Mengkhidmati Kisah si Bayi Ajaib Persikota Tangerang

Cerita

by redaksi

Mengkhidmati Kisah si Bayi Ajaib Persikota Tangerang

Tahun 1993, Kotamadya Tangerang resmi berdiri. Kota Tangerang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang, yang merupakan bagian dari Provinsi Banten (dulu masih menyatu bersama Provinsi Jawa Barat sampai akhirnya terpisah di tahun 2000-an).

Dengan pemekaran yang terjadi di wilayah Kabupaten Tangerang, tentunya banyak sekali tim bola yang juga lahir dari hasil pemekaran daerah tersebut. Setelah Persita Tangerang sebagai perwakilan dari Kab, Tangerang yang lahir pada 1953, lahirlah Persikota. Tim terakhir ini lahir setahun setelah Kota Tangerang berdiri. Persikota Tangerang didirikan sebagai klub yang mewakili Kota Tangerang di kancah persepakbolaan Indonesia.

Melalui Kongres PSSI yang diadakan pada akhir Desember 1995, Persikota Tangerang disahkan menjadi anggota PSSI dan Persikota diizinkan untuk mengikuti kompetisi Liga Indonesia 1995/1996. Tentu saja mereka memulainya dari divisi II lebih dulu.

Dari sinilah, kisah Persikota Tangerang, si Bayi Ajaib, di dunia sepakbola Indonesia dimulai.

Merajai Divisi II Liga Indonesia 1995/1996

Berlaga di Divisi II Liga Indonesia 1995/1996, Persikota Tangerang memulai kiprahnya di sepakbola nasional. Dilatih oleh Andi Lala, Persikota tidak terkalahkan sepanjang putaran pertama, putaran kedua, dan putaran ketiga, Persikota berhasil lolos ke semifinal yang dihelat di Stadion Benteng Tangerang. Bertanding di kandang sendiri, Persikota akhirnya berhasil keluar menjadi juara Divisi II Liga Indonesia 1995/1996.

Di babak semifinal, Persikota berhasil menaklukkan Persipal Palu dengan skor 2-0 untuk kemudian maju ke babak final. Di babak final, mereka berhasil menaklukkan Persewangi Banyuwangi dengan skor 1-0 dan akhirnya keluar sebagai juara Divisi II Liga Indonesia 1995/1996.

Merajai Divisi I Liga Indonesia 1996/1997

Setelah menjadi juara Divisi II di tahun sebelumnya, Persikota Tangerang, bersama dengan Persewangi Banyuwangi, berhak untuk berlaga di Divisi I Liga Indonesia 1996/1997. Sebagai persiapan untuk menghadapi Divisi I, Persikota mulai melakukan pembenahan. Masih dengan pelatih Andi Lala, Persikota mulai merekrut beberapa pemain kenamaan seperti Francis Yonga asal Kamerun dan Ali Shaha asal Tanzania. Selain itu, pemain kenamaan seperti Nova Zaenal pun masuk memperkuat Persikota saat itu.

Hasilnya Persikota mampu menjadi juara grup dari Grup Tengah II dan lolos ke babak 10 Besar. Di babak 10 besar, Persikota tergabung dalam grup A dan harus bersua dengan PSIM Yogyakarta, PSS Sleman, PSSB Bireun, dan Persiter Ternate dalam pertandingan yang dilangsungkan di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta.

Setelah mencatatkan hasil yang cukup mentereng, yaitu dengan meraih dua kemenangan (5-2 atas PSSB Bireun dan 3-0 atas PSS Sleman), satu hasil seri (0-0 melawan PSIM Yogya), dan satu kekalahan (4-3 atas Persiter Ternate), Persikota berhak menemani Persiter Ternate sebagai wakil grup A di babak semifinal. Di babak semifinal, Persikota berhadapan dengan juara grup B, Perseden Denpasar.

Melawan Perseden, Persikota berhasil meraih kemenangan lewat gol tunggal Nova Zaenal di menit ke-69. Melaju ke babak final, Persikota kembali menghadapi PSIM Yogya yang mengalahkan Persikabo 2-1 di babak semifinal. Bertanding di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, markas PSIM, Persikota tidak gentar dan mampu mengandaskan perlawanan PSIM dengan skor 3-1 lewat gol-gol yang dicetak oleh Ali Shaha di menit ke-6 dan Francis Yonga di menit ke-12 dan ke-56 yang hanya mampu dibalas sebiji oleh PSIM lewat Bambang Sumantri di menit ke-71 melalui tendangan penalti.

Dengan hasil tersebut, Persikota pun dipastikan lolos ke Divisi Utama 1997/1998, level kompetisi tertinggi saat itu bersama dengan PSIM Yogya dan Persikabo Kab. Bogor yang menang di pertandingan perebutan juara tiga atas Perseden Denpasar dengan skor 4-0.

Perjalanan Menuju Semifinal Divisi Utama 1999/2000 sejak Memasuki Divisi Utama

Memasuki Divisi Utama 1997/1998, Persikota melakukan pergantian pelatih. Andi Lala yang berhasil membawa Persikota ke Divisi Utama dua tahun setelah dibentuk, digantikan oleh Sutan Harhara. Dalam tugasnya ini, Sutan dibantu oleh Rahmad Darmawan, mantan pemain Persikota yang membela Persikota di Divisi II dan I yang naik jabatan menjadi asisten pelatih.

Di masa pertamanya bertarung di Divisi Utama, Persikota langsung menggebrak. Mereka langsung menduduki posisi 3 Wilayah Tengah di bawah PSMS dan Pelita Jakarta. Hanya saja, saat itu liga dihentikan di tengah-tengah karena terjadi kerusuhan Mei 1998. Di sinilah, Persikota mulai mendapatkan julukan “Bayi Ajaib” karena berhasil menjadi juara Divisi II, Divisi I, dan menduduki peringkat atas Divisi Utama hanya dalam waktu tiga musim saja.

Setelah Divisi Utama 1997/1998 dihentikan, Persikota kembali berkompetisi di Divisi Utama 1998/1999. Berlaga di Grup C bersama Pelita Bakrie Jakarta, Arema Malang, Persikab Kab. Bandung, PSIM Yogyakarta, dan juga Persikabo Kab. Bogor, Persikota berhasil memuncaki Grup C dan berhak untuk berlaga di babak 10 Besar bersama dengan runner-up grup C, Pelita Bakrie Jakarta.

Di babak 10 Besar, Persikota tidak mampu berbicara banyak. Bertanding di Grup I bersama dengan Persebaya, PSIS, Semen Padang, dan Petrokimia Putra, Persikota hanya mampu menduduki peringkat empat grup I dibawah Persebaya, PSIS, dan Semen Padang.

Namun, di musim selanjutnya, tepatnya di Divisi Utama 1999/2000, Persikota menorehkan prestasi yang luar biasa. Setelah berhasil lolos dari babak wilayah, Persikota berhasil maju ke babak 8 Besar. Persikota lolos bersama Persija, Persijatim, dan PSMS sebagai wakil dari wilayah Barat.

Di babak 8 besar, Persikota berada satu grup bersama dengan Persija, Arema, dan Pelita Solo. Persikota pun berhasil lolos ke babak semifinal dan berhadapan dengan Pupuk Kaltim (PKT) Bontang. Hanya saja, perjalanan Persikota harus terhenti di semifinal setelah ditaklukkan oleh PKT Bontang dengan skor 4-3. Tapi, hal ini tetap menjadi sebuah kebanggaan karena tim yang seumur jagung usianya sudah bisa menembus babak semifinal.

Masa 2001 – 2007, stabilnya Persikota

Semenjak Divisi Utama tahun 2001, Persikota berganti pelatih. Sutan Harhara pergi dan Rahmad Darmawan pun naik menjadi pelatih utama. Namun, Persikota menjadi cukup sulit untuk kembali berprestasi seperti musim 1999/2000 ketika mereka berhasil masuk semifinal. Di musim 2001, Persikota hanya berhasil menduduki peringkat ke-5 Wilayah Barat dan gagal melaju ke babak 8 Besar.

Di musim 2002, “Bayi Ajaib” hanya berhasil menduduki peringkat ke-6 Wilayah Barat. Begitupun ketika Divisi Utama Liga Indonesia mulai memberlakukan sistem satu wilayah di musim 2003, mereka hanya bisa menempati peringkat ke-6 dengan total poin 58. Di musim selanjutnya ketika sistem satu wilayah masih diberlakukan, Persikota menghuni peringkat ke-5 dengan total poin 50.

Lepas tahun 2004, Rahmad Darmawan pun meninggalkan tim, dan Persikota mulai mencari pelatih baru dan mengangkat nama Safrudin Fabani. Di musim 2005, Persikota tidak mampu berbicara banyak dan hanya mampu menduduki peringkat ke-11 Wilayah Barat. Karena prestasi yang tidak baik ini, Safrudin Fabani pun digantikan oleh Mundari Karya di musim 2006.

Musim 2006, Persikota mulai membaik kembali dengan menempati peringkat ke-7 Wilayah Barat. Berlanjut di musim setelahnya, yaitu musim 2007, Persikota kembali mengalami penurunan performa dan akhirnya mereka tidak lolos ke Liga Super Indonesia setelah hanya menduduki peringkat ke-15 Wilayah Barat.

Meski memang tampak sulit bagi Persikota untuk kembali berprestasi seperti di musim 1999/2000, tapi Persikota si Bayi Ajaib ini selalu menunjukkan performa yang stabil selama keikutsertaan mereka di Divisi Utama Liga Indonesia dengan tidak pernah mengalami degradasi. Sangat disayangkan mereka tidak lolos ke Liga Super Indonesia musim 2008/2009.

Era Liga Super hingga kini

Semenjak turunnya Permendagri no, 13 tahun 2006, yang direvisi menjadi Permendagri no. 21 tahun 2011, Persikota mengalami apa yang Persekabpas Pasuruan alami, yaitu kesulitan dalam masalah pendanaan. Hal ini membuat Persikota terkatung-katung sejak 2008 hingga kini. Bahkan, setelah turunnya fatwa haram MUI akan sepakbola di Stadion Benteng Tangerang dikeluarkan pada 2012 lalu akibat sering terjadinya kericuhan antar suporter di Tangerang, Persikota harus mengalami mati suri.

Sampai sekarang, tidak sedikit para BetMen, sebutan untuk para pendukung Persikota, yang merindukan Persikota bermain di Stadion Benteng. Seperti halnya Laskar Sakeramania yang masih sering menonton Persekabpas di stadion, BetMen pun akan melakukan hal yang sama jika Persikota masih bisa tampil di Benteng.

***

Itulah sekelumit kisah dari Persikota Tangerang, Bayi Ajaib yang pernah menangis kencang hingga melaju ke babak semifinal Liga Indonesia. Kini Persikota sedang "tidur siang", terlelap dan entah kapan bangunnya. Semoga mereka akan bangun kembali dan mulai menangis kencang lagi, dan menarik perhatian banyak orang, sebagaimana dulu mereka pernah melakukannya.

Baca Juga Kisah Lain tentang Nostalgia Liga Indonesia

Musim 2006 yang Tak Terlupakan bagi Persekabpas Pasuruan

Perayaan Gol Unik a la Pesepakbola Indonesia

Nostalgia Sebuah Musim yang Serba Nyaris untuk Persija

Mengenang Musim Terburuk Persipura Jayapura di Era Liga Indonesia


(sf)

foto: antarafoto.com

Komentar