??Hantu Helenio Herrera? yang Bangkit Lagi dalam Piala Eropa 2016

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

“Hantu Helenio Herrera” yang Bangkit Lagi dalam Piala Eropa 2016

Jonathan Wilson berkata dalam tulisannya dalam laman The Guardian bahwa Piala Eropa 2016 adalah masa the death of possession football atau matinya sebuah cara bernama possession football dalam usaha sebuah tim untuk mencetak gol. Di dalamnya beliau juga mengujarkan bahwa motif-motif dibalik sebuah tim yang berusaha untuk lolos-lah yang membuat possession football mati.

Memang sedikit main hakim sendiri apabila menilai bahwa Piala Eropa 2016 adalah tanda-tanda dari matinya possession football yang sempat dihidupkan kembali oleh Pep Guardiola semasa ia melatih Barcelona dengan pergerakan yang, sedikitnya mewariskan dari apa yang pernah Cruyff terapkan di Barca, total football a la Belanda.

Namun, melihat dari cara bermain tim-tim dalam ajang tersebut, termasuk sang juara Portugal, dan juga turunnya jumlah gol meski pertandingan yang ada dalam ajang Piala Eropa 2016 ini lebih banyak (hanya 108 gol dari 51 pertandingan, bandingkan dengan Piala Eropa 2012, 77 gol dari 31 pertandingan), maka sebuah kekhawatiran patut untuk dipikirkan; apakah setelah ajang Piala Eropa 2016 ini, possession football akan benar-benar mati atau tidak?

Jauh sebelum Wilson mengungkapkan bahwa Piala Eropa 2016 ini adalah kejadian matinya possession football, Sindhunata dalam esainya di buku Bola di Balik Bulan pernah membahas tentang fenomena yang sama. Fenomena yang terjadi jelang Piala Eropa 1992 yang ia jadikan sebagai salah satu judul esainya di buku tersebut, yaitu “Hantu Helenio Herrera”.

**

Siapa yang tidak kenal akan Helenio Herrera? Pelatih yang berhasil membentuk La Grande Inter, yang pernah merajai Eropa dan Italia pada pertengahan dekade 60an ini meninggalkan sebuah warisan yang cukup sulit untuk dilupakan oleh para pegiat dunia sepakbola pada zaman setelahnya. Sebuah warisan yang berupa Catenaccio, modifikasi dari sistem Verrou milik pelatih Swiss, Karl Rappan, orang yang dianggap sebagai penemu Catenaccio yang sebenarnya.

Dengan Catenaccio ini, Inter berhasil menjuarai dua kali gelaran Liga Champions Eropa, tiga kali Scudetto, dan dua Piala Interkontinental. Tak heran, sistem ini begitu agung pada masanya dan menjadi sebuah warisan taktik dunia sepakbola, selain tentunya sistem total football yang pernah didengungkan Jimmy Hogan kemudian dieksekusi oleh seorang Rinus Michels bersama timnas Belanda dan Ajax Amsterdam pada dekade 70-an.

Namun, siapa sangka, efek yang ditanamkan oleh Catenaccio, yang memang lahir dari kultur pecundang orang Italia, seperti yang diujarkan oleh Gianluca Vialli dalam buku The Italian Job, begitu kuatnya. Sebelum gelaran Piala Eropa 1992, para pengamat sepakbola menilai bahwa sepakbola mengalami kemandegan gaya dan taktik, karena pengaruh dari “Hantu Helenio Herrera” berupa Catenaccio ini begitu kuat.

Romo Sindhu dengan jelas menggambarkan dalam esainya bahwa Herrera dicap sebagai “pendosa dunia bola” dan juga “diktator” dalam dunia bola. Meski sempat melahirkan sistem permainan menghibur dalam bentuk total football, dan juga sistem-sistem lain yang berhasil ditemukan oleh Cesar Luis Menotti, yang membawa Argentina juara Piala Dunia 1986, dan juga Arrigo Sacchi yang sempat berusaha melepas sistem Catenaccio dari Italia, nyatanya pengaruh dari Catenaccio begitu terasa, bahkan sampai pada gelaran Piala Dunia 1990.

Maka, tak heran sampai sebelum Piala Eropa 1992, para pengamat sepakbola saat itu bingung, apakah sistem defensif – yang kala itu begitu diagungkan sebagai cara meraih kemenangan – akan tetap bertahan, ataukah akan ada sistem baru lain yang muncul untuk mengatasi kemandegan tersebut.

Hasilnya? Denmark juara Eropa 1992.

***

Pada Piala Eropa 2016, tidak seperti sebelum gelaran Piala Eropa 1992, sedikit sekali pengamat bola yang mengkhawatirkan bahwa “Hantu Helenio Herrera” akan kembali muncul. Prancis, tuan rumah, bermain atraktif. Jerman bermain menyerang dengan penuh organisasi dan perhitungan. Inggris masih tetap suka berlari-lari dan menyisir lapangan. Namun, dengan 24 tim yang menjadi peserta Piala Eropa, siapa sangka bahwa “hantu” Il Mago – julukan Herrera – akan muncul kembali?

Islandia bermain begitu defensif. Pun dengan Polandia dan juga Irlandia Utara. Wajar, mereka adalah tim-tim kuda hitam yang jika bermain terbuka, maka hancur leburlah mereka. Namun, Portugal? Tim yang berisikan Cristiano Ronaldo dan Nani ini pun bermain sebegitu defensifnya dan pada akhirnya menjadi juara?

Portugal menjadi juara dengan bermain defensif. Mengalahkan Prancis yang juga mengalahkan Jerman pada babak semi-final dengan permainan defensif. Namun, rupa-rupanya, seperti yang Jonathan Wilson ungkapkan dalam tulisannya, pengaruh dari bangkitnya sistem defensif, yang dimunculkan lagi oleh Jose Mourinho di Inter Milan kala harus menghadapi possession football Barcelona, lebih bersifat psikologis.

Ketika sudah unggul 1-0, tak ada keinginan untuk menambah skor (tanpa menaruh rasa hormat pada Belgia, Jerman, dan Prancis). Lebih baik bertahan dan kemudian menjadi pemenang dalam akhir laga atau lolos ke babak selanjutnya. Lihat saja bagaimana Portugal menjadi juara. Sistem bertahan yang teroganisir dan gol yang dicetak oleh seorang “bebek yang menjadi angsa yang indah”, sebagaimana Yunani pada 2004 lalu.

Atau, ini juga bisa terjadi lantaran sistem Piala Eropa 2016 dengan 24 tim yang "aneh" ketika fase grup hanya mengeliminasi 8 tim saja untuk melaju ke babak knock-out 16 besar. Empat kesebelasan penghuni peringkat ketiga grup (dari empat anggota grup!) "terbaik" berhak lolos ke babak 16 besar sehingga banyak tim yang "santai" saja di fase grup karena, toh, mereka juga masih bisa lolos dengan menjadi peringkat ketiga. Tidak mengherankan kenapa banyak tim defensif bisa bermunculan di babak knock-out. Ini seperti blunder Michel Platini.

Anehnya, ketika sistem permainan defensif ini muncul, tak ada sistem penyerangan baru yang muncul. Possession football hasil racikan Pep Guardiola tumpul (lihat bagaimana sulitnya ia menembus tembok Atletico Madrid). Possession football yang beberapa kali ditunjukkan oleh tim seperti Jerman dan Belgia, begitu sulit menembus pertahanan ketat dari tim seperti Polandia ataupun Wales. Belum ada sistem penyerangan yang ampuh untuk memutus sistem defensif ini.

Kalau hal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin bahwa “arwah” dari Helenio Herrera akan tetap menghantui kita. Pada akhirnya, akan terjadi sebuah kemandegan kembali, dan sepakbola akan dipandang sebagai hal yang membosankan bagi para pecinta sepakbola menyerang.

Tapi, kembali, "membosankan" atau tidaknya sepakbola itu relatif, dan penting atau tidaknya bermain membosankan juga relatif. Tanyakan kepada Portugal, apapun cercaan yang mereka dapatkan, mereka tidak peduli dan mereka tetap juara Piala Eropa 2016.

Komentar