"Bola Panas dan Bola Dingin" Sebagai Skandal Pengundian Liga Champions Eropa 2016/2017

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

"Bola Panas dan Bola Dingin" Sebagai Skandal Pengundian Liga Champions Eropa 2016/2017

Beberapa waktu lalu, Sepp Blatter, sosok penerus Joao Havelange di FIFA sekaligus manusia yang terlibat kasus suap bersama dengan koleganya di UEFA, Michel Platini, mewanti-wanti pada seluruh pecinta sepakbola dunia bahwa dalam gelaran Piala Eropa, mungkin saja ada sebuah kecurangan yang dilakukan, tepatnya saat pengundian grup.

Kepada ESPN FC, ia berujar bahwa ada sebuah metode yang bisa dilakukan oleh siapapun dan kapanpun untuk mengatur pengundian sebuah kompetisi sepakbola, utamanya yang berformat turnamen dan menggunakan sistem babak penyisihan grup, seperti Liga Champions Eropa, Piala Eropa, bahkan Piala Dunia. Ia menyebut metode ini sebagai metode "bola panas dan bola dingin".

"Saya masih ingat nama metodenya; bola panas dan bola dingin. Sebelum drawing dilakukan, beberapa bola ditempatkan di lemari pendingin dan beberapa bola yang lain dipanaskan. Secara teknis, hal ini tentu mudah untuk dilakukan," ujar Blatter kepada ESPN FC tepat saat Piala Eropa 2016 memasuki matchday kedua.

"Di Eropa, saya pernah lihat beberapa orang melakukannya. Tidak menutup kemungkinan, di Piala Eropa 2016 pun, hal ini dilakukan kembali," tambahnya saat itu.

Baca Juga: Mungkin Saja Ada Kecurangan Undian di Piala Eropa

Apa yang Blatter ucapkan diyakini kerap terjadi dalam setiap undian kompetisi Eropa. Bahkan kejadiannya terjadi bukan dalam kompetisi yang skalanya kecil, melainkan, terjadi dalam pengundian kompetisi yang terkenal sekolong jagat, Liga Champions Eropa.

Pada saat drawing Liga Champions Eropa 2016/2017 semalam (25/8), ada sebuah kejadian menarik. Pengundian Liga Champions Eropa 2016/2017 yang melibatkan beberapa pemain-pemain kenamaan di masa lampau seperti Ruud van Nistelrooy, Ian Rush, Clarence Seedorf, Thierry Henry, dan Roberto Carlos menyajikan sebuah cerita unik, terutama bagi Roberto Carlos yang kebetulan dimintai tolong untuk melakukan pengundian di pot 4.

Pot 4 berisikan tim-tim semenjana, sekaligus memiliki potensi besar untuk menjadi kuda hitam. Di dalamnya ada nama-nama seperti Glasgow Celtic (Skotlandia), AS Monaco (Prancis), Besiktas (Turki), Legia Warsawa (Polandia), Dinamo Zagreb (Kroasia), Ludogorets Razgrad (Bulgaria), FC Kopenhagen (Denmark), dan FC Rostov (Rusia). Kejadian unik nan aneh pun terjadi saat Carlos mengundi tim di pot 4 yang akan bersaing di grup A bersama Arsenal, Paris-Saint Germain, dan FC Basel.

Pemain timnas Brasil yang terkenal karena free kick mematikannya ini melakukan sebuah hal yang mungkin dianggap oleh orang-orang sebagai skandal dalam suatu pengundian grup sebuah turnamen sepakbola. Pada saat melakukan pengundian di pot 4, ia mengeluarkan sebuah bola. Alih-alih membuka isi bola, ia malah memasukkan bola tersebut kembali dan melakukan pengocokan sekali lagi, dan keluarlah nama Ludogorets yang mendampingi Arsenal, PSG, dan Basel di grup A.



Sekira menit ke-28, Roberto Carlos diperkenalkan, lalu diberikan kehormatan untuk melakukan pengundian tim-tim yang berada di pot 4. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Carlos mengambil bola dari pot, tapi tidak membukanya. Ia malah memasukannya lagi dan kemudian mengambil bola baru yang memunculkan nama Ludogorets di dalamnya.

Namun, jika diperhatikan lebih rinci (perhatikan di menit ke-28 sampai seterusnya), ada semacam gerakan yang tampak berupa kode yang diberikan oleh si koordinator pengundian kepada Carlos agar pemain asal Brasil ini tidak langsung mengambil bola dari pot, melainkan harus dikocok terlebih dahulu lalu diambil.

Carlos pun memahaminya, sehingga ia urung membuka isi bola pertama yang ia ambil. Ia memasukkan lagi bola itu, mengocoknya lagi, dan mengambil bola yang ada nama Ludogorets di dalamnya. (Perhatikan kembali dengan seksama dari menit ke-28 sampai seterusnya).

Meski ini bukan sebuah ciri dari kecurangan, namun, kejadian ini kadung mengundang reaksi keras para pecinta sepakbola dunia. Beberapa di antara mereka mengeluarkan umpatan di media sosial, dan menyebutkan apa yang dilakukan oleh si kaki kidal maut ini sebagai bentuk skandal terbesar abad ini. Beberapa juga ada yang mengungkapkan tentang "bola panas dan bola dingin" seperti yang pernah disinggung oleh Blatter.

Kecurangan dalam pengundian ini tentunya bukan yang pertama terjadi dalam sejarah Liga Champions Eropa. Seperti yang diungkapkan oleh Sepp Blatter, ia berujar bahwa pernah ada orang yang pertama kali melakukan kecurangan dalam pengundian Liga Champions Eropa maupun kompetisi Eropa, dan orang itu adalah orang Italia.

"Seingat saya, hanya ada satu orang yang mampu untuk melakukan hal ini, dan ia pernah menjabat sebagai presiden UEFA. Namanya adalah Artemio Franchi (presiden UEFA periode 1973-1983). Ia kerap melakukannya saat pengundian grup dan juga pengundian fase knockout Liga Champions Eropa ketika itu," ujar Blatter.

Menelaah apa yang dilakukan oleh Roberto Carlos ini, jika benar hal tersebut dilakukan karena segala sesuatunya telah "diatur" (meski tampak dalam video kalau ini adalah kesalahan dari Carlos sendiri), tentunya mengundang kelucuan sekaligus kegetiran tersendiri.

Lucu, karena mungkin di suatu tempat jauh di sana, Blatter sedang tertawa sembari berujar dalam hati "Hah, akhirnya muncul ke permukaan juga, rasakan, hahahaha". Getir, karena kecurangan seperti ini ternyata masih saja terjadi dalam sebuah kompetisi sepakbola.

foto: uefa.com

Komentar