Pasang Surut Karier Diego Ribas

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Pasang Surut Karier Diego Ribas

Pada 28 Februari 1985, seorang gelandang serang bernama Diego Ribas lahir. Dengan talenta di atas rata-rata ketika ia beranjak dewasa, ia lantas bisa meninggalkan Brasil dan malang melintang untuk membela sejumlah kesebelasan Eropa. Walau begitu, kehebatannya tak begitu mengantarkannya pada kesukses kala berkarier di Eropa.

Menjuarai Campeonato Brasilerao Serie A musim 2002 menjadi salah satu kesuksesan besar dalam sejarah Santos FC. Bukan karena mereka tak pernah kalah dalam satu musim, atau karena sukses mengalahkan rival sejatinya seperti São Paulo, Corinthians, atau Palmeiras. tapi karena revolusi pemain muda yang mereka lakukan di musim tersebut.

Kesuksesan Santos tak lepas dari kontribusi beberapa pemain pilarnya. Nama Alex, Robinho, Elano, dan Diego Ribas pun ikut menanjak seiring kesuksesan Santos. Moncernya permainan mereka di tahun tersebut membuat keempatnya memilih hijrah ke Eropa di musim selanjutnya dengan tim yang berbeda.

Diego Ribas menjadi pemain yang begitu dibicarakan bersama Robinho. Posisinya sebagai gelandang serang kreatif nan skillfull membuatnya menjadi pemain yang cukup langka di tengah para winger-winger yang mulai bermunculan.

Tak seperti Robinho yang hijrah ke Spanyol, Diego memilih FC Porto sebagai pelabuhan kariernya pada 2004. Ia pun tak sekadar memilih tim, karena baginya FC Porto bukan soal klub juara Liga Champions di musim sebelumnya, tapi FC Porto adalah tempat bermain idolanya, Deco.

Gaya bermain keduanya yang terbilang mirip menjadi alasan Porto memilihnya sebagai suksesor Deco. Meski demikian, Porto akhirnya tahu bahwa tak ada orang yang benar-benar sama. Deco adalah seorang pengatur permainan tim, sementara Diego adalah seorang pemain yang hanya ingin dibebaskan memilih apa yang ia inginkan saat berada di lapangan.

Beberapa kali berita miring mengiringi perjalanan karier Diego di Porto. Kasus perkelahiannya dengan Juan Carlos Henao, kiper kesebelasan asal Kolombia, Once Caldas, bahkan sempat membuatnya tak bisa bermain beberapa laga. Pelatih Porto saat itu, Co Adriaanse akhirnya memutuskan bahwa tak ada ruang bagi Diego di timnya dan menjualnya di akhir musim 2006/07 ke Werder Bremen.

Bayang-bayang pemain besar tak berhenti meski Diego hijrah dari Porto. Di Bremen, Diego mengalami hal yang sama. Ia diharuskan melakukan apa yang dilakukan oleh superstar klub di musim sebelumnya, Johan Micoud, yang bermain di belakang striker.

Tapi nasib kali ini lebih baik bagi Diego. Apa yang terjadi di Porto tak terjadi di Bremen. Diego hanya butuh satu musim untuk nyetel dengan tim asuhan Thomas Schaaf. Gaya bermainnya yang cenderung kreatif untuk ukuran Bundesliga bahkan membuatnya dijuluki Little Artist oleh media Jerman.

Penampilan baik Diego bahkan mampu membuat Bremen menembus final UEFA Cup 2008/09, yang sayangnya di final harus mengakui keunggulan Shakhtar Donetsk dengan pemain-pemain Brasil-nya. Skuat Werder Bremen musim tersebut bahkan disebut Kickers salah satu yang terbaik dalam sejarah klub mengingat prestasi yang mereka buat.

Pencapaian tersebut membuatnya hijrah ke Juventus di awal musim 2009/10. Transfer ini terhitung mengagetkan, karena di saat yang sama, Manchester City juga menginginkan servisnya. Diego pun mengakui bahwa ia lebih memilih Juventus lantaran nilai sejarah klub ini lebih besar ketimbang City. Selain itu, ia mengaku telah menjadi fans Si Nyonya Tua, julukan Juventus, sejak masih anak-anak.

“Saya mengidolakan Juventus sejak masih anak-anak. Hal itu pun membuat saya bermimpi untuk dapat bermain bersama mereka dan sekarang mimpi tersebut menjadi nyata,” ujarnya kepada The Sun, 26 Mei 2009 lalu.

Gaya bermain Diego Ribas yang berteknik tinggi membuat banyak pendukung Juventus menyebutnya sebagai suksesor Zinedine Zidane. Beberapa kali ia menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak salah. Dribble a la Brasil Diego pernah memperdayai Philippe Mexes yang saat itu menjalani musim kelimanya bersama Serigala Ibukota, AS Roma.

Performa apiknya seketika berubah kala Claudio Ranieri digantikan Ciro Ferrara per 18 Mei 2009. Karier Diego yang semula bermasa depan cerah berubah jadi tak menentu. Apalagi Ferrara cenderung memainkan formasi 4-4-2, yang mana tidak memberikan tempat bagi seorang advanced playmaker atau trequartista seperti Diego.

Diego pun terpaksa kembali ke Jerman untuk mencari jatah bermain reguler. Kepindahan Diego ke Wolfsburg di musim 2010/11 berhasil memecahkan rekor transfer klub, dengan nilai transfer sebesar 15,5 juta euro. Meski menjadi pembelian termahal klub, Diego tak menjadi pemain utama. Menurut Goal , hubungan renggangnya dengan pelatih Steve McClaren jadi alasan mengapa ia tak menjadi pemain utama.

Ia kemudian sempat dipinjamkan ke Atletico Madrid pada musim 2011/2012. Di kesebelasan asal Madrid ini ia bermain reguler baik di La Liga maupun di Europa League. Ia pun menjadi figur penting Atleti yang menjuarai Europa League musim tersebut.

Penampilan itu membuat Wolfsburg kembali memercayainya. Terlebih setelah kesebelasan Bundesliga tersebut tak lagi dilatih McClaren. Namun penampilannya tak terlalu istimewa, hingga akhirnya ia direkrut Atleti 2013/2014, namun performanya sudah tak lagi seperti pertama ia berseragam Atleti.

Lepas dari itu, karier Diego tak semakin baik sesudahnya. Sikapnya yang kerap semaunya di lapangan maupun di luar lapangan jadi alasan banyak klub memilih untuk memberikannya kontrak jangka pendek.

Kini Diego tengah menikmati kariernya di Turki bersama Fenerbahçe. Keberadaan Diego pun sangat diharapkan oleh Fenerbahçe untuk bangkit di kompetisi Eropa, mengingat sudah dua musim klub Turki tersebut tak bermain di kompetisi Eropa lantaran sanksi.

[ans]

Komentar