Mengapa Pesepakbola Gemar Membeli Mobil Mewah?

Cerita

by redaksi

Mengapa Pesepakbola Gemar Membeli Mobil Mewah?

Baru-baru ini pemain depan AC Milan, M’baye Niang, dikabarkan mengalami kecelakaan mobil. Beruntung, Niang selamat dan hanya harus absen dalam beberapa laga bagi timnya. Kabarnya, ia mengalami kecelakaan akibat cuaca buruk sehingga mobilnya tergelincir.

Kecelakaan Niang mengingatkan kepada beberapa peristiwa serupa yang terkait dengan pesepakbola yang mengalami kecelakaan saat mengemudikan kendaraan, khususnya mobil yang tergolong mewah dan berharga mahal.

Mobil bisa menjadi sumber kebanggaan para pesepakbola top. Namun, kecenderungan pesepakbola memilih hobi mengoleksi dan memakai mobil mewah terkadang justru membawa mereka ke hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan atau bahkan kematian.

Gelandang Bayern Munich, Arturo Vidal, setahun lalu sempat terlibat kecelakaan tunggal yang merusak mobil mewahnya, sebuah Ferrari yang berharga 230 ribu pound sterling atau sekitar 4,2 milyar rupiah. Kala itu Vidal dikabarkan kabur dari tempat latihan timnas Chile menuju tempat hiburan malam dengan mobilnya. Ketika diperiksa, Vidal terbukti kedapatan mengemudi di bawah pengaruh alkohol.

Striker West Ham United, Diafra Sakho, juga pernah mengalami kasus serupa. Lamborghini hitam milik pemain timnas Senegal ini didapati tengah berjalan kencang di jalan raya sebelum akhirnya menabrak tembok pagar sebuah rumah serta mobil Mini Cooper yang terparkir. Beruntung, pemilik rumah adalah keluarga pendukung West Ham sehingga Sakho tidak digugat dan hanya diminta membayar ganti rugi saja.

Sementara pemain-pemain diatas tidak mendapat hukuman, lain dengan yang dialami oleh Darron Gibson dan Courtney Moeppen-Walter, pemain junior Manchester City. Meppen-Walter mengalami kecelakaan yang menewaskan dua orang pengguna jalan raya ketika kebut-kebutan dengan mobil Mercedes C220. Eks-kapten timnas Ingggris U-18 ini harus mendekam di penjara selama 16 bulan akibat perbuatannya.

Eks-pemain Manchester United yang kini bermain di Everton, Darron Gibson, pernah dihukum oleh Kepolisian Manchester akibat menabrak sekumpulan pesepeda dan juga stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) ketika mengendarai Nissan GT-R miliknya. Gibson, menurut keterangan polisi, mengemudi di bawah pengaruh minuman beralkohol. Karena tindakannya ini, Gibson dihukum dilarang untuk mengemudi selama 20 bulan dan wajib menjalani pelayanan sosial selama 12 bulan, selain membayar denda atas kerugian yang diakibatkan oleh perbuatannya tersebut.

Contoh-contoh tadi merupakan potret buruk bagaimana pesepakbola yang gemar mobil mewah bisa memberikan akibat buruk bagi orang lain, juga untuk dirinya sendiri.

Namun lagi-lagi mobil mewah menjadi hal yang sulit dipisahkan dari kehidupan para pesepakbola, terutama pemain muda. Memphis Depay, gelandang Manchester United, mendapat kritik dari legenda sepakbola, Ruud Gullit, karena dianggap terlalu banyak pamer meskipun penampilan di klub barunya memprihatinkan.

Depay mendapat kritikan karena ia pamer mobil mewahnya hanya beberapa jam setelah Manchester United kalah 0-2 dari Stoke City, Januari lalu. Pemain bernomor punggung 7 tersebut datang ke tempat latihan The Red Devils dengan mengendarai Rolls Royce Convertible berharga 250 ribu pound sterling. Gullit merasa prihatin dengan sikap dan gaya hidup Depay yang menurutnya belum pas. “Ia pemain yang berkualitas, namun ia harus harus membuktikan potensinya dengan tetap ‘low profile’ dalam kehidupan pribadinya. Jika Anda tidak menunjukkan performa terbaik Anda, bukan berarti Anda harus pamer Rolls Royce baru atau Hummer baru ke tempat latihan,” ujar Gullit kepada Mirror.

Bek Aston Villa, Joleon Lescott, baru-baru ini juga tengah mendapat pemberitaan terkait foto mobil mewah yang ia unggah di akun Twitter pribadinya. Lescott kala itu mengunggah gambar beberapa saat setelah timnya, Aston Villa kalah telak atas Liverpool 0-6.

Tak pelak, twit Lescott memancing banyak reaksi dari berbagai pihak. Lescott lantas meminta maaf atas twit tersebut dan berdalih bahwa gambar tersebut tidak sengaja terunggah saat ia sedang mengemudi dan telefon genggamnya sedang berada di saku. Twit tersebut sampai menjadi olok-olok, termasuk oleh akun resmi Stoke City.

Menurut Jeff Bennet, profesor marketing otomotif di Universitas Northwood, Michigan, Amerika Serikat, alasan seseorang memiliki mobil mewah adalah sebagai penanda kesuksesan yang membuat mereka ingin diperlihatkan kepada orang lain. “Ini tentang memiliki uang untuk membelinya. Ini tentang ‘hey, lihat betapa suksesnya saya,’” ujarnya dikutip majalah Forbes.

Sebuah penelitian di yang dilakukan oleh Niro Sivanathan, asisten profesor di London Business School dan Nathan C. Pettit dan Cornell University dalam jurnal “Journal of Experimental Social Psychology” juga membuktikan bahwa orang yang memiliki self esteem yang rendah memiliki kecenderungan untuk membeli barang-barang mewah, termasuk kendaraan mewah.

Kesuksesan yang sedang dialami oleh para pemain sepakbola top membuat diri mereka merasa ingin menunjukkan kesuksesan karier mereka. Namun Ruud Gullit tetap menekankan pesepakbola untuk tidak cepat puas dengan apa yang mereka dapat, sekalipun telah hidup mewah. “Jangan terlalu cepat puas. Jika Anda punya tiga peluang dan hanya mencetak satu gol, Anda harus menerima kenyataan bahwa Anda tidak bermain cukup baik,” ujar peraih Ballon d’Or 1987 tersebut.

Kenaikan gaji dan status sosial yang drastis turut berperan besar bagi pesepakbola dalam membelanjakan uangnya kepada barang mewah seperti mobil mewah. Kehidupan yang serba kekurangan di masa lalu membuat para pesepakbola umumnya ingin menunjukkan kesuksesan dan rasa percaya diri yang tinggi melalui barang-barang mewah, salah satunya mobil.

Membeli barang mewah seperti mobil bagi pemain sepakbola bergaji ribuan pound sterling adalah hal yang wajar dan hak dari masing-masing individu. Namun mungkin yang perlu mereka ingat, prestasi di lapangan hijau lebih penting dari segalanya. Kegemaran mereka mengendarai mobil mewah juga jangan sampai membahayakan orang lain juga diri sendiri. Karena sejago-jagonya mereka mengemudikan sportscar, toh mereka akan dilihat dari penampilan di lapangan hijau, bukan kecepatan di jalanan!

Foto: mirror

[tr]

(pik)

Komentar