Portugal 2016 dan Yunani 2004 yang Begitu Dekat

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Portugal 2016 dan Yunani 2004 yang Begitu Dekat

Piala Eropa 2016, yang telah menemani perjalanan pecinta sepakbola hampir satu bulan terakhir bakal menemukan klimaksnya. Senin (11/7) dini hari WIB, turnamen antar negara Eropa ini akan menyajikan partai final yang mempertemukan kesebelasan tuan rumah, Prancis, dengan kesebelasan Portugal. Jika keduanya diibaratkan, sama seperti perbedaan bumi dan langit.

Prancis, yang bertindak sebagai tuan rumah memang diibaratkan bakal melaju sejauh ini – hingga partai final. Meski sempat limbung jelang penyelenggaraan turnamen akibat cederanya beberapa pilar utama di lini belakang, namun kombinasi antara pemain pengganti berkualitas serta dukungan suporter yang selalu memadati venue membuat harapan Les Blues untuk menjadi juara sedikit lagi menjadi nyata.

Di sisi lain, lawan Prancis di final nanti, Portugal, meski tidak bisa diremehkan jelas tetap punya peluang untuk menang. Ya, meski perjalanan mereka ke final bisa dibilang begitu berliku, anak asuh Fernando Santos mampu membuktikan semua catatan buruk mereka di babak penyisihan dengan terus melaju ke partai puncak.

Meski demikian, bukan Piala Eropa 2016 namanya jika tidak membuat catatan unik. Duel antara Prancis melawan Portugal adalah partai final Piala Eropa kelima yang mempertemukan kesebelasan tuan rumah melawan kesebelasan tamu, yang dalam partai terakhir, Portugal yang menjadi salah satu kontestannya.

Seperti yang diketahui, partai final terakhir antara tuan rumah melawan tamu, adalah ketika Portugal menghadapi Yunani di pertandingan puncak Piala Eropa 2004. Pada laga tersebut kesebelasan berjuluk Selecao harus menerima pil pahit usai kalah 0-1 lewat gol Angelos Charisteas di menit ke-57.

Dengan fakta tersebut, banyak pihak mengungkapkan bahwa Portugal saat ini memiliki “kedekatan” dengan Yunani di tahun 2004. Betapa tidak, meski jalan yang dilalui oleh Yunani lebih lancar namun melihat kenyataan yang ada, Portugal memang begitu mewarisi kesebelasan nasional berjuluk Ethniki tersebut. Berikut beberapa faktor “kedekatan“ yang muncul dari perjalanan kedua kesebelasan.

Kemiripan pertama perjalanan kedua kesebelasan di masing-masing Piala Eropa dimulai dari babak kualifikasi. Pada tahun 2004, tepatnya 7 September 2002, Yunani memulai perjalanan kualifikasi Piala Eropa dengan buruk. Berstatus kesebelasan tuan rumah, mereka terpaksa mengalah dari Spanyol di laga pertamanya dengan skor 0-2 lewat gol Raul Gonzalez dan Juan Carlos Valeron.

Selang 12 tahun kemudian, pada 7 September 2014, Portugal melakukan hal yang sama dengan Yunani. Berstatus kesebelasan unggulan. Portugal yang saat itu masih diasuh oleh Paulo Bento juga menerima pil pahit usai dikalahkan Albania 0-1. Juga sama ketika bermain di kandang sendiri.

Beruntung, kedua kesebelasan memiliki semangat juang yang tinggi. Yunani yang kembali kalah di laga kedua, mampu mengakhiri kualifikasi dengan status juara grup. Sementara Portugal yang langsung mengganti Bento dengan Fernando Santos beberapa pekan berikutnya juga menutup tujuh laga sisa babak kualifikasi Piala Eropa 2016 dengan kemenangan dan status juara grup.

Hal kedua yang disebut banyak pihak begitu mirip antara kedua kesebelasan adalah gaya bermain di putaran final. Ya, bagi siapa saja yang menyaksikan Portugal di Piala Eropa 2016 mungkin akan teringat dengan apa yang ditunjukkan oleh Yunani di Piala Eropa 2004. Sama-sama mengejar kepuasan utama sepakbola; untuk memenangkan pertandingan.

Kedua kesebelasan menunjukkan bagaimana caranya untuk memenangkan pertandingan sepakbola. Permainan pragmatis yang ditunjukkan oleh kedua kesebelasan menjadi satu faktor bagaimana keduanya dibilang mirip. Kedua kesebelasan tidak peduli bermain buruk atau cantik karena tujuan bermain keduanya adalah hanya untuk memenangkan pertandingan.

Laga Yunani melawan Republik Cheska di Piala Eropa 2004 bisa menjadi contoh bagaimana mereka disiplinnya mereka. Meski digempur habis-habisan oleh Cheska – sampai membuat pelatih Cheska, Karel Bruckner mengernyitkan dahi tanda tidak percaya – Yunani tetap begitu disiplin. Silver goal Traianos Dellas pada akhirnya menjadi buah kesabaran mereka.

Tidak jauh berbeda dengan Yunani pada 2004, Portugal melakukan hal yang sama di babak perdelapanfinal Piala Eropa tahun ini. Dalam laga melawan Kroasia, yang memecahkan rekor tidak ada shot on target dalam 115 menit pada Piala Eropa, Portugal mampu bermain begitu sabar. Kesabaran mereka pun menghasilkan lolosnya kesebelasan ini ke babak perempatfinal.

Berbicara soal pragmatisme Portugal dan Yunani, Fernando Santos menjadi sosok utama yang harus diperbincangkan. Pasalnya, ia menjadi sosok “kunci” keberhasilan Yunani menjuarai Piala Eropa di tahun tersebut.

Meski pada tahun tersebut ia tengah menjabat sebagai pelatih Sporting CP, namun beberapa nama yang menghuni skuat Yunani merupakan eks anak didiknya ketika ia menangani AEK Athens dan Panathainaikos. Bahkan jika dihitung, total 10 orang pemain Yunani di Piala Eropa 2004 merupakan eks anak didik Santos.

Meski demikian, sejatinya sepakbola adalah pertarungan teknis dan non-teknis di lapangan hijau dan bukan soal “kedekatan”. Namun siapa tahu, dengan “kedekatan-kedekatan” ini, Portugal bakal memiliki nasib yang sama dengan Yunani. Siapa tahu?

Komentar