Mempersoalkan Kelayakan Lacazette

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Mempersoalkan Kelayakan Lacazette

Bersama Paris Saint-Germain, Zlatan Ibrahimovi? kembali berhasil menjadi juara Ligue 1. Tiga musim sudah Ibra menjuarai divisi tertinggi liga sepakbola Perancis tersebut. Namun secara pribadi, Ibra gagal menorehkan prestasi di musim ini.

Dalam dua musim pertamanya di Perancis, Ibra selalu berhasil menyandingkan gelar pencetak gol terbanyak dengan pemain terbaik Ligue 1. Musim ini tak satupun dari kedua penghargaan pribadi tersebut menjadi miliknya. Kedua penghargaan tersebut menjadi Alexandre Lacazette,  penyerang andalan Olympique Lyonnais.

Mengenai gelar pencetak gol terbanyak jelas tidak ada yang perlu diperdebatkan. Indikatornya jelas: jumlah gol yang dicetak. Dengan catatan 27 gol, Lacazette mengungguli koleksi 21 gol penyerang tersubur Olympique de Marseille, André-Pierre Gignac (Ibra sendiri berada di peringkat ketiga dengan 19 gol). Urusan pemain terbaik, lain soal.

Tambahan delapan assist membuat catatan gol plus assist Lacazette menjadi tiga puluh lima; lebih banyak dari pemain Ligue 1 manapun musim ini. Terdekat dengan Lacazette adalah gelandang serang Marseille, Dimitri Payet, yang memiliki koleksi tujuh gol dan dua puluh satu assist.

Urusan jumlah, Lacazette memang menjadi yang terbaik. Namun baik atau tidaknya dua puluh tujuh gol dan delapan assist miliknya jelas tergantung kepada faktor lain. Dalam hal ini, faktor lain tersebut adalah jumlah gol Lyon.

Sepanjang musim Lyon mencetak tujuh puluh dua gol sehingga Lacazette secara langsung memiliki sumbangan sebesar 48,61% terhadap semua gol Lyon. Sebagai pembanding, Payet hanya memiliki sumbangan sebesar 36,84%. Jika alasan pemberian gelar pemain terbaik adalah persentase sumbangan, Lacazette boleh dibilang tidak pantas. Claudio Beauvue, pemain En Avant de Guingamp, memiliki sumbangan sebesar 51,22%; lebih dari separuh dari seluruh gol Guingamp musim ini.

Walau demikian patut dilihat pula di mana Guingamp berada dengan seluruh sumbangan dari Beauvue dan ke mana semua gol dan assist Lacazette membawa Lyon. Sementara Guingamp berada di peringkat kesepuluh, Lyon berada di peringkat kedua. Lacazette 1, Beauvue 0. Juga Lacazette 1-0 Payet.

Ada pemain lain, sebenarnya, yang lebih pantas dijadikan penantang Lacazette. Lebih pantas ketimbang Payet dan Beauvue, malah. Pemain yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah sesama pemain Lyon, Nabil Fekir.

Sementara Lacazette menunjukkan ketimpangan dalam jumlah gol dan assist, Fekir menguasai kedua keahlian tersebut dengan sama baiknya. Selisih antara jumlah gol dan assist-nya hanya satu saja. Dengan catatan tiga belas gol dan dua belas assist, Fekir menjadi satu-satunya pemain yang catatan gol dan assist­-nya sama-sama dua digit.

Pemain yang mampu menorehkan catatan seperti itu tentunya pantas mendapatkan penghargaan. Tidak terpilih menjadi pemain terbaik, Fekir mengamankan gelar pemain muda terbaik. Cukuplah untuk saat ini.

Di luar jumlah gol dan assist, sumbangan terhadap gol-gol kesebelasan, dan kemampuan mencetak gol dan assist yang sama baik, ada pertimbangan lain untuk gelar pemain terbaik: peran penting bagi kesebelasan. Untuk urusan ini, Marco Verratti pantas dikedepankan. Ialah pengatur serangan, otak di balik delapan puluh gol PSG.

Gelar pemain terbaik, bagaimanapun, telah jatuh ke tangan Lacazette. Mau tidak mau, suka tidak suka, publik harus menerimanya. Lacazette telah dinobatkan sebagai yang terbaik; pemain berkebangsaan Perancis pertama sejak Yoann Gourcuff mendapatkan penghargaan yang sama pada 2009. Lacazette juga menjadi pemain Lyon keenam setelah Michael essien (2005), Juninho Pernambucano (2006), Florent Malouda (2007), Karim Benzema (2008), dan Lisandro Lopez (2010).

Jika memang masih ada yang berat hati menerima keberhasilan Lacazette, mungkin mereka harus diingatkan bahwa dua puluh tujuh gol di Ligue 1 bukanlah catatan sembarangan. Sebagai catatan, di musim 2006/07 Pedro Pauleta bahkan mengamankan gelar pencetak gol terbanyak dengan lima belas gol saja. Dalam dua puluh lima musim terakhir, hanya ada dua pemain yang koleksi golnya melebihi Lacazette musim ini: Jean-Pierre Papin (1989/90) dan  Ibrahimovi? (2012/13. Keduanya sama-sama mencetak 30 gol dalam satu musim.

Komentar