Jangan Dulu Berekspektasi Tinggi Pada Takuma Asano

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Jangan Dulu Berekspektasi Tinggi Pada Takuma Asano

Arsenal melakukan langkah yang terbilang unik dalam transfer yang mereka lakukan di musim panas ini. Saat klub-klub Liga Primer Inggris yang lain memburu nama-nama besar, Arsenal malah menjatuhkan pilihannya kepada Takuma Asano, pemain asal Jepang yang masih berusia 21 tahun.

Hal ini tentunya menimbulkan pertanyaan dalam dada sebagian besar suporter The Gunners. Apalagi mereka punya pengalaman buruk dengan pemain-pemain Asia, utamanya pemain Jepang. Mereka tentu akan ingat bagaimana Ryo Myaichi dan Junichi Inamoto yang gagal di Arsenal, belum lagi Park Chu-Young yang juga tidak memiliki karier yang bagus selama di Emirates.

Namun, entah kenapa Wenger kali ini begitu yakin dengan apa yang ia lakukan. Kepada Daily Mail, ia berujar bahwa perekrutan Asano ini tepat karena ia adalah penyerang berbakat dan perekrutan ini akan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

“Takuma (Asano) adalah penyerang muda berbakat dan memiliki masa depan yang cerah. Ia memiliki karir yang cemerlang di Jepang dan kami berharap bahwa ia akan berkembang dalam tahun-tahun yang akan datang, sehingga akan memberikan keuntungan tersendiri bagi kami,” ujar Wenger.

Namun, di balik rasa pesimis, suporter Arsenal juga berharap, bahwa Asano akan menyamai jejak seniornya, Shinji Okazaki yang sukses bersama Leicester City musim lalu. Apalagi, Asano dan Okazaki mengenal sepakbola dari akar yang sama; sepakbola SMA. Asano tidak langsung mengenal dunia profesional pada masa awalnya menendang bola. Ia baru mengenal dunia profesional saat bergabung dengan Sanfreece Hiroshima.

Dirinya pun menjadi bagian dari kejayaan Sanfreece Hiroshima di J-League. Ia menjadi bagian dari skuat Sanfreece yang meraih gelar juara J-League pada musim 2015, dengan dirinya yang mendapatkan gelar J-League Rookie of the Year. Selain itu, berkat penampilan gemilangnya di Sanfreece, ia pun berhasil masuk skuat timnas Jepang. Debutnya di timnas senior ia dapatkan dalam ajang East Asian Cup 2015, kala Jepang takluk 2-1 atas Korea Utara.

Total, sampai saat ini Asano sudah mencetak lima kali penampilan bersama timnas Jepang dan mencetak satu gol. Sedikit penampilannya bersama timnas inilah yang akan sedikit menjadi masalah bagi dirinya. Hal ini berkaitan dengan “Brexit”, yang kelak akan mempersulit izin kerja Asano di London.

Seperti yang kita ketahui, pada 23 Juni kemarin, Britania Raya (termasuk Inggris di dalamnya), sudah mengadakan referendum yang menghasilkan keputusan bahwa Britania Raya akan keluar dari Uni Eropa, sebuah referendum yang dinamakan “Brexit”. Dengan adanya keputusan ini, maka izin kerja para pemain dan juga masalah transfer pemain ke Liga Primer Inggris akan semakin sulit, utamanya bagi pemain yang tidak memiliki banyak jam terbang di tim nasional seperti Asano.

Namun, dengan usia Asano yang masih muda, hal ini tentu bukan menjadi masalah. Dengan usianya yang masih muda, adalah keputusan bijak bagi Wenger untuk “menyekolahkan” pemain ini ke tim lain ataupun ke liga lain. Hal sama yang pernah dialami Myaichi kala berseragam Arsenal.

Wenger bisa saja meminjamkan Asano terlebih dahulu agar sang pemain lebih mengenal atmosfer sepakbola Eropa. Setelah cukup pengalaman, ia bisa menarik kembali pemain ini untuk kemudian diberikan kesempatan bersaing dengan para pemain Arsenal lainnya. Jerman bisa menjadi negara tujuan yang baik untuk peminjaman Asano ini, mengingat negera ini begitu ramah kepada para pemain Jepang.

Juga, dengan bertambahnya jam terbang Asano di kompetisi Eropa, maka pengalaman timnasnya pun akan bertambah seiring dengan banyaknya jam terbang yang ia dapat di Eropa. Hal ini tentunya akan meningkatkan kualitas permainan Asano sendiri yang pada akhirnya akan membuat dirinya lebih mudah mendapatkan izin kerja di Inggris yang terkenal ketat (kalau andaikan “Brexit” diloloskan oleh Uni Eropa).

Oleh karenanya, suporter Arsenal di sini haruslah tidak berekspektasi terlalu tinggi kepada Asano, seperti yang pernah mereka lakukan kepada seorang Myaichi yang pada akhirnya berujung kecewa. Asano, seperti halnya pemain Jepang kebanyakan, adalah pemain pekerja keras. Ia tentunya akan terus mengembangkan dirinya, apalagi ia berasal dari sepakbola SMA, sepakbola yang penuh dengan kedisiplinan di dalamnya.

Maka, biarkanlah untuk sekarang, Asano mengenal Eropa terlebih dahulu. Masalah nanti berhasil atau tidaknya ia berkembang, akan ditentukan oleh kebijakan manajemen Arsenal dan Asano sendiri. Toh, semua akan matang pada waktunya, seperti halnya buah yang jatuh dari pohon ke tanah ketika sudah matang.

foto: Pixabay

Komentar