Cahaya yang Meredup dalam Perjalanan Dua Orang Denílson

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Cahaya yang Meredup dalam Perjalanan Dua Orang Denílson

Denílson Pereira Neves didatangkan sebagai pengganti Gilberto Silva, jauh sebelum sang senior meninggalkan Arsenal. Cerita karirnya, bagaimanapun, lebih banyak melibatkan Carlos Vela dan Cesc Fàbregas. Serta, barangkali, sedikit bersinggungan dengan Denílson lain yang sudah mengenal sepakbola jauh lebih dulu sebelum dirinya.

Denílson lahir dan tumbuh besar di São Paulo. Ia – yang naik ke kesebelasan senior São Paulo pada 2005 – dinilai sebagai bakat muda São Paulo paling bersinar sejak Kaká naik ke kesebelasan utama pada 2001. Semusim saja ia di kesebelasan utama sebelum Arsenal datang dan membawanya ke London.

Juara Copa Libertadores dan Club World Cup 2005 yang sudah tertera dalam CV Denílson sebelum dirinya bergabung dengan Arsenal tidak membuatnya menjadi pemain hebat. Ia tidak ambil bagian dalam banyak pertandingan di dua kejuaraan tersebut. Karenanya, keputusan Arsène Wenger merekrut Denílson dengan biaya 3,5 juta pound sterling pada 2006 dipertanyakan.

“Kami semua merasa sedikit kejanggalan ketika ia pergi ke Arsenal,” ujar Tostão, eks penyerang Tim Nasional Brasil dan juara Piala Dunia 1970. “Ia baru menjalani sedikit pertandingan bersama kesebelasannya. Ia bermain hati-hati, tidak pernah menonjol. Saya hanya melihatnya beberapa kali; pada dasarnya ia pemain kesebelasan cadangan.”

Namun bukan performa Denílson bersama São Paulo yang membuat Arsenal meminatinya. Denílson, bersama Carlos Vela, ditemukan di Piala Dunia U-17 2005. Saat itu Denílson, kapten Brasil, kalah  di final dari Meksiko-nya Vela.  Sebelum menjadi kapten Brasil U-17 dan membawa kesebelasannya menjadi juara Amerika Selatan di tingkat usia yang sama, Denílson sudah menjabat posisi yang sama di kelompok usia U-15 dan U-16. Ia juga menjadi kapten di Tim Nasional Brasil U-18 dan U-19.

“Ia sedikit perpaduan antara Tomáš Rosický dan Gilberto,” ujar Wenger menilai gelandang bertahannya yang – seperti kebanyakan pemain Brasil – tidak canggung berlama-lama dan memainkan bola di dalam penguasaannya. Namun Wenger tetap melihatnya sebagai seorang gelandang bertahan.

“Ia lebih ke gelandang bertahan,” lanjut manajer berkebangsaan Perancis tersebut. “Mungkin ia bukan pemberi umpan kunci seperti Cesc Fàbregas, namun ia adalah penyambung permainan yang baik.” Denílson sendiri mengaku bahagia ditempatkan di mana saja di lini tengah, walau peran favoritnya memang peran yang dimainkan Fàbregas; lebih menyerang daripada bertahan.

Bermain lebih ke belakang, toh, bukan masalah. Peran yang ia mainkan membuat Denílson bisa memanfaatkan dua kemampuan terbaiknya: marking dan tendangan jarak jauh. Andai ia berkeras ingin merebut peran gelandang serang dari Fàbregas, mungkin ia tidak akan pernah berkembang. Sebagai gelandang serang lebih baik dan sejak menjadi kapten, ia tidak pernah absen.

Musim 2008/09 menjadi musim terbaik Denílson. Kepergian Mathieu Flamini, Gilberto Silva, dan Aliaksandr Hleb membuat Denílson mendapat lebih banyak peluang bermain di kesebelasan utama, berdampingan dengan Cesc Fàbregas. Denílson tampil sebanyak 37 kali di Premier League. Ia mencetak tiga gol dan tujuh assist; tersubur sepanjang karirnya bersama Arsenal. Tak hanya itu, Denílson juga dinilai oleh the Guardian sebagai perfect deep-lying midfielder.

Penilaian Guardian berdasar kepada data. Sepanjang musim, Denílson mencatatkan 2.213 umpan tepat sasaran. Catatan itu merupakan yang terbanyak di antara para pemain Premier League musim 2008/09. Potongannya, 147 kali, juga terbanyak di liga. Data-data ini sekaligus mendukung opini Patrick Vieira, eks kapten Arsenal, yang menilai Denílson dan Fàbregas dapat bermain bersama.

“Kualitas kedua pemain muncul ketika mereka menguasai bola, bukan ketika mereka tidak memilikinya,” ujar Vieira kepada FourFourTwo, ketika dimintai pendapat mengenai gaya bermain Denílson dan Fàbregas yang dinilai terlalu mirip. “Namun semua pemain hebat dapat bermain bersama dan saya yakin mereka bisa.”

Kegemilangan musim 2008/09 membawa hal baik menghampiri Denílson di awal musim berikutnya. Pada 2009, Denílson menandatangani perpanjangan kontrak berdurasi lima tahun. Namun sejak menyepakati kontrak baru ini Denílson tidak pernah berhasil menunjukkan permainan terbaiknya.

Pada 2013, tepatnya 3 Juni, Arsenal memutus kontrak Denílson berdasarkan keputusan bersama. Denílson kemudian bergabung dengan São Paulo secara permanen.

Namun Denílson yang membawa São Paulo menjuarai Copa Sudamericana sebagai pemain pinjaman (sepanjang musim 2011/12) hanya menjadi pemain cadangan setelah bergabung secara permanen. São Paulo pun melepas Denílson ke Al-Wahda, kesebelasan Abu Dhabi, di bursa transfer kali ini.

Carlos Vela, sama seperti Denílson, tidak pernah benar-benar mampu menjadi pemain inti di Arsenal dan kini sudah membela kesebelasan lain. Namun tidak seperti Denílson, Vela masih berkarir di Eropa. Dan tak perlu rasanya membandingkan Denílson dengan Fàbregas, karena perbedaannya terlalu mencolok. Kita semua tahu di mana Fàbregas  sekarang. Selain membandingkannya dengan Vela, Denílson, barangkali, cocok dibandingkan dengan Denílson lainnya.

Denilson Araujo

“Denílson,” tulis Alex Bellos dalam artikelnya untuk the Guardian pada 2007, “tampak mengikuti jalan yang berbeda dari nama sama yang lebih terkenal, Denílson de Oliveira Araújo, yang juga muncul dari São Paulo dan pada 1998 pindah ke Real Betis untuk rekor transfer dunia, 22 juta pound sterling.

Denílson yang lebih tua, penyerang sayap kiri dengan kemampuan olah bola luar biasa, tidak pernah memenuhi bakatnya dan kini, di usia 29 tahun, sudah terlupakan dan bermain di Arab Saudi. Denílson muda pasti berharap, dengan harapan yang lebih sedikit, ia memiliki masa depan yang lebih cerah.”

Bellos terbukti salah. Denílson muda terlupakan dan sudah bermain di Timur Tengah dua tahun lebih awal dari Denílson tua. Cahaya yang dulu sepertinya akan bersinar, meredup dengan lebih cepat.

Komentar