Hutang Budi Jerman Pada Slovakia

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Hutang Budi Jerman Pada Slovakia

Jerman harusnya berterima kasih kepada Slovakia. Pernah ada suatu momen yang membuat Slovakia menjadi sebuah batu loncatan bagi timnas Jerman masa kini, timnas Jerman yang kita kenal sebagai juara dunia 2014.

Mengapa harus berterima kasih kepada Slovakia? Bukankah tim ini yang dalam uji tanding kemarin mengalahkan Jerman dengan skor 2-1? Lalu kenapa harus berterima kasih? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah sejenak kita lemparkan ingatan kita kembali ke 2005, tahun di saat Jerman sedang dalam masa persiapan menuju Piala Dunia.

Ya, ketika itu, Jerman sedang mempersiapkan diri. Bukan hanya mempersiapkan diri karena menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006, namun juga mempersiapkan tim yang kelak akan bertanding dalam ajang antar negara empat tahunan tersebut. Sebagaimana halnya tuan rumah yang lain, Jerman tentu tak ingin menanggung malu.

Kala itu, Die Mannshcaft yang diasuh oleh Juergen Klinsmann melakukan serangkaian laga uji tanding sebagai persiapan menghadapi Piala Dunia di tanah sendiri. Dalam masa uji tanding tersebut, seperti lazimnya sebuah uji tanding, Jerman menghadapi negara-negara lain untuk mengukur sejauh mana kemampuan timnas Jerman dalam mengikuti ajang Piala Dunia.

Namun, Klinsmann menemukan sebuah kesulitan. Timnas yang kala itu berisikan pemain-pemain yang sudah uzur, yang merupakan peninggalan dari timnas Jerman yang menjadi runner-up Piala Dunia 2002 namun hancur lebur dalam ajang Piala Eropa 2004 sedang mengalami sebuah masa transisi. Maka, tidak mengherankan dalam serangkaian uji tanding yang diadakan, Jerman belum meraih hasil yang memuaskan.

Hasil yang paling membuat masyarakat ragu adalah saat Agustus 2005, Jerman bermain imbang dengan Belanda dengan skor akhir 2-2. Kontan, hasil ini menuai reaksi keputusasaan, bahwa Jerman akan kembali tenggelam dan ambruk, seperti halnya ketika Piala Eropa 2004.

Majalah asal Jerman, Kicker, bahkan menuliskan sebuah kritik bagi Klinsi dalam salah satu artikelnya bahwa tak ada pemain yang menjadi pusat permainan sehingga tidak ada sebuah hirarki yang pasti dalam tim. Mereka juga menuliskan bahwa ketidakpastian mengenai nasib timnas Jerman semakin menyeruak.

Untuk menjawab segala kritikan yang mengalir, dan juga menjawab segala kepastian yang diinginkan oleh masyarakat Jerman ketika itu, maka Die Mannschaft mengadakan sebuah perjalanan ke Bratislava pada September 2005 untuk menghadapi tuan rumah, Slovakia. Klinsi berharap, semoga kritikan yang melaju pedas kepada dirinya akan segera hilang seiring kemenangan atas Slovakia.

Slovakia pun sedang mengalami masalah yang sama. Mereka tidak memiliki pemain yang bertalenta ketika itu, selain para pemain yang sudah matang yang juga bermain di Bundesliga seperti Miroslav Karhan, Marek Mintal, dan Robert Vittek. Ada juga nama pemuda berusia 20 tahun ketika itu bernama Martin Skrtel, pemuda yang kemudian menjadi salah satu tulang punggung timnas Slovakia.

Dua tim yang sedang mengalami masa perubahan dan ketidakpastian itu pun akhirnya bertemu. Pertandingan ini pun akhirnya menjadi sebuah pencerahan bagi seorang Klinsmann, yang kelak juga menjadi pencerahan bagi pelatih-pelatih timnas Jerman sampai sekarang (a.k.a. Joachim Loew). Pertandingan ini sendiri dimenangkan oleh Slovakia dengan skor 2-0.

Kejadiannya bermula ketika Jerman kebobolan gol pertama. Winger muda cepat asal Slovakia, Filip Holosko, dengan kecepatannya berhasil melewati bek Jerman, Christian Worns. Bola dilepaskan oleh Holosko ke kotak penalti untuk kemudian diterima oleh Mintal. Mintal memantulkan bola pada Vittek. Keadaan genting membuat Per Mertesacker gelagapan dan akhirnya melanggar Vittek di dalam kotak penalti. Penalti dieksekusi oleh Karhin dan gol. 1-0 untuk Slovakia.

Setelah itu, pertandingan mutlak menjadi milik Slovakia. Kecepatan yang mereka miliki bukanlah tandingan Jerman yang ketika itu diisi oleh pemain-pemain gaek. Slovakia pun mampu menambah lagi gol lewat Mintal yang me-lob bola melewati Jens Lehmann. Gol. 2-0 untuk Slovakia.



Dari situlah, Klinsi menemukan bahwa ia harus memercayakan permainan kepada para pemain muda, agar kelak menjadi sebuah fondasi bagi timnas Jerman nantinya. Akhirnya, masuk babak kedua, Klinsi pun menurunkan pemain-pemain muda yang baru saja sedikit mencicipi caps timnas ketika itu, seperti Marcell Jansen, Lukas Podolski, dan Bastian Schweinsteiger. Dua nama terakhir menjadi tulang punggung timnas Jerman, bahkan sampai mengantarkan Jerman juara dunia 2014.

Pertandingan pun selesai. Slovakia menang 2-0. Namun, Slovakia inilah yang menjadi sebuah pencerahan bagi timnas Jerman ketika itu. Klinsi yang berani menurunkan pemain muda pada babak kedua membuat permainan Jerman menjadi lebih hidup. Dimotori oleh gelandang senior, Michael Ballack, Jerman ketika itu mampu menciptakan beberapa peluang on goal, meski tidak menghasilkan gol.

Para pundit Jerman saat itu pun menyadari bahwa Jerman sedang dalam masa transisi untuk menuju tim juara seperti dahulu kala. Salah satu pemain kenamaan Jerman, Paul Breitner, berkomentar kepada Kicker bahwa kekalahan atas Slovakia ini adalah hal yang wajar karena mereka sedang dalam masa perubahan.

Bastian Schweinsteiger, peninggalan Bratislava, September 2005 yang masih bermain di timnas sampai sekarang. (foto: Wikipedia)

“Saya tidak terkejut dengan hasil ini (kekalahan atas Slovakia). Wajar saja, mereka sedang dalam masa transisi. Kalau nanti dalam ajang Piala Eropa 2008 ataupun Piala Dunia 2010, baru saya bisa mengatakan kalau mereka adalah calon juara,” ujar Breitner kala itu.

Dan, apa yang diucapkan Breitner menjadi kenyataan. Bahkan, terlalu cepat menjadi kenyataan karena 10 bulan setelah kekalahan atas Slovakia, skuat asuhan Klinsmann ini bertarung dalam babak semifinal Piala Dunia 2006 melawan Italia. Mereka kalah 2-0, namun berhasil menjadi juara tiga setelah mengalahkan Portugal dalam partai perebutan juara tiga dengan skor 3-1.

Selanjutnya, Jerman menjadi juara dua Piala Eropa 2008, juara tiga Piala Dunia 2010, semifinalis Piala Eropa 2012, dan puncaknya menjadi juara dunia 2014. Semua itu berawal dari kekalahan atas Slovakia yang membuat mata Klinsi dan Loew (yang ketika itu masih menjadi asisten pelatih), terbuka lebar bahwa tidak ada salahnya menggunakan pemain muda.

Jadi, sebenarnya, Jerman harus berterima kasih secara tidak langsung kepada Slovakia. Dan, rasa terima kasih itu harus diucapkan secara elegan saat Slovakia dan Jerman bertemu dalam babak 16 besar Piala Eropa 2016. Podolski dan Schweinsteiger yang berada di Bratislava pada September 2005 masih berada dalam skuat, menjadi artefak dari sebuah perubahan timnas Jerman yang lebih dinamis.

Maka, tak ada salahnya berterima kasih dengan cara mengalahkan mereka, bukan? Apalagi mereka juga sudah membuka mata Jerman saat Jerman kalah 1-3 dalam laga uji tanding, dan pemain-pemain masa transisi itu masih berada di tim, menyimpan kenangan akan perubahan yang terjadi sekitar 11 tahun lalu.

Komentar