Dele Alli dan Deretan Pemain Muda Istimewa Liga Primer Inggris 2016

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Dele Alli dan Deretan Pemain Muda Istimewa Liga Primer Inggris 2016

Yang muda yang lebih enak. Begitu slogan salah satu permen yang sering diplesetkan banyak orang. Anggapan tersebut tidak salah, apalagi jika menghubungkan slogan tersebut dengan sepakbola.

Pemain muda memang ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, mereka kerap melahirkan kejutan-kejutan di saat kesebelasan mereka tengah kesulitan mencetak gol. Namun di sisi lain keberadaan mereka justru malah bisa menjadi bumerang.

Beberapa tahun terakhir, persepakbolaan dunia khususnya Eropa memang cukup banyak melibatkan pesepakbola muda. Contohnya OGC Nice. Kesebelasan asal Prancis itu diisi pemain-pemain muda dengan rataan usia 24,12 tahun di antara kompetisi lima besar Eropa (Inggris, Italia, Jerman, Prancis dan Spanyol).

Sementara di Liga Primer Inggris, pemain muda bukan hanya sekadar pelengkap suatu kesebelasan saja. Arsenal, West Ham United dan Southampton memiliki tradisi panjang soal penggunaan potensi pemain-pemain muda. Dari Arsenal, Hector Bellerin yang berusia 21 tahun, masuk PFA Team of the Year musim ini. Tottenham Hotspur pun tidak mau kalah dari Arsenal sebagai rival satu kotanya. Mereka diwakili Harry Kane yang menjadi pencetak gol terbanyak musim ini di usia 22 tahun.

Tidak hanya Kane, pemain Tottenham lainnya juga menyita perhatian. Ia adalah Bamidele Jermaine "Dele" Alli. Mantan pemain MK Dons ini tampil memukau selama musim ini. Selain nama-nama yang sudah disebutkan, Marcus Rashford dari Manchester United dan Kelechi Iheanacho dari Manchester City juga mencuri perhatian.

Dele Alli: Tottenham Hotspur

Awalnya, banyak yang mempertanyakan keputusan Spurs merekrut Alli pada Februari 2015 lalu. Anggapan miring ini muncul karena Alli hanya dibesarkan oleh kesebelasan asal kota kelahirannya, MK Dons. Tapi keraguan-keraguan kepadanya berbanding terbaik dengan penampilan baiknya selama musim ini. Debutnya di Liga Primer Inggris yaitu ketika melawan United pada 8 Agustus 2015. Meski saat itu ia hanya bermain 13 menit, tapi sudah cukup membuktikan kapasitasnya kepada  Manajer Tottenham, Mauricio Pochettino.

Golnya saat melawan Leicester pada pekan ketiga Liga Primer Inggris menjadi pembuka jalan bagi Alli untuk menembus skuat utama. Ia lebih dipilih oleh manajer yang kerap disapa Poch tersebut ketimbang Nabil Bentaleb, Ryan Mason, Nacer Chadli, bahkan Moussa Dembele untuk menjadi pemain inti.

Penampilan sempurna Alli saat Tottenham mengalahkan Aston Villa 3-1 pada November 2015, memberikannya satu pencapaian baru untuknya. Roy Hodgson, Manajer Tim Nasional Inggris, memberi satu tempat di skuatnya untuk Alli. Hal ini pun menjadi fenomena baru karena Alli menjadi salah satu debutan muda di skuat Inggris.

Catatan-catatan luar biasa di usai 19 tahun membuat banyak pihak mulai menyebutnya sebagai pemuda yang istimewa. Eks Manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson, bahkan menilai Alli sebagai gelandang muda terbaik di Inggris saat ini, “Melihat apa yang sudah ia lakukan dan capai, bisa dibilang bahwa ia adalah gelandang muda terbaik di Inggris dalam beberapa tahun terakhir. Mungkin setara dengan Gazza (Paul Gascoigne) muda beberapa tahun lalu,”  ujar Fergie seperti dikutip dari Mirror (31/3).

Atas 28 kali penampilan sebagai starter dan mencetak 10 gol serta sembilan asis, membuat musim perdananya dengan Tottenham di Liga Primer Inggris begitu istimewa. Meski demikian, layaknya pemain muda, Alli juga tidak lepas dari kontroversi. Beberapa kali ia kedapatan melakukan tindakan kurang sportif kepada pemain lawan. Salah satunya adalah tindakannya kala memukul gelandang West Bromwich Albion, Claudio Yacob, yang membuatnya harus menerima hukuman larangan bermain sebanyak tiga laga.

Harry Kane: Tottenham Hotspur

Anggapan bahwa Kane akan menjadi striker masa depan Inggris berhasil terus dibuktikannya. Striker yang pernah bermain untuk Leicester City ini pun berhasil mendapatkan gelar pencetak gol terbanyak di Liga Primer di musim ini.

Sebetulnya Kane mengawali musim ini dengan catatan kurang memuaskan. Ia hanya mampu mencetak satu gol dari sembilan pertandingan di awal Liga Primer Inggris 2015/2016. Sehingga banyak orang yang mulai memprediksi karier Kane tidak secemerlang musim-musim sebelumnya.

Tapi semua anggapan buruk sirna saat Kane berhasil mencetak hattrick ke gawang Bournemouth pada 25 Oktober 2015. Tiga gol tersebut membuatnya kembali ke penampilan gemilangnya musim lalu saat mencetak 21 gol bagi Tottenham.

Gol-gol yang ia cetak di musim ini pun selalu memecahkan kebuntuan Tottenham untuk menjebol gawang lawan. Seperti saat Totteham kesulitan menahan imbang Leicester pada Januari lalu, maupun mengimbangi Liverpool awal April lalu.

Atas prestasi yang dibuatnya musim ini, maka tak terlalu mengherankan jika ia masuk ke dalam PFA Team of the Year musim 2015/16. Gelar itu semakin membuatnya layak masuk ke Timnas Inggris yang akan berlaga di Piala Eropa 2016.

Hector Bellerin: Arsenal

Tidak terlalu mengherankan jika mengetahui Bellerin masuk ke dalam PFA Team of the Year musim 2015/16. Pasalnya, ia terus menunjukkan stabilitas penampilannya meski permainan Arsenal musim ini mengalami naik turun. Pemain yang sempat dipinjamkan ke Watford pada musim 2013/14 lalu, menjadi salah satu kunci sukses Arsenal meraih peringkat kedua musim ini.

Nama Bellerin mulai menembus skuat Arsenal pada musim 2014/15 yang ia tandai dengan penampilan melawan Borussia Dortmund di Liga Champions. Sejak saat itu, Bellerin mulai mendapat kepercayaan dari Manajer Arsenal, Arsene Wenger, untuk mengisi pos bek kanan di kesebelasan berjuluk The Gunners tersebut.

Penampilan apik Bellerin dalam dua musim terakhir membuat dua bek kanan lainnya, Mathieu Debuchy dan Calum Chambers, terpinggirkan. Debuchy bahkan harus menerima nasib dipinjamkan ke kesebelasan Prancis, Girondins Bordeaux.

Marcus Rashford: Manchester United

United bisa dibilang tidak pernah kehabisan talenta-talenta fenomenal di setiap generasinya. Bahkan bisa dibilang United selalu menghasilkan pemain-pemain muda istimewa tiap tahunnya.

Di musim ini, nasib baik tersebut diuntungkan dengan kebijakan United, Louis van Gaal, yang gemar memainkan pemain muda di line up-nya. Satu persatu pemain pun mulai dimainkan oleh van Gaal, seperti Cameron Borthwick-Jackson, Jesse Lingard, Guillermo Varela, Timothy Fosu-Mensah, dan Rashford.

Rashford sendiri mulai menjalani debutnya bersama United saat menghadapi FC Midtjylland pada pertandingan Liga Eropa waktu April lalu. Kesempatan yang didapatakannya itu tidak disia-siakannya, Rashford langsung memborong dua gol.

Semenjak saat itulah ia mulai dipercaya Van Gaal untuk menjadi penyerang utama United. Hingga Liga Primer berakhir akhir pekan lalu, Rashford telah mencatatkan 10 penampilan di United dengan koleksi empat gol.

Kelechi Iheanacho: Manchester City

Salah satu pemain muda yang namanya berkibar di musim ini adalah Kelechi Iheanacho. Penampilan menawan Iheanacho sebetulnya sudah diprediksi, karena sebelumnya ia berkontribusi besar ketika mengantar Nigeria menjuarai Piala Dunia U-17 pada 2013 lalu.

Iheanacho dibawa Manuel Pellegrini, Manajer City, untuk agenda pra musim 2014/2015. Meski demikian, Iheanacho tidak bisa membela skuat senior City pada Liga Primer Inggris waktu itu. Pasalnya, ia belum mendapatkan izin tinggal di Inggris. Ia baru bisa merasakan debutnya pada musim 2015/2016 ketika menghadapi Watford. Saat itu Iheanacho masuk ke lapangan menggantikan Raheem Sterling di menit-menit akhir pertandingan. Dua pekan setelahnya, Iheanacho kembali masuk ke lapangan jelang pertandingan berakhir. Tapi ia berhasil mencetak gol pertamanya untuk City dan menjadi kemenangan untuk kesebelasannya itu.

Memasuki 2016, Pellegrini mulai memberikan tempat reguler bagi Iheanacho karena permainan baiknya. Mengingat beberapa gelandang serang City seperti Samir Nasri dan David Silva sempat mendapatkan cedera. Pellegrini pun memutar otaknya untuk memberikan tempat bagi Iheanacho. Ia mengubah formasi City menjadi dua penyerang, namun Iheanacho bergerak lebih ke dalam. Perannya itu menjadi seperti gelandang serang, apalagi jika mengingat Samir Nasri dan David Silva sempat mendapatkan cedera. Dan buah hasil Pellegrini itu dibuktikan Iheanacho dengan catatan lima gol dari lima pertandingan terakhir City di Liga Primer Inggris 2015/2016.

 

Ed: RAS

Komentar