Joey Barton dan Sebuah Kisah di Drama Korea

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Joey Barton dan Sebuah Kisah di Drama Korea

Artis pendatang baru, Cindy (IU), terheran-heran dengan apa yang dilakukan oleh rekannya sesama artis, Lee Seung Gi. Pria multi talenta tersebut berkepribadian amat bertolak belakang dengan dirinya yang tak acuh, egois, dan jauh dari kehidupan sosial.

Seung Gi adalah pria yang begitu ramah kepada siapapun; bukan cuma rekannya sesama artis, tetapi juga kepada penggemar. Ia bahkan mengenal dan hapal nama tim produksi televisi yang bekerja sama dengannya.

Hal ini dirasakan oleh salah seorang produser KBS, Baek Seung Chan (Kim Soo Hyun). Keramahan Seung Gi membuatnya iseng dengan menghapus kata “nim” (berarti “bapak” dalam Bahasa Indonesia) dari kertas bertuliskan “Lee Seung Gi-nim” yang tertempel di kamar ganti Seung Gi. Ia menganggap tidak perlu ada embel-embel “nim” saat memanggil Seung Gi. Bukan karena tak hormat, tapi karena Seung Gi yang memang tidak gila hormat.

Adegan di atas merupakan salah satu cuplikan dari drama “Producer” yang diproduksi stasiun televisi Korea Selatan, KBS. Cerita pun berlanjut dengan banyaknya tawaran pekerjaan bagi Seung Gi, mulai dari drama, bernyanyi, hingga bintang iklan. Lain halnya dengan Cindy, yang meskipun mendapatkan popularitas karena talentanya, banyak orang yang tidak menyukainya. Salah seorang produser yang menanganinya, Ra Joon Mo, khawatir Cindy berakhir seperti pendahulunya, Yuna, yang kini menghilang dari industri hiburan Korea Selatan.

Drama Producer memperlihatkan betapa pentingnya hubungan yang dibangun antara artis dengan industri hiburan. Latihan keras diiringi dengan talenta saja tidak cukup. Artis tersebut butuh dicintai oleh masyarakat. Hal ini akan meningkatkan citra dan nilai artis itu sendiri. Artis yang menyebalkan akan kesulitan mendapat tawaran, terlebih jika masyarakat membencinya.

Latihan Keras


Foto: theclockend.com

Musim lalu, Nicklas Bendtner memposting foto dirinya yang tengah berlatih. Menurut media Inggris, ini dilakukan untuk menunjukkan kepada kesebelasan lain bahwa dirinya masih fit dan siap untuk berlaga. Kala itu, Bendtner berstatus free transfer karena kontraknya dengan Arsenal sudah habis.

Kerja keras itu yang membuat banyaknya respons dari penggemar sepakbola. Umumnya Bendtner mendapatkan respons positif meski tersaru dalam pesan berbau ejekan. Lord Bendtner pada akhirnya bergabung dengan Wolfsburg pada musim lalu. Barangkali ini juga tidak lepas dari posisinya yang di-tuan-kan (lord) oleh para penggemar sepakbola.

Embel-embel “lord” dalam panggilan untuk Bendtner sejatinya bukan karena pemain kelahiran 1988 ini menyebalkan. Semasa karirnya, Bendtner tak pernah macam-macam dalam perilaku maupun perkataan. Ia hanyalah pesepakbola yang unik dan menarik untuk diperhatikan perilakunya. Meski kerap menjadi bahan candaan, toh Bendtner tak pernah kehilangan simpati hingga saat ini.

Lain halnya dengan Joey Barton. Penggemar sepakbola yang tidak begitu fanatik dengan Liga Inggris, setidaknya pernah mendengar nama pria yang pernah membela Manchester City dan Newcastle United tersebut. Barton awalnya dianggap sebagai pemain masa depan Inggris karena segala kelebihan yang ia miliki. Namun, lambat laun gaya permainannya berubah. Ia bermain tampa kompromi dan kadang tanpa pikiran yang panjang.

Pada 2007, ESPN menyebutnya sebagai pemain terkotor di Liga Inggris. Ini merujuk dari jumlah pelanggaran dan kartu yang ia terima. Pun dengan Bleacher Report yang pada 2011 memasukkan Barton ke dalam “The Dirities Player on Each EPL Team’s Player”.

Barton pernah membuat manajemen Manchester City kesal. Ia menolak kontrak barunya dan meminta untuk dimasukan ke dalam daftar transfer. Penggemar City pun menilai Barton tak memiliki loyalitas. Padahal, ia telah membuat dua kontroversi besar di City.

Barton pernah menyerang rekannya sendiri, Jamie Tandy pada Desember 2004 dalam sebuah pesta Natal. Pada Mei 2008, Barton pernah dipenjara selama 77 hari karena aksi kekerasan yang ia lakukan. Ia pun pernah berkelahi dengan penggemar Everton dalam tur pra-musim City di Thailand. Atas hal tersebut, ia mesti membayar denda 120 ribu pounds yang kala itu merupakan rekor denda terbesar di City.

Kedisiplinan memang menjadi masalah besar buat Barton. Selain aksi kekerasan di pusat kota Liverpool, ia juga ketahuan melakukan kekerasan pada rekan setimnya, Ousmane Dabo. Ia pun memukul pemain Blackburn, Morten Gamst Pedersen pada 2010 dan aksi buruknya saat QPR bertemu Manchester City pada Mei 2012, diganjar larangan bertanding sebanyak 12 pertandingan.

Musim lalu menjadi akhir kerjasama Barton dengan Queens Park Rangers. Ia kini menjadi pemain tanpa klub karena tak ada yang meminatinya. Sama seperti Bendtner, Barton pun mengunggah fotonya yang tengah latihan di Instagram. Dalam foto tersebut terlihat telapak tangan Barton yang lecet karena berlatih keras.

Berbeda dengan dirinya delapan tahun lalu saat meninggalkan City, Barton meninggalkan kesan yang baik bagi penggemar Queens Park Rangers. Ia dianggap berdedikasi dan selalu bekerja keras setiap saat.


Tangan Barton yang lecet. Foto: instagram Barton

Pemain Tanpa Klub

Dalam tulisan kami sebelumnya, Abimanyu membandingkan sosok Philip Nolan dalam The Man without a Country dengan Mario Balotelli. Buruknya performa bekas penyerang Milan dan Manchester City tersebut membuat Liverpool ingin melepasnya.

Balo ditawarkan ke sejumlah kesebelasan, meski tak ada yang menyambutnya. Kalaupun ada, maka ada hal lain yang mengganjal dalam proses kepindahannya. Ini yang dialami Fiorentina yang setuju untuk memboyong Balo. Namun, para penggemar protes dengan keputusan tersebut. Mereka memprotes dan membentangkan spanduk bertuliskan “You’re a man without honour, Florence does not want you”.

Apa yang dialami Balotelli tak lepas dari perilakunya sendiri. Apa yang ia perbuat bukan cuma merugikan kesebelasan dan orang lain, tetapi juga mengancam karirnya sendiri. Terlebih dengan usianya yang masih muda, apa yang dialami Balotelli saat ini terbilang memprihatinkan.

Pesepakbola yang terlena dengan apa yang ia capai saat ini, terkadang lupa untuk menata masa depannya. Padahal, dalam kehidupan bermasyarakat perilaku individu adalah nomor satu.

***

Cindy hampir saja berakhir seperti Yuna. Namun, jelang akhir masa kontraknya dengna Byul Entertainment, ia mengubah sikap dinginnya. Ia selalu ingat pesan yang disampaikan produser Baek Seung Chan kalau ia harus menjadi dirinya sendiri. Ia pun harus mencoba memerhatikan keluhan para haters-nya, untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Cindy barangkali tak akan pernah lupa bagaimana bersemangatnya Lee Seung Gi saat menolong orang. Seung Gi mengungkapkan hal tersebut seperti sudah menjadi hal yang otomatis dalam hidupnya, meski pada awalnya ia hanya berpura-pura.

“Saat aku sedang stres, aku berkumpul dengan para artis berperilaku baik yang diketuai oleh Yoo Jae Suk,” kata Seung Gi sesaat setelah menolong seorang staf yang terjatuh. Ia melanjutkan, “Dalam perkumpulan tersebut kami berlomba-lomba mengeluarkan uang sebanyak mungkin untuk beramal.”

Barangkali Anda, para pembaca setia kami bertanya, “Mengapa pria menonton drama Korea?”. Karena dalam drama Korea, yang muda mesti hormat pada yang tua; junior kepada senior; dan mengapa hal itu penting bagi kehidupan sosial dalam adat ke-timur-an.

NB: Kalau ada yang lucu semacam Park Shin Ye, Lee You Bi, atau IU, ya anggap saja itu bonus.


Komentar