Inzaghi, Mihajlovic dan Alienasi Sepakbola Milan

Cerita

by Marini Saragih

Marini Saragih

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Inzaghi, Mihajlovic dan Alienasi Sepakbola Milan

Milan memang tak sedang berada dalam kondisi yang baik. Sejak ditinggal oleh para penggawanya pada Mei 2012, Milan tampil sebagai kesebelasan yang menyedihkan. Seharusnya untuk kesebelasan sekelas Milan, absen dari kompetisi Eropa bisa dijadikan kesempatan menuai prestasi di liga domestik. Namun jangankan menjadi jago tandang – menjadi jago kandang pun Milan masih tak sanggup. Selama dua musim terakhir, mereka tak bisa beranjak lebih tinggi dari peringkat delapan liga domestik.

Sebagai kesebelasan yang terlanjur punya nama besar, Milan punya satu kepentingan utama: kepentingan untuk bertahan hidup. Bagi Milan, bertahan hidup tidak sesederhana ungkapan “yang penting bisa makan.” Nama besar menuntut Milan untuk bisa tampil sehebat-hebatnya. Terus-menerus tampil sebagai kesebelasan “seadanya” bisa membikin perusahaan penyokong dana angkat kaki. Dan agaknya, kehilangan uang adalah kehilangan yang bisa menghilangkan banyak hal – ketenangan, kewarasan, kemanusiaan.

Perginya sejumlah nama besar diikuti dengan kedatangan sejumlah nama besar. Bukan sebagai pemain, nama-nama itu datang untuk menduduki kursi pelatih. Seedorf, Inzaghi dan kini Sinisa Mihajlovic. Untuk diketahui, masa kepelatihan Inzaghi selesai di akhir musim 2014-2015 ini. Walau sebelumnya Ancelotti dikabarkan akan kembali mengisi bangku kepelatihan tersebut, pada akhirnya nama Sinisa Mihajlovic yang muncul sebagai pelatih baru.

Atas keputusan manajemen untuk memecat Inzaghi dan merekrut Mihajlovic sebagai pelatih baru, suporter garis keras Milan – Curva Sud Milano – menulis surat terbuka sebagai ungkapan kekecewaan. Dalam surat itu dijelaskan tentang kecenderungan Milan yang gemar memperlakukan legendanya secara menjijikkan.

Katanya, direksi Milan kerap menyembunyikan kesalahan strategi transfer dan janji yang tak ditepati – mereka juga berkali-kali menggunakan simbol kebesaran klub untuk menyembunyikan rencana jahat. Curva Sud Milano juga memaparkan kekecewaannya karena pihak direksi berusaha untuk mencari pengganti Inzaghi tanpa memberitahunya terlebih dahulu serta rencana untuk memecat Mauro Tassotti; mantan penggawa Mian yang sudah menjabat sebagai asisten pelatih (termasuk tim junior) selama 18 tahun.

Inzaghi seketika menjadi serupa dengan beberapa legenda terdahulu. Ia dibuang, dialienasi oleh klub yang mengakuinya sebagai legenda.

Sebagai bagian dari sepakbola profesional dan modern, rasanya tak ada yang salah dengan langkah-langkah yang diambil oleh direksi Milan. Anggaplah tindakan itu sebagai tindakan darurat. Milan sebagai perusahaan sedang dalam keadaan tak baik. Sementara direksi, adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup perusahaan. Dalam keadaan darurat, direksi tidak perlu meminta persetujuan pihak lain. Tindakan direksi yang seperti ini barangkali dianggap sebagai hal yang kejam, mereka seperti membikin legendanya babak belur. Namun rasanya kumpulan direksi Milan itu tidak perlu merasa berdosa-berdosa amat. Karena toh, Curva Sud juga pernah bertindak serupa, mereka membuang legendanya.

24 Mei 2009, waktu itu Milan bertanding melawan Roma. Ini menjadi laga ke 900 Maldini untuk Milan, sekaligus menjadi pertandingan terakhirnya di San Siro. Seharusnya hari itu menjadi khidmat seperti yang terjadi pada laga perpisahan perpisahan lainnya. Namun alih-alih menghormati, Curva Sud justru mencemooh sang legendanya itu. Selain mengibarkan replika kostum raksasa Franco Baresi, Curva Sud juga memasang spanduk yang bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia akan menjadi: “Terima Kasih Kapten. Di Lapangan Kamu Sang Juara, Tapi Kamu Kurang Menghormati Orang-Orang yang Membuatmu Kaya Raya!”

Kalau mau jujur, penolakan Curva Sud terhadap legendanya juga dipicu oleh kepentingan untuk bertahan hidup. Bahasa sederhananya: Mereka butuh uang. Kabarnya, menjelang partai final Piala Champion 2005 yang termahsyur itu, Curva Sud Milano menjual sisa jatah tiket mereka kepada pendukung Liverpool dengan harga yang lebih mahal. Menurut Maldini, seharusnya tiket-tiket tadi dijual kepada sesama Milanisti meskipun dengan harga standar. Atas perbuatan semacam itu, Maldini menganggap kalau Curva Sud Milano adalah kelompok pencinta uang belaka. Ia pun menolak untuk meminta maaf saat dihampiri oleh beberapa orang anggota Curva Sud Milano di bandara Malpensa seusai pertandingan.

Alienasi memang menjadi karib dengan dunia bisnis dan profesional. Salah satu tujuan kepindahan terkait bisnis ini adalah untuk bertahan hidup. Dan dalam konteks ini, Milan dan Sinisa sama-sama butuh bertahan hidup. Milan sebagai pihak yang memindahkan membutuhkan Miha untuk menggantikan Inzaghi. Dengan kepindahannya tersebut, mereka berharap agar Milan bisa kembali ke puncak klasemen Serie A. Kalaupun tidak sampai ke puncak, setidaknya Milan bisa kembali berlaga di kompetisi internasional.

Mihajlovic sebagai pihak yang dipindahkan juga punya kepentingan serupa. Barangkali dalam konferensi persnya nanti, Mihajlovic bakal menjelaskan hal-hal klise atau normatif: seperti komitmen, perasaan tertantang dan sebagainya. Namun, bukankah di balik segala idealisme selalu ada angka-angka yang dihitung secara cermat demi menyambung hidup?

Dunia bisnis yang sebenar-benarnya adalah dunia yang bersikap masa bodoh terhadap romantisme yang selalu diumbar oleh para suporter. Bisnis tak mempermasalahkan alienasi, ia juga tak mau peduli-peduli amat dengan etika. Etika yang diakrabinya adalah etika yang bisa melanggengkan bisnis itu sendiri.

Para suporter boleh merasa muak dan menganggap tindakan ini sebagai sebentuk kejijikan. Namun, sebaiknya mereka harus mengingat kalau di balik segala cerita tentang sepakbola modern selalu ada tempat untuk kalkulasi profesional. Dan baik Inzaghi maupun Mihajlovic, mereka benar-benar paham perihal yang satu ini.

Komentar