Kesedihan yang Mengiringi Kepindahan West Ham dari Boleyn Ground

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kesedihan yang Mengiringi Kepindahan West Ham dari Boleyn Ground

Kebersamaan West Ham United dan Boleyn Ground (juga dikenal dengan nama Upton Park) yang telah terjalin sejak 1904 akan berakhir di musim ini. Kebersamaan tersebut bahkan tinggal menghitung hari, karena hanya ada enam pertandingan tersisa yang akan West Ham mainkan di Boleyn Ground.

Pihak West Ham melansir bahwa mereka akan memindahkan kandang mereka ke Olympic Stadium yang berkapasitas 54.000 penonton. Letaknya di Stratford, London. Kapasitas Boleyn Ground yang sudah tak bisa menampung banyaknya suporter yang datang pun disebut-sebut jadi alasan utama West Ham pindah ke Olympic Stadium. Kapasitas Boleyn Ground yang hanya dapat menampung 35,016 penonton memang terlalu kecil jika melihat antusiasme suporter West Ham di Liga Primer Inggris yang begitu tinggi dalam beberapa musim terakhir.

Soccerstats.com bahkan melansir data bahwa dalam setiap laga Liga Primer yang digelar di Boleyn Ground, 99,8 % kapasitas stadion terisi. Hal itu membuat rata-rata presentase penonton di Boleyn Ground tertinggi di Liga Primer, bahkan di atas laga kandang Manchester United dan Arsenal yang hanya mencatat presentase kehadiran 99,5 % dan 99,4 %.

Kepindahan West Ham ke Olympic Stadium membuat sedih sebagian besar penggemarnya.  Salah satu pendukung mereka bernama Mark Gardner juga bercerita bagaimana Boleyn Ground dan West Ham adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

“Saya menonton hampir semua pertandingan West Ham yang digelar di Boleyn Ground selama lebih dari 20 tahun,” ujarnya memulai percakapan kepada The Sun, Jumat (26/2) lalu. “Saya menyukai klub ini lebih dari apa pun. Semua perasaan saya telah tumpah di lokasi ini. Tidak hanya saat saya sedih kala kamu terdegradasi di musim 2010/11, tapi juga saat kami promosi di musim berikutnya."

“Di sini pemain-pemain besar tumbuh menjadi idola kami. Tak hanya sosok seperti Geoff Hurst, Harry Redknapp, Clyde Best, dan Trevor Brooking hingga Frank Lampard, Rio Ferdinand, Michael Carrick, dan Jermain Defoe. Tapi juga Paolo Di Canio, Carlos Tevez, dan Dimitri Payet,” tambahnya.

Pendapat sama pun diungkapkan oleh sesama pendukung West Ham bernama Brian Williams, yang juga penulis The Guardian. Ia mengungkapkan bahwa semua hal mengenai klub ini telah menyelimuti Boleyn Ground.

“Kesuksesan, kegagalan, kepahlawanan, kebodohan, munculnya bakat baru, hingga kecurangan di lapangan pernah terjadi di sini. Rasanya cukup aneh meninggalkan tempat yang memberi kita banyak kenangan baik maupun buruk,” ujar Williams di buku Nearly Reach the Sky: A Farewell To Upton Park.

“Gelembung-gelembung yang diiringi nyanyian pendukung West Ham di Boleyn Ground membuat suasana berbeda. Kami tak bisa membayangkan hal itu terjadi di tempat lainnya,” ungkapnya. “Klub lain bisa pindah ke stadion baru, ya saya rasa itu wajar. Tapi masalahnya, West Ham bukan klub lain. Klub ini bukan soal 11 pemain yang bermain di lapangan, tapi juga suporter dan Boleyn Ground."

Kerisauan tak hanya dialami oleh kelompok suporter West Ham. Beberapa eks pemain The Hammers pun menyatakan bahwa sejarah mereka hanya tinggal menunggu waktu untuk melebur.

“Setiap sisi lapangan ini bersejarah, sedih rasanya mengetahui bahwa tempat ini, yang memiliki sejarah panjang akan ditinggal,” ujar Dean Ashton eks pemain West Ham kepada Mirror. “Di sini kami tidak hanya bermain sepakbola, tapi kami juga merasa untuk membawa klub ini setinggi mungkin, seperti yang dilakukan oleh Bobby Moore, Sir Trevor Brooking, dan Sir Geoff Hurst."

Meski pikiran mereka membuncah, hampir semua pendukung West Ham, terutama Gardner  menyetujui bahwa kepindahan ini dilakukan untuk kebaikan klub.

“Apa yang dilakukan oleh West Ham semakin baik setiap tahunnya dan saya pikir dua pemilik kami adalah seorang pendukung West Ham. Apa yang mereka lakukan (memindahkan kandang) memiliki tujuan baik bagi klub dan bukan untuk alasan finansial,” jelas Gardner.

Menarik untuk ditunggu apakah West Ham mampu memberi hadiah perpisahan yang manis untuk Boleyn Ground, dengan  menduduki peringkat terbaik dalam sepuluh tahun terakhir?

Komentar