Benteng Vicente Calderon yang Belum Bisa Ditembus Bayern

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Benteng Vicente Calderon yang Belum Bisa Ditembus Bayern

Semifinal Liga Champions Eropa 2015/2016 adalah mimpi buruk bagi Bayern München. Ketika itu, tim bernama Atletico Madrid secara tidak terduga dan luar biasa mengalahkan tim unggulan asal Jerman selatan itu dengan agregat yang sebenarnya seri, 2-2. Namun, keunggulan gol tandang membuat Atleti melaju ke final, menghancurkan mimpi Pep Guardiola untuk menjuarai Liga Champions Eropa bersama Bayern München.

Liga Champions Eropa musim 2016/2017, takdir (bisa dibilang seperti itu karena hasil undian grup sebelumnya siapa yang tahu) kembali mempertemukan Atletico Madrid dan Bayern München dalam babak grup. Kamis (29/9/2016) dini hari adalah hari ketika mereka lagi-lagi bertemu, juga dalam venue yang sama kala München kalah pada musim 2015/2016, Stadion Vicente Calderon.

Meski datang dengan pelatih baru, Carlo Ancelotti (yang sialnya punya rekor buruk dengan Simeone), lagi-lagi Die Roten kalah oleh Los Colchoneros dengan skor yang juga identik dengan musim 2015/2016, 1-0. Yang mungkin sedikit berbeda adalah, aktor yang menjadi penjebol gawang Manuel Neuer. Jika musim 2015/2016 aksi individu Saul Niguez yang mencuri perhatian, kali ini aksi menawan Yannick Carrasco-lah yang menjadi pusat perhatian.

Tapi, pertandingan pada Kamis (29/9/2016) dini hari bukan hanya perihal aksi Yannick Carrasco yang kembali membawa luka. Ini tentang sebuah benteng bernama Vicente Calderon yang sulit untuk tertembus.

**

Bayern München sebenarnya memulai pertandingan dengan cukup baik. Berbagai peluang mampu mereka hadirkan lewat penyerang andalan mereka, Robert Lewandowski, juga dari pemain-pemain sayap mereka macam Franck Ribery ataupun Thomas Müller. Tapi, Simeone yang sudah beberapa kali bersua dengan Ancelotti saat Don Carlo masih menangani Real Madrid, tampak tahu betul apa yang akan dilakukan oleh pelatih asal Italia tersebut.

Memperketat lini tengah, juga mempersempit jarak ketika tim memasuki fase bertahan, membuat Bayern sekali lagi begitu sulit menembus rapatnya pertahanan Atletico, persis sama dengan apa yang terjadi pada musim 2015/2016. Meski peluang tercipta pun, ada sosok bernama Jan Oblak yang menjadi palang terakhir pertahanan Atletico Madrid yang dalam pertandingan ini tampil dengan formasi dasar 4-4-2.

Selain itu, serangan Bayern pun menjadi buntu karena Ancelotti menerapkan strategi yang berbeda. Formasi dasar 4-3-3 konvensional, dengan tidak memanfaatkan kemampuan winger untuk melakukan tusukan ke dalam kotak penalti (dalam hal ini Ribery), membuat serangan Bayern kerap terpusat kepada sosok Lewandowski. Hal ini membuat Atleti dengan mudah menghalau serangan Die Roten, malah Felipe Luis sampai beberapa kali melakukan overlap ke lini pertahanan Bayern.

Di sisi lain, Atletico Madrid seperti biasanya bermain dengan efektif dan penuh determinasi. Saul Niguez dan Koke membuat lini tengah Atleti tampak begitu kokoh, dengan Koke sebagai pengatur bola dan Saul sebagai gelandang box-to-box. Antoine Griezmann, si lincah dari Prancis mengacak-acak lini pertahanan Bayern yang digalang oleh Jerome Boateng dan Javi Martinez.

Sementara itu, sosok Fernando Torres masih menjadi penyerang tengah yang menjadi akhir dari serangan Atleti, meski pada akhirnya ia gagal memenuhi ekspektasi dan digantikan oleh Nicolas Gaitan. Simeone, seperti masa-masa kepelatihannya di Atleti, menggerakan Los Rojiblancos sebagai satu unit, satu kesatuan yang utuh dan kuat dalam menghadapi tim besar.

Kesatuan inilah yang membuat Atleti, di mata Bayern, tampak seperti tim yang begitu kuat dan sulit untuk ditembus. Meski kalah penguasaan bola dari Bayern, dengan persentase 33% berbanding 67%, mereka tidak kalah karena mereka lebih efektif dan mereka bergerak sebagai satu unit. Itu yang membuat mereka acap kali mampu mengalahkan tim besar baik dalam ajang La Liga maupun Liga Champions Eropa.

Dan Ancelotti, lebih dari siapapun, harusnya paham itu dan tidak mengulangi kesalahan Pep Guardiola pada musim 2015/2016.

**

Memang terlalu dini menilai Atleti lebih unggul dari Bayern, karena masih ada pertandingan dalam fase grup yang akan mempertemukan Atletico Madrid dan Bayern München kembali di Allianz Arena, tempat Atletico kalah dalam leg kedua babak semifinal Liga Champions Eropa 2015/2016.

Tapi, untuk sekarang ini, Simeone boleh saja berbangga. Selain memperpanjang rekor baiknya ketika berhadapan dengan Ancelotti, yang sudah tercipta ketika Don Carlo masih menangani El Real, Atletico berhasil mematahkan rekor kemenangan beruntun Bayern München dalam segala kompetisi pada awal musim 2016/2017.

Terkhusus untuk Bayern, Vicente Calderon masih belum tertembus oleh mereka.

foto: Wikipedia

Komentar