Kenangan Manis Tim Samba di Negeri Paman Sam

Cerita

by Billi Pasha

Billi Pasha

Selalu menganggap sepakbola dan musik adalah dua hal paling indah di dunia

Kenangan Manis Tim Samba di Negeri Paman Sam

Copa America kali ini merupakan turnamen yang spesial dibanding yang pernah digelar pada periode-periode sebelumnya. Pasalnya edisi kali ini merupakan tepat 100 tahun semenjak pertama kalinya bergulir di Argentina pada tahun 1916.

Amerika Serikat diberi kesempatan untuk berperan sebagai penyelenggara turnamen internasional tertua di dunia tersebut. Jika berkata mengenai kesuksesan tim dalam ajang akbar yang digelar di Negeri Paman Sam tersebut, tak ada tim lain yang pernah sesukses Brasil, tim yang pernah mengangkat trofi Piala Dunia di tahun 1994 silam.

Brasil yang berisikan beberapa pemain seperti Romario, Bebeto dan Dunga membukukan catatan apik dengan tanpa pernah sekalipun kalah. Tergabung di grup B bersama Kamerun, Rusia dan Swedia, mereka berhasil memuncaki klasemen dengan torehan tujuh poin dari hasil dua kemenangan dan sekali imbang.

Ketika melaju di babak 16 besar anak asuh Carlos Alberto Parreira itu juga sanggup lolos dari hadangan tuan rumah AS dengan skor tipis 1-0. Lalu secara beruntun mereka melibas Belanda dan Swedia hingga berhasil menapaki babak final untuk berhadapan dengan Italia. Meski Gli Azzurri menampilkan permainan kurang memuaskan di fase grup, mereka sukses mengalahkan kuda hitam Nigeria dan Bulgaria di sistem gugur.

Duel antara negara peraih tiga gelar Piala Dunia itu berlangsung sama kuat dan harus diakhiri dengan adu penalti, pasalnya mereka hanya bermain imbang dengan skor kacamata hingga berakhirnya babak tambahan.

Brazil berada di atas angin ketika Franco Baresi yang ditunjuk menjadi algojo pertama gagal mengeksekusi tendangannya. Sepakan legenda hidup AC Milan itu melambung jauh di atas mistar gawang Claudio Taffarel. Akan tetapi keadaan kembali berubah ketika tendangan Márcio Santos dapat ditepis oleh Gianluca Pagliuca.

Sementara itu secara berurutan Demetrio Albertini, Romario, Alberigo Evani dan Branco berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan. Titik balik bagi Brasil terjadi ketika tendangan Daniele Massaro mampu dibaca oleh Taffarel, di sisi lain Dunga berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Roberto Baggio yang menjadi pencetak gol terbanyak bagi Italia dengan dengan torehan lima gol, menjadi sang penentu nasib Italia kali ini. Namun apa daya, pemain yang menjadi penyelamat timnya dalam fase gugur itu ternyata ia tak sanggup mengemban beban berat tersebut. Bola hasil sepakannya terbang bebas jauh di atas sasaran. Sontak kegembiraan tak dapat disembunyikan oleh para punggawa Brasil atas keberhasilan mereka mengukuhkan gelar keempatnya.

Memori manis Brasil di AS tentu tak dapat dilupakan, bukti superioritas yang dibalut sedikit keberuntungan membuahkan hasil, setelah 24 tahun penantian untuk kembali merengkuh trofi Piala Dunia.

Kini mereka akan kembali datang ke AS untuk kedua kalinya, bukan untuk mengikuti ajang Piala Dunia tentunya, akan tetapi Copa America.

Meski Brasil merupakan peraih trofi terbanyak di dunia, mereka bukanlah tim yang paling banyak menjuarai Copa America. Torehan delapan gelar yang pernah mereka raih masih jauh jika dibandingkan dengan rival mereka Argentina (14) dan peraih gelar terbanyak Uruguay (15). Selain itu Kiprah Tim Samba dalam dua perhelatan sebelumnya juga dinilai buruk. Mereka selalu gagal di babak perempat final, uniknya ambisi mereka dikandaskan oleh Paraguay dan keduanya lewat drama adu penalti!

Padahal Brasil begitu superior ketika berhasil empat kali menjadi juara dalam rentan waktu 10 tahun yang terhitung dari 1997 hingga 2007.

Kini mereka kembali menjadi salah satu tim favorit yang akan menjuarai turnamen tersebut. Meski tidak diperkuat oleh Neymar, Thiago Silva, David Luiz dan Marcelo bukan berarti mereka bisa dianggap remeh. Brasil masih memiliki pemain-pemain bintang yang siap untuk meraih gelar juara.

Lini belakang mereka diperkuat oleh Daniel Alves, Marquinhos, Miranda dan Filipe Luis. Sementara duo Liga Primer, Willian dan Philippe Coutinho mengisi sektor tengah. Posisi ujung tombak mereka diperkuat oleh pemain sekaliber Hulk dan Lucas Moura yang bermain impresif di bersama timnya.

Jika kemungkinan terburuk terjadi dan mereka harus kembali melalui drama adu penalti seperti yang terjadi di dua kesempatan sebelumnya, mungkin mereka akan menorehkan hasil yang berbeda. Selain itu Dunga yang menjabat sebagai pelatih Brasil saat ini merupakan kapten di skuat juara 1994 silam.

Negeri Paman Sam punya segudang memori indah dan merupakan tempat yang ramah bagi Tim Samba.

Foto: Wikipedia

Komentar