Faktor-Faktor yang Membuat Sibuknya Bursa Transfer Serie A

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Faktor-Faktor yang Membuat Sibuknya Bursa Transfer Serie A

Bursa transfer musim panas 2016/17 secara resmi telah ditutup 1 September 2016. Beragam kegilaan dalam belanja pemain untuk musim panas 2016/17 telah berakhir. Salah satu kompetisi sepakbola di dunia, Liga Primer, juga tercatat menandai sejarah pengeluaran dalam satu bursa transfer dengan membuat total 1,152 miliar paun.

Pengeluaran besar-besaran ternyata tidak hanya dilakukan oleh Liga Primer. Kompetisi sepakbola teratas di Italia, Serie A, juga tidak mau kalah. Meski secara angka pengeluaran kalah ketimbang Liga Primer, namun kesebelasan-kesebelasan Italia tak kalah boros. Salah satu buktinya adalah rekor transfer Gonzalo Higuain senilai 90 juta euro dari Napoli ke Juventus.

Transfer di Serie A sendiri mengalami perkembangan yang cukup pesat jika melihat musim lalu yang terbilang minim angka-angka luar biasa. Di musim lalu, menurut transfermarkt, Serie A hanya mencatatkan pemasukan transfer 631 juta euro dan pengeluaran 674 juta euro. Sementara di musim ini, pemasukan yang diterima kesebelasan Serie A mencapai 687 juta euro, dan pengeluaran sebanyak 720 juta euro.

Jumlah tersebut pun membuat Serie A mencatatkan diri sebagai kompetisi nomor dua pengeluaran tertinggi di bawah Liga Primer. Sementara, untuk pemasukan, Serie A menjadi kompetisi nomor satu dalam mendapatkan uang dari penjualan pemain. Namun ini tak termasuk dengan neraca dari pengeluaran dan pemasukan transfer.

Jika melihat angka pemasukan dan pengeluaran, pertumbuhan begitu terlihat. Namun, apa yang mendasari munculnya pertumbuhan tersebut? Berikut faktor-faktor yang mendasari pembelian dan pengeluaran yang melatarbelakangi bertumbuhnya angka tersebut.

Eksistensi Juventus Dalam Lima Musim Terakhir

Dominasi Juventus di kompetisi sepakbola Italia lima musim terakhir menjadi faktor utama pertumbuhan angka-angka ini. Betapa tidak, kesebelasan lain tentu tidak ingin hanya menjadi hidangan tambahan dalam persepakbolaan Italia.

Beberapa kesebelasan sendiri sudah mulai menancapkan tiang untuk mengejar pencapaian Juventus dalam beberapa musim terakhir, seperti halnya AS Roma dan Napoli. Meski kedua kesebelasan tersebut tidak mampu menggelontorkan uang segila Juventus, apresiasi patut diberikan karena keduanya begitu aktif melakukan perbaikan skuat, setidaknya dalam beberapa musim terakhir, sepeti yang dilakukan oleh Juventus sekembalinya dari Serie B.

Di musim ini, beberapa kesebelasan pun mulai mencoba untuk mengikuti langkah keduanya, seperti Inter dan Fiorentina. Inter bahkan rela menghamburkan 80 juta euro demi tiga pemain saja. Sesuatu yang jarang dilihat Inter dalam lima musim terakhir.

Tujuan kesebelasan-kesebelasan tersebut mengejar pencapaian Juventus dalam lima musim terakhir tentu adalah soal eksistensi. Ketika mereka sudah mencatatkan eksistensi (juara misalnya), sesuatu bakal lebih mudah mereka dapatkan. Selain uang, mereka juga bisa dengan mudah merayu pemain.

Pemilik Baru

Menurunnya persepakbolaan Italia dalam beberapa tahun terakhir rupanya tidak mengurangi minat investor asing untuk melirik kesebelasan Italia. Per Juni 2016, Suning Group yang dipimpin oleh Zhang Jingdong resmi mengakuisisi Inter setelah memiliki 68,50% saham kesebelasan asal Milan tersebut.

Tidak mau kalah dengan kompatriotnya, The Sino-Europe Investment Management Changxing yang dipimpin Han Li dan Yonghong Li, mengakuisisi AC Milan setelah mendapatkan 99,93% saham Milan dari Silvio Berlusconi, yang akan diresmikan dalam waktu dekat.

Diambil-alihnya Inter oleh pemilik baru rupanya membuat Inter menjadi trengginas di bursa transfer. Tak kurang dari 100 juta euro digelontorkan oleh Jingdong untuk memperbaiki pencapaian musim lalu. Hasilnya, beberapa nama berhasil direkrut, diantaranya adalah Antonio Candreva, Joao Mario, Gabriel Barbosa, hingga pemain muda, seperti Gianluca Caprari.

Pengeluaran tersebut menjadikan Inter kesebelasan paling defisit di Serie A musim ini. Situs transfermarkt mencatat, di bursa transfer musim panas 2016/17, Inter menjadi kesebelasan paling merugi, dengan total defisit 100 juta euro.

Kasus berbeda dialami oleh Milan. Lamanya proses transfer dan akuisisi membuat pergerakan mereka tak selincah rival sekotanya. Namun bisa dipastikan, jika proses akuisisi Milan telah rampung, bukan tidak mungkin mereka bakal lebih panas di bursa transfer.

Faktor Piala Eropa 2016

Italia memang tak mampu masuk final di Piala Eropa 2016. Namun apa yang mereka tunjukkan di turnamen tersebut membuat mereka mampu menunjukkan bahwa kompetensi pemain mereka tak kalah bagus ketimbang negara-negara yang dikenal sebagai penghasil pemain berbakat, seperti Jerman dan Spanyol.

Piala Eropa 2016 juga berfungsi sebagai ajang unjuk gigi untuk pemain yang tengah diincar. Hasilnya, beberapa pemain Italia yang masuk ke skuat Italia untuk Piala Eropa 2016 hijrah ke kesebelasan lain setelah kompetisi tersebut.

Alasan di atas rupanya berlaku pula untuk pemain yang sebelumnya berkompetisi di luar Serie A. Forza Italian Football sempat menyebut, kompetisi Italia diminati lantaran sebagai arena yang pas untuk pembuktian sampai sejauh mana pemain yang bersangkutan dapat ditempa.

Pelatih Italia di Kompetisi Luar Negeri

Serie A sejak lama dikenal sebagai kompetisi yang cukup sulit. Faktor taktikal begitu kental di kompetisi ini. Oleh karena itu, diliriknya pelatih asal Italia yang berkarier di kompetisi luar Italia berupaya mendatangkan pemain asal Italia karena diyakini tidak akan sulit menyamakan persepsi mengenai skema permainan.

Beberapa pelatih Italia yang pada musim ini melatih di kompetisi luar negeri, seperti Antonio Conte dan Walter Mazzarri pun tak segan untuk mendatangkan pemain-pemain dari Serie A untuk mempermudah kerjanya di kesebelasan barunya. Pada bursa transfer musim panas 2016/17, Conte mendatangkan Marcos Alonso, sementara Mazzarri mendatangkan Stefano Okaka dan Roberto Pereyra.

Pemain Lulusan Serie A yang Bermain di Kompetisi Luar Negeri

Bermainnya pemain lulusan Serie A yang berada di luar Italia menjadi alasan terakhir mengapa banyak kesebelasan begitu berambisi mendatangkan pemain asal Serie A. Beberapa pelatih diklaim memilih mereka bukan hanya melihat faktor skill, namun juga pemahaman akan taktik.

Selain pemahaman akan taktik, pemain lulusan Serie A maupun juga banyak dipilih karena mereka dirasa berharga lebih murah ketimbang pemain negara lain, seperti halnya Inggris, maupun Portugal, yang mendapatkan gelar juara Piala Eropa 2016.

Beberapa pelatih yang musim ini mendatangkan banyak pemain lulusan Serie A ke skuatnya adalah Jorge Sampaoli dan Marcellino (yang pada akhirnya dipecat sebelum kompetisi di mulai). Sampaoli musim ini mendatangkan Franco Vazquez, Salvatore Sirigu, dan Joaquin Correa. Sementara Marcellino mendatangkan Nicola Sansone, Roberto Soriano, dan Alexandre Pato.

***

Beberapa faktor di atas menjadi alasan utama betapa riuhnya transfer Serie A musim panas ini. Keriuhan ini menjadi bukti bahwa Serie A bisa mulai diperhitungkan kembali sebagai penguasa sepakbola di benua biru.

Komentar