancis tersebut.

Meskipun demikian, nama Ze Roberto tetap menjadi incaran kesebelasan-kesebelasan Eropa. Dan Bayer Leverkusen-lah yang berhasil mendapatkannya setelah menyetujui permintaan 5,95 juta paun dari Real Madrid pada tahun 1998. Ze Roberto pun menjadi salah satu kunci sukses Bayer menjadi tim yang cukup disegani di Eropa. Dirinya bahkan sanggup membawa Bayer, yang ketika itu juga diperkuat oleh Michael Ballack, melaju ke final liga Champions 2002. Namun Leverkusen kalah 2-1 dari mantan tim Ze Roberto, Real Madrid, melalui gol cantik yang dicetak Zinedine Zidane.

Selama memperkuat Bayer, Ze Roberto lebih sering ditempatkan sebagai sayap kiri ketimbang di posisi aslinya yang merupakan bek kiri. Dalam formasi 4-4-2 sejajar, dirinya selalu berdampingan dengan Michael Ballack yang ditempatkan sebagai gelandang sentral sebelah kiri. Kombinasinya dengan Ballack berjalan apik, hal ini lah yang lantas membuat keduanya menjadi target utama dari kesebelasan rival Bayer di Bundesliga, Bayern Muenchen.

Pada transfer musim panas 2002, kedua paketan ini pun akhirnya resmi berlabuh ke Bayern dengan masing-masing transfer sebesar 12 juta euro. Keduanya langsung menjadi pilihan utama pelatih Bayern saat itu, Ottmar Hitzfeld, dan menjadi tokoh penting Bayern dalam merebut gelar Bundesliga dan DFB Pokal. Selama empat tahun memperkuat Bayern, Ze Roberto berhasil mencetak lima gol dalam 110 penampilannya, juga turut menyumbangkan tujuh trofi bagi Bayern.

Pada tahun 2006, romantisme Ballack dan Ze Roberto berakhir. Keduanya memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya bersama Die Bayern. Ballack memutuskan untuk hijrah ke Chelsea, sementara Ze Roberto lebih memilih untuk pulang ke kampung halamannya dan memilih Santos sebagai pelabuhan berikutnya.

Di tahun yang sama, Ze Roberto terpilih ke dalam skuat timnas Brasil yang berlaga di ajang piala dunia 2006. Ini merupakan piala dunia keduanya setelah tahun 1998. Ketika Brasil menjuarai Piala Dunia 2002, dirinya mengalami cedera sehingga tidak terpanggil oleh Luiz Felipe Scolari, pelatih Brasil saat itu. Bersama Brasil di piala dunia 2006, Ze Roberto tampil apik sehingga terpilih ke dalam FIFA World Cup All-Star Team 2006.

Bersama Santos, Ze Roberto langsung berhasil mempersembahkan gelar juara Liga Brasil. Dirinya pun berhasil mencetak 12 gol dari 48 pertandingan di semua kompetisi. Namun, dirinya hanya bertahan bersama Santos selama satu musim saja. Ze Roberto merindukan kembali bermain untuk Bayern. Bayern pun dengan senang hati menyambut kepulangannya itu. Hingga akhirnya reuni pun terjadi bagi keduanya, di sesi perkenalan keduanya sebagai pemain Bayern, Ze Roberto mengatakan “Anggap saja kepergian saya tidak pernah terjadi," cetusnya di depan para suporter Bayern.

Pada periode keduanya di Bayern, Ze Roberto memiliki peran baru. Ottmar Hitzfeld lebih memilih menempatkan dirinya sebagai gelandang bertahan bersama Mark van Bommel. Ze Roberto pun tidak kesulitan bahu-membahu bersama van Bommel untuk menciptakan pertahanan yang solid di lini tengah. Bayern pun kembali mampu memenangi double winners, di mana Ze Roberto juga turut menyumbangkan lima gol.

Ze Roberto hanya bertahan dua musim di periode keduanya bersama Bayern. Selanjutnya ia hijrah ke sesama klub Jerman lainnya, Hamburg SV, dan menghabiskan waktu selama dua musim juga, sebelum memutuskan mengembara ke Qatar untuk memperkuat Al-Gharafa si tahun 2012.

Hanya bertahan satu musim di Al-Gharafa, Ze Roberto memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya dan memilih Gremio sebagai destinasi berikutnya. Ia pun menandatangani kontrak selama dua musim dan menyatakan Gremio akan menjadi klub terakhirnya.

Pada Desember 2014, kontraknya dengan Gremio berakhir. Namun Ze Roberto masih ingin bermain dan enggan untuk segera pensiun, padahal umurnya telah menginjak umur 41 tahun ketika itu. Walau demikian, kualitas yang dimilikinya tidak membuatnya kehilangan peminat. Palmeiras memutuskan untuk merekrutnya. Ia bahkan langsung didaulat sebagai kapten tim, dan berhasil membawa Palmeiras menjuarai Copa do Brasil 2015.

Takdir Ze Roberto sepertinya selalu berdekatan dengan gelar juara. Hanya satu musim berselang, dirinya kembali berhasil mempersembahkan gelar bagi Palmeiras. Gelar kali ini terasa sangat berarti, karena Palmeiras berhasil menjuarai Serie-A Brasil 2016 (Pertama kalinya dalam 22 tahun terakhir). Dirinya pun selalu menjadi mentor bagi Gabriel Jesus, wonderkid yang mulai Januari nanti pindah ke Manchester City, baik di dalam maupun luar lapangan.

Jika pada umumnya para pesepakbola yang sudah memasuki usia senja memutuskan untuk sesegera pensiun --terlebih setelah mendapatkan gelar agar merasa dapat mengakhiri karier dengan manis, namun hal ini tidak berlaku Ze Roberto. Dirinya masih haus akan gelar, dan baru saja memperbarui kontraknya bersama Palmeiras.

“Suatu rencana selalu menjadi motivasi terbesarku. Beberapa telah berhasil, seperti memenangi Copa do Brasil tahun lalu dan trofi Brasileiro (Serie-A) tahun ini," ungkap Ze Roberto seperti yang dilansir NBC Sport.

“Ketika saya tiba, saya tidak hanya datang untuk menghabiskan waktu (pensiun). Tetapi untuk menjadi bagian sejarah dari klub ini, kemudian melihat gambar saya terpajang di ruang ganti. Sekarang telah tercapai dan saya sangat senang.”

“Saya akan kembali bermain tahun depan, saya pun yakin ini keputusan yang tepat bagi karier saya. Copa Libertadores menjadi gelar yang belum pernah didapat dalam karier saya. Dan tahun depan terlihat lebih menjanjikan,’’ ungkapnya.

Bagi Ze Roberto, umur hanyalah sebuah angka. Di saat rekan-rekan segenerasinya telah bermain di laga-laga amal, dirinya justru masih menjadi andalan bagi klubnya. Dan jika seorang pemain telah berusia 43 tahun, tetapi masih bisa berlari serta melewati para pemain muda, di tingkat kompetisi dengan level yang sangat tinggi, dapat dipastikan pemain tersebut memiliki talenta yang istimewa.

Foto: espn.uol.com

Komentar