Dewa Sepakbola Austria Putra Pangeran Nigeria dan Ratu Kecantikan Filipina

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Dewa Sepakbola Austria Putra Pangeran Nigeria dan Ratu Kecantikan Filipina

Seorang pangeran dari Nigeria menikah dengan eks ratu kecantikan Filipina dan membesarkan seorang putra di Austria. Sang putra kemudian tumbuh menjadi seorang pemain hebat yang tak tertandingi. Kita mengenalnya dengan nama David Alaba. David Olatokunbo Alaba, lengkapnya.

Pengaruh tiga budaya membentuk David Alaba menjadi pemain yang kita kenal saat ini. Sifat Nigeria (sifat Afrika keseluruhan) dalam diri David, menurut George Alaba, adalah ambisi dan kemauan besarnya untuk sukses. Disiplin yang David miliki sangat Austria sementara pengaruh Filipina dari sang ibu, Gina, membuat David melakukan segala hal dengan indah. “Keindahan dalam segala hal yang ia lakukan,” ujar George mengenai pengaruh Filipina dalam diri David. “Ibunya adalah eks ratu kecantikan Filipina.”

George, seorang pangeran dari desa Ogere-Remo (tidak jauh dari Lagos, kota terbesar di Nigeria), datang ke Austria sebagai mahasiswa. George tidak menyelesaikan studinya karena fokus membangun karier sebagai musisi dan DJ. Di Austria ia bertemu dengan Gina dan kemudian menikah. Keduanya dianugerahi seorang putra bernama David dan putri bernama Rosemaie (bukan Rosemarie).

Bekerja sebagai DJ membuat George menjadi seorang nokturnal. Ia tidur ketika mata hari bersinar. Namun karena melihat bakat sepakbola dalam diri David yang berusia tiga tahun, ia menyesuaikan agendanya untuk sebaik mungkin membantu perkembangan David. George tetap mampu menyisihkan waktu untuk lari pagi bersama putranya. Ia juga selalu mengantar David ke tempat latihan. Waktu tidurnya ia dapatkan di antara aktivitas-aktivitas tersebut; seperti menunggu David selesai latihan, dan setelah tiba di rumah sepulang latihan, misalnya.

Kerja keras dan pengorbanan George –selain bakat yang terpendam dalam diri David dan kerja keras David sendiri– membuat David berkembang pesat. Tanpa pernah bermain untuk kesebelasan utama Fußballklub Austria Wien, David menarik perhatian dan kemudian bergabung dengan Bayern München pada 2008. David bermain untuk kesebelasan U-17, U-19, dan Bayern II sebelum naik ke kesebelasan utama pada 2010.

David, yang memecahkan rekor pemain termuda yang pernah tampil untuk kesebelasan utama Bayern pada usia 17 tahun 7 bulan 8 hari, sempat dipinjamkan ke TSG Hoffenheim sepanjang putaran kedua musim 2010/11. Sepulangnya dari Hoffenheim, David menjadi andalan Bayern. Tak peduli siapa pelatih kepalanya, David selalu menjadi pemain utama; terutama di era kepelatihan Pep Guardiola.

David paham taktik dan dapat bermain di banyak posisi. Jika pada akhirnya dunia mengenal David sebagai bek kiri, itu karena Jupp Heynckess memainkannya di sana. Namun selain di posisi tersebut David dapat juga bermain sebagai sayap kiri, bek tengah, gelandang bertahan, bahkan gelandang serang. David dan kemampuannya bermain di banyak posisi ini membuat pekerjaan Guardiola, yang sering mengubah taktik ketika pertandingan sedang berjalan, lebih mudah.

Tidak banyak pemain seperti David sehingga tidak berlebihan rasanya jika ia disebut istimewa. Begitu istimewa hingga di usia 19 tahun ia sudah menjadi pemain terbaik Austria. Begitu istimewa sehingga David –yang memecahkan rekor pemain termuda yang pernah tampil di kesebelasan senior tim nasional Austria pada usia 17 tahun 112 hari– terus memenangi gelar tersebut selama lima tahun berturut-turut. Belum pernah sebelumnya ada pemain yang memenangi gelar pemain terbaik Austria tiga tahun berturut-turut hingga David melakukannya; dan ia tidak berhenti di tiga. Di usia 23 tahun, David sudah pantas menyandang status Fußballgott atau Dewa Sepakbola.

Di balik prestasinya ini ternyata tersimpan sebuah cerita. David memang lahir di Austria namun ia memiliki keinginan yang lebih besar untuk membela Nigeria.

“Aku ingin bermain untuk Nigeria namun harus aku akui tidak ada pendekatan formal untukku,” ujar David. “Seorang pemandu bakat pernah membahas kemungkinan bermain untuk Nigeria denganku. Aku senang karena ayahku adalah seorang penggemar Sunday Oliseh ketika Oliseh bermain untuk FC Köln. Saat masih kecil aku suka menonton Victor Agali bermain untuk Hansa Rostock. (Namun) aku mendapat kabar bahwa Nigeria hanya akan memainkan para pemain yang berada di negara mereka, mungkin karena kendala logistik perjalanan, jadi begitulah.”

Pahit mungkin pada awalnya. Namun, David menerima kenyataan dan bermain bersama Austria, negara yang dalam lima tahun kebelakang selalu mengakui kehebatannya.

Komentar