Celoteh Paul Scholes Tentang Sisi Buruk Liga Primer Inggris

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Celoteh Paul Scholes Tentang Sisi Buruk Liga Primer Inggris

Setiap orang boleh memiliki ciutannya sendiri mengenai Liga Primer Inggris. Salah seorang penulis Pandit Football Indonesia, Frasetya Vady Aditya, pernah berujar dalam tulisannya bahwa Liga Primer Inggris takkan pernah bisa menyamai Liga Spanyol, pun dengan pernyataan dari Mourinho bahwa Liga Primer Inggris lebih kompetitif.

Sah-sah saja mereka mengatakan hal tersebut. Jika Adit memperkuat pernyataannya itu dengan argumen bahwa pembagian hak siar di Liga Primer Inggris merata sesuai dengan prestasi yang diraih, Mou mengungkapkan Liga Primer Inggris ketat karena setiap minggunya pasti akan ada kejutan yang terjadi (ia mengalaminya ketika Chelsea dikalahkan Bradford City).

Baca Juga: Liga Spanyol Tak Akan Setara dengan Liga Inggris

Jika Mou dan Adit mengeluarkan pendapat yang positif yang perihal Liga Primer Inggris, lain halnya dengan yang diungkapkan oleh Paul Scholes, yang baru-baru ini menelurkan buku terbaru bersama rekan-rekan Class of ’92 nya berjudul Class of ’92: Out of Our League. Ia berkicau banyak hal perihal Liga Primer Inggris, tempat ia bermain semasa aktif menjadi pemain.

Berikut adalah beberapa kicauan yang ia ucapkan dalam bukunya tersebut, dan ada dua hal penting yang ia soroti dari Liga Primer Inggris.

Liga Primer Inggris yang Sudah Mulai Komersil

Paul Scholes berujar, bahwa Liga Primer Inggris sekarang sudah bukan lagi liga yang dibentuk sebagai dasar dari sepakbola Inggris. Ia berujar dalam bukunya bahwa Liga Inggris sekarang sudah komersil, dan hanya mementingkan perputaran uang di dalamnya.

“Sekarang semuanya hanya tentang uang dan sponsor di sini (Inggris) daripada tentang sepakbola dan hiburan masyarakat itu sendiri. Dan saya kira, itu tidak hanya terjadi di level teratas kompetisi saja, tapi jauh, jauh sampai kompetisi level bawah,” ujarnya.

“Uang adalah hal yang terpenting dalam sepakbola Inggris saat ini karena pemilik klub, kebanyakan dari mereka, hanya tertarik untuk mencari keuntungan dari klub sepakbola yang ia pimpin. Mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi pada akhir pekan. Mereka benar-benar pebisnis, dan mereka yang membuat liga ini menjadi komersil,” tambahnya.

Akibat dari komersialisasi ini, Scholes berkata bahwa tekanan berat ada di pundak para manajer tim. Para manajer ini diwajibkan untuk membawa tim terus menang tiap minggunya, dan itu menjadi sebuah tekanan tersendiri bagi para manajer.

“Akibat dari komersialisasi ini, manajer menghadapi tekanan yang begitu berat. Kalah di lima pertandingan, mereka akan dipecat. Mereka menjadi orang-orang yang takut kehilangan pekerjaannya. Jika saya menjadi manajer, mungkin saya juga akan mengalami hal yang sama,” tambahnya.

Akibat dari Liga Primer Inggris yang mulai komersil ini, ia mulai berpaling menonton pertandingan lain. Sekarang, ia sedang giat menonton pertandingan Salford City, dan menjadi pemilik dari klub non-liga asal Manchester ini bersama Class of ’92 yang lain, seperti Gary Neville, Nicky Butt, Phil Neville, dan Ryan Giggs. Ia juga lebih senang menonton klub anaknya, Royter Town.

“Saya lebih senang menonton pertandingan Salford City. Pergi ke sana, saya cukup datang dan memarkirkan mobil saya di dekat lapangan, tanpa perlu bergabung dengan kemacetan. Namun, saya lebih terhibur lagi ketika saya menonton pertandingan tim anak saya,” ujar Scholes.

“Tim anak saya bernama Royter Town. Tim itu adalah timnya para pria, meski anak saya masih berusia 16 tahun. Ia mulai rutin bermain sejak musim ini. Terakhir saya menonton pertandingannya, skor pertandingannya sampai 5-4. Benar-benar hiburan yang mengasyikkan,” tambah Scholes

Kekurangan Pemain Berkualitas

Dalam bukunya itu, ia juga mengujarkan bahwa Liga Primer Inggris kekurangan pemain-pemain berkualitas. Ia tidak menampik bahwa banyak pemain bintang yang membela klub-klub di Liga Primer Inggris, namun, ia menyoroti bahwa pemain-pemain tersebut minim kualitas.

Baca Juga: Liga Spanyol Terlalu Mudah?

“Harus ada langkah peningkatan yang dilakukan oleh Inggris, dan salah satunya adalah dengan menggunakan pemain yang berkualitas. Saat ini, di mata saya, hanya ada tiga pemain berkualitas di Inggris, yaitu Sergio Aguero, Kevin de Bruyne, dan David Silva (semuanya pemain Manchester City). Sisanya? Ada di negara-negara lain,”

“Lionel Messi bermain di Spanyol bersama Barcelona, bersama dengan Neymar. Gareth Bale? Dulu ia bersama Tottenham. Sekarang, ia sudah pindah ke Real Madrid, bersama Cristiano Ronaldo yang dulu membela Manchester United,” ujar Scholes.

Ia juga mengungkapkan bahwa ketiadaan pemain-pemain yang berkualitas, yang ia nilai sekarang berada di La Liga, Juventus, dan Bayern Muenchen, memengaruhi kualitas permainan dari klub-klub Liga Primer Inggris, yang sudah mulai sulit untuk berbicara di ajang Eropa.

“Ada banyak pemain-pemain bagus, sangat banyak. Namun, kualitas mereka masih kurang. Dalam dua tahun ke belakang, pernahkah saya melihat permainan berkualitas dan membuat saya berkata, “Wow!"? Lalu, saya melemparkan ingatan saya kepada pertandingan yang saya pernah tonton, seperti Real Madrid-Barcelona, Bayern Muenchen-Borussia Dortmund, dan Juventus-Roma. Saya pun berpikir, apakah mereka juga menikmati Liga Primer Inggris,” ujarnya.

**

Itulah sedikit ciutan dari Paul Scholes mengenai Liga Primer Inggris, tempat ia banyak menghabiskan masa sebagai pesepakbola. Anda boleh setuju atau tidak setuju dengan ciutan ini. Namun, melihat apa yang ia ujarkan, tampak bahwa ia sekarang sudah kecewa dengan glamornya Liga Primer Inggris, yang konon katanya adalah liga terbaik di dunia.

foto: Wikimedia

Komentar