Rencana yang Tak Terduga Bagi Chapecoense

Cerita

by Sandy Firdaus 67585

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Rencana yang Tak Terduga Bagi Chapecoense

Semua sedang berjingkrak-jingkrak kegirangan. Ruang ganti Stadion Arena Conda riuh oleh teriakan para pemain klub asal Brasil, Chapecoense, yang sedang merayakan lolosnya mereka ke babak final Copa Sudamericana 2016. Ini adalah final Copa Sudamericana pertama mereka, semua mewajarkan jika para pemain gembira dan diliputi rasa bahagia.

“Akhirnya kita lolos ke final,” teriak salah seorang pemain.

“Kita akan menjadi raja Amerika Selatan!” timpal pemain yang lain.

“Yeaaaaayyyy,” ujar mereka semua secara serempak, sembari melemparkan-lemparkan botol minum ke atas, disertai dengan beberapa pemain yang sedang melakukan selfie, mendokumentasikan apa yang terjadi saat itu.

Mereka tidak tahu, ada sesosok lain yang juga ikut menonton keramaian itu, tersenyum, lalu kemudian pergi berlalu dari ruang ganti yang diliputi oleh kebahagiaan saat itu. Para pemain hanya tahu, bahwa pada 30 November, mereka akan berada di Medellin dan mengangkat trofi Copa Sudamericana.

Copa Sudamericana adalah kompetisi antar tim Amerika Selatan level kedua. Jika diibaratkan, ini setara dengan Europa League di Eropa.

**

Hari-hari setelah perayaan di Arena Conda pun sudah berlalu. Para pemain Chapecoense sudah melupakan kegembiraan di Arena Conda karena ada panggung besar yang sudah menanti mereka di Medellin. Panggung besar itu adalah partai final Copa Sudamericana. Bagi mereka, menjadi juara dalam ajang Copa Sudamericana 2016 bukan hanya sekedar mempertaruhkan hak tampil dalam ajang Copa Libertadores tahun depan saja.

Klub yang pada 2014 lalu masih dipandang sebelah mata ini tentu ingin menunjukkan diri sebagai salah satu klub kuat di Brasil dan Amerika Selatan. Mereka ingin orang-orang mulai melirik Chapecoense, seperti halnya masyarakat Brasil melirik Sao Paulo, Corinthians, ataupun CR Flamengo sebagai klub besar di Brasil dan Amerika Selatan.

Wajar saja mereka masih belum sejajar dengan para kesebelasan Brasil lainnya di atas. Karena memang sedari 2014 Chapecoense masih berkutat di divisi bawah Brasil.

Oleh karenanya, mereka berlatih dengan sangat keras. Di bawah arahan pelatih Caio Junior, mereka berlatih pagi dan sore, mengasah kemampuan, untuk bersiap menghadapi lawan mereka, Atletico Nacional, di Medellin pada 30 November 2016.

Lima hari sejak selesainya perayaan di Arena Conda, mereka menyiapkan skema, taktik, dan strategi yang akan mereka pergunakan dalam partai final nanti. Para pemain inti dipersiapkan sebagai senjata, dan pemain-pemain lain siap untuk mendukung sistem dan strategi yang akan diterapkan sang pelatih untuk meraih kemenangan.

Pada suatu sore, beberapa pemain Chapecoense sedang mengobrol tepat seusai latihan. Mereka membicarakan tentang apa yang akan mereka lakukan pada laga nanti.

“Aku akan menghadang para pemain Atletico jika mereka akan mencetak gol. Aku akan menjaga keperawanan gawangku!” ujar penjaga gawang tim berjuluk Verdao tersebut.

“Tenang, sebagai defender aku akan membantumu. Aku akan menghadang setiap pemain Atletico tepat dari garis pertahanan supaya mereka tidak bisa mencetak gol.” ucap pemain lain.

“Kalau begitu, sebagai gelandang aku akan membantu pertahanan juga! Sekaligus akan memberikan umpan-umpan manis kepada para penyerang supaya mereka bisa mencetak gol. Benar kan?” ucap salah seorang gelandang.

“Yoii, gluk, gluk, gluk” ucap si penyerang sembari menenggak air. Mungkin dia kehausan.sampai minum banyak seperti itu.

“Kalau nanti suplai dari gelandang kurang, tenang saja. Kami dari sayap siap memberikan umpan-umpan silang yang memanjakan. Pokoknya kamu tenang aja. Kamu tahu kan, gelandang kita kadang umpannya suka ngasal, ha ha ha,” tambah pemain dari sayap.

Gelak tawa pun pecah di antara para pemain sore itu, di tempat mereka latihan, sampai malam menjelang. Di balik pepohonan yang berada di tempat latihan, kembali ada sesosok lain yang mengamati mereka. Kali ini ia tersenyum, tetapi lebih lirih daripada ketika perayaan di Arena Conda waktu itu. Ia kembali berlalu.

**

Tepat dua hari sebelum final menjelang, para pemain Chapecoense sedang berada di bandara di Rio de Janeiro. Menggunakan pesawat British Aerospace 146, mereka bertolak menuju Medellin dari Brasil untuk bersiap menghadapi partai final Copa Sudamericana 2016. Ketegangan, semangat, dan canda tawa menghiasi wajah dari para pemain, staf pelatih, dan ofisial klub yang akan berangkat.

Meski beragam ekspresi terlihat dari wajah para pemain, tujuan mereka hanya satu, yaitu membawa pulang trofi ke tanah Brasil, lalu kemudian diarak keliling kota Chapeco, Santa Catarina. Ketika mereka sedang bersiap memasuki pesawat, mereka tak sadar, bahwa ada satu sosok yang sudah sejak lima hari yang lalu mengikuti mereka, ikut masuk ke dalam pesawat tersebut sampai pesawat itu lepas landas.

Perjalanan pertama menuju Bolivia, tepatnya daerah Santa Cruz de la Sierra, berhasil mereka lewati dengan baik. Di sana pesawat transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Medellin. Saat pesawat bertolak dari Santa Cruz de la Sierra, sosok yang sedari lima hari yang lalu mengikuti para pemain Chapecoense, akhirnya mulai bergerak. Sambil melirik kepada para pemain Chapecoense, ia berkata dengan lirih.

“Maaf kawan. Tapi kau tidak akan pulang ke Brasil lagi. Kau akan pulang ke tempat yang lebih indah dan menyenangkan dengan ribuan trofi di sana,” ujarnya.

Tetiba setelah sosok itu mengucapkan perkataan tersebut, pesawat mengalami masalah. Kurangnya bahan bakar dan masalah teknis (tepatnya gangguan kelistrikan dalam pesawat) membuat pesawat itu hilang dari radar, di daerah antara La Ceja dan La Union di Kolombia.

Suasana di dalam pesawat menjadi tegang, termasuk para pemain Chapecoense yang terlibat dalam ketegangan tersebut. Selang berapa lama, teriakan ini berubah menjadi hitam, makin legam sebelum semuanya tiba-tiba menjadi putih bagi 76 orang yang, mungkin esok hari akan bangun di tempat yang berbeda.

**

Selasa, 29 November 2016, surat kabar di seluruh belahan dunia memberitakan bahwa pesawat British Aerospace 146 milik maskapai LaMia Airlines dinyatakan jatuh. 76 orang yang menaiki pesawat tersebut meninggal dunia. Hanya lima yang selamat, dan dua di antaranya adalah pemain dari Chapecoense, Alan Ruschel dan Danilo. Mereka tampak sangat terpukul atas kejadian tersebut.

Dunia berduka. Klub-klub sepakbola di dunia mengungkapkan rasa bela sungkawa mereka lewat akun media sosial yang mereka miliki. Atletico Nacional bahkan sampai menyarankan agar gelar diserahkan kepada Chapecoense saja tanpa bertanding. Orang-orang bersedih, dan yang paling bersedih tentunya adalah masyarakat Chapeco, yang harus rela menyaksikan para pahlawan mereka menjadi korban dari kecelakaan pesawat di daerah Kolombia tersebut.

Sebuah tragedi pesawat yang kembali terulang setelah Superga yang merenggut Il Grande Torino dan tragedi München yang merenggut The Busby Babes. Tak ada yang bisa menjamin semua akan sama seperti dulu. Tak ada juga yang bisa menjamin bahwa Chapecoense akan sekuat dahulu kala setelah kecelakaan ini. Semua akan kembali pada Chapecoense sendiri, apa mereka akan bangkit seperti para penerus The Busby Babes, atau malah tenggelam dalam sedih talk terujung seperti penerus Il Grande Torino.

Tak lama setelah berita tersebut menyebar, sosok yang mengikuti para pemain Chapecoense kembali hadir. Ia hadir dengan wajah yang lebih tenang sembari mengatakan sebuah pesan, pesan yang mungkin juga pernah didengar oleh Il Grande Torino dan The Busby Babes pada masa lampau.

We’re all part of a masterplan”

foto: @SportsCenter

Komentar