Kisah Bengaluru FC Mengubah Wajah Sepakbola India

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kisah Bengaluru FC Mengubah Wajah Sepakbola India

Dalam ranah sepakbola Asia, India bukanlah negara yang memiliki pengaruh. Meskipun negara mereka bisa dimainkan di video game FIFA, kualitas sepakbola India jelas kalah kelas jika dibandingkan dengan sepakbola Jepang, Korea Selatan, atau negara-negara Jazirah Arab. Bahkan, jika dibandingkan dengan Thailand, boleh jadi mereka sudah kalah beberapa langkah.

Tertinggalnya sepakbola India saat ini memang cukup aneh. Selain karena federasi sepakbola India sudah berdiri sejak tahun 1893, sepakbola India juga dikenal cukup berjaya di kawasan Asia setidaknya hingga era 1950, yang mana pada tahun tersebut mereka lolos ke putaran final Piala Dunia 1950.

Lebih dari 66 tahun publik India menunggu sepakbola mereka bangkit. Dan mimpi tersebut hadir di final Piala AFC (AFC Cup), Sabtu (5/11) malam WIB, saat salah satu kesebelasan India, Bengaluru FC hadir di partai final untuk meladeni perlawanan wakil Irak, Al-Quwa Al-Jawiya (Air Force Club).

Dari Bukan Siapa-Siapa Menjadi Salah Satu yang Diperhatikan

Jika dibandingkan dengan Kalkuta atau Goa, Bengaluru bukanlah kota yang memiliki sejarah panjang sepakbola di India. Tidak heran, didirikannya Bengaluru FC pada pertengahan 2013 lalu membuat banyak orang bertanya-tanya: “Buat apa didirikan kesebelasan sepakbola jika tidak ada yang bakal menonton?”

Bengaluru FC yang didirikan oleh Parth Jindal, lewat usahanya, Jindal Steel Works, memilih untuk tak menjawab pertanyaan itu. Jindal bahkan percaya diri bahwa proyeknya ini bakal membuat orang terkagum-kagum. Memanfaatkan keahliannya di bidang penjualan, Jindal pun terus melangkah.

Jelang liga dimulai, stadion dan sarana latihan berhasil didapatkan oleh Jindal. Namun persoalannya, minat masyarakat Bengaluru untuk bermain sepakbola cukup sedikit. Jelang liga dimulai, mereka hanya mendapatkan 12 pemain profesional, yang kebanyakan dari mereka adalah buangan dari kesebelasan lain.

Persoalan tersebut coba diatasi oleh Jindal dengan mendatangkan pelatih berkualitas. Setelah menimbang beberapa opsi, ia pun memilih mendatangkan Ashley Westwood, eks pemain Manchester United yang telah malang melintang di berbagai kesebelasan bawah Inggris.

Kedatangan Westwood diharapkan Jindal mampu memperbaiki kualitas pemain Bengaluru yang kebanyakan adalah buangan. Beberapa hari setelahnya, Westwood mengajak Malcolm Purchase yang notabene adalah pelatih fisik terkenal di Inggris.

Kerja keras Jindal untuk membangun Bengaluru pun didengar di seantero India. Namanya menjadi topik utama di beberapa surat kabar India. Kabar mengenai Bengaluru FC yang langsung mematok hasil tinggi pun didengar sampai Eropa.

Ambisi dan kerja keras Westwood dan Jindal untuk membangun Bengaluru membuat pemain terbaik India saat ini, yang baru saja gagal mengikuti try out di Sporting Lisbon, Sunil Chhetri, langsung tergerak untuk ikut bergabung. Sehari jelang Indian League, Chhetri resmi bergabung dengan Bengaluru.

Meski skuat mereka masih belum berusia setahun, Bengaluru mampu menunjukkan diri bahwa mereka benar-benar merevolusi sepakbola India. Betapa tidak, dalam empat dari lima laga perdana di Indian League, mereka berhasil mendapatkan poin penuh, yang salah satunya adalah kemenangan telak 3-1 atas juara tiga kali, Dempo.

Juara di Lapangan Bukanlah Segalanya

Dalam film dokumenter yang berjudul Bengaluru FC: The Road Less Taken in Indian Football, Jindal berkata bahwa keberadaan Bengaluru FC di Indian League bukan hanya untuk sekadar bermain sepakbola, melainkan juga ingin mengubah anggapan orang terhadap sepakbola di India.

“Di satu sisi, Bengaluru FC didirikan karena kami kecewa dengan upaya AIFF (federasi sepakbola India) dalam mempopulerkan olahraga ini. Namun di sisi lain, kami juga belajar dari kesalahan mereka dalam mengelola kompetisi ini mengenai apa hal yang harus diperbaiki,” ucap Jindal.

Pernyataan Jindal diamini oleh Dhruv Nagarkatti, Manajer Operasional Bengaluru FC. Nagarkatti menjelaskan bahwa Bengaluru FC memiliki dua tujuan jangka panjang, yakni menaklukkan Asia lewat sepakbola dan memberikan pengaruh baik secara luas untuk masyarakat Bengaluru.

“Kami mempersilakan pemain-pemain untuk bersosialisasi dengan para pendukung menggunakan setiap cara yang mereka anggap baik. Salah satu contohnya kini adalah para pemain kerap pergi ke Arbor (salah satu tempat berkumpulnya komunitas lokal) untuk sekadar berbincang-bincang” ujar Nagarkatti dilansir oleh Indian Times.

“Pemain-pemain juga selalu kami ingatkan untuk menghormati para penonton, baik di dalam lapangan dan di luar lapangan. Tidak heran, beberapa waktu lalu, ketika Curtis Osano berulang tahun dia diberi spanduk yang cukup besar oleh satu keluarga yang begitu mengidolakannya,” tambahnya.

Upaya-upaya Bengaluru FC untuk memperbaiki kualitas masyarakat lokal dianggap pendukung mereka adalah sebuah penghormatan. Tidak heran, ketika Bengaluru FC membutuhkan tenaga untuk mengerjakan sesuatu, masyarakat lokal dengan sukarela membantu.

Kerja keras Bengaluru FC untuk mengembangkan masyarakat sekitar rupanya membuat beberapa perusahaan-perusahaan start up lokal tergerak. Tanpa ada meminta imbalan, mereka rela membantu Bengaluru FC berkembang.

***

Kemenangan memang harga mati dalam sepakbola. Namun bagi Bengaluru FC, menggapai partai final AFC Cup 2016 adalah sebuah kebanggaan karena mereka juga bisa berkembang meski tanpa didukung kekuatan finansial maha dahsyat.

Komentar