Allegri Sebagai Katalisator Juventus

Cerita

by Randy Prasatya

Randy Prasatya

Everything you can imagine is real.

Allegri Sebagai Katalisator Juventus

Sudah menjadi rahasia umum jika Massimiliano Allegri datang ke Juventus dengan penuh sambutan yang negatif. Pihak pendukung Juventus, sampai pemberitaan media membuat nada-nada sumbang dengan pemilihan Allegri. Bahkan tidak hanya sampai disitu. Alvaro Morata dan Patrice Evra yang sedang menjalanin proses negosiasi sempat berfikir ulang ketika Allegri datang sebagai pengganti Antonio Conte.

Kepergian Conte pun sejatinya disebabkan pihak manajemen kesebelasan yang enggan memberikan dana besar untuk membangun kekuatan dikancah Eropa. Kebijakan transfer dari pihak manajemen Juventus yang selalu berpegang teguh pada “Low Price, High Impact” selalu menjadi batu sandungan untuk Conte membangun kejayaan di Eropa.

Dan kini kita bisa melihat bagaimana keputusan manajemen Juventus yang mengabulkan surat pengunduran diri Conte adalah keputusan benar. Pun begitu dengan yang dilakukan manajemen ketika memberikan perlindungan kepada Allegri saat mendapat hujatan sejak hari pertamanya, menjadi keputusan yang (lagi-lagi) teramat benar.

Allegri tetap memperlihatkan cara Juventus bermain seperti di era Conte. Seperti membangun serangan dari bawah sejak penjaga gawang, tetap meletakkan Pirlo sebagai deep lying playmaker, dan tentu saja tidak membuang begitu saja pakem tiga bek milik Conte.

“Saya tidak mengubah apa-apa saat menggantikan Conte. Saya tidak pernah membuang sesuatu, dan membiarkan tim juara ini meneruskan tujuannya. Saya hanya menempelkan gaya saya kepada tim,” ujar Allegri saat memastikan Scudetto keempat untuk Juventus.

Ya, itu dapat dibenarkan jika melihat komposisi pemain yang ditampilkan Allegri dalam jajaran starting line up. Hanya ada nama Alvaro Morata dan Patrice Evra yang membedakannya dengan Conte dalam pemilihan pemain. Itu pun terjadi menjelang paruh pertama berakhir.

Tidak hanya sampai di situ, bahkan Allegri mampu menjaga Grinta yang ada di tubuh Juventus dengan kegemarannya berteriak “dai dai” di sisi lapangan. Grinta merupakan sebutan untuk etos kerja atau semangat juang para pemain Juventus yang pantang menyerah. Sedangkan banyak yang menyebutkan jika grinta yang wajib dimiliki setiap pemain Juventus, kembali hadir saat Juve ditangani Conte.

AllegriTactics
Sumber gambar milanobsession.com

Di saat Conte merasa tidak mampu lagi untuk mengembangkan kemampuan Juventus dengan skuat yang ada, justru Allegri datang dengan segala keyakinan dan melihat ada potensi besar dari sepeninggalan Conte. Ia pun berjuang melawan ketakutannya pada pendukung Juventus yang menolak kehadirannya.

Cara halusnya muncul. Allegri memulai pekerjaannya dengan melanjutkan apa yang tak tersampaikan oleh Conte kepada pemain dengan tetap menjaga pakem formasi Juventus di awal musim. Namun di saat bersamaan, mantan pelatih AC Milan ini secara perlahan memperkenalkan gaya bermain dengan empat pemain belakang saat minimnya stok bek tengah.

Fleksibelnya Allegri dalam memilih taktik menjadi kekuatan baru untuk Juventus dan Allegri. Di tangan Allegri pun Juventus kini tidak terlalu mendewakan penguasaan bola. Ia lebih memperlihatkan hal yang logis sebagai orang Italia yang lebih mengutamakan hasil pertandingan ketimbang keindahan bermain. Setidaknya itu dapat dilihat dengan jelas dalam 5 pertandingan terakhir Juventus di mana Allegri cenderung mengubah formasi 4-4-2 berlian menjadi 3-5-2 saat kesebelasannya telah unggul.

Perubahan itu mengindikasikan jika 3-5-2 menurut Allegri lebih kuat dalam hal bertahan dan tetap memberikan ketenangan saat menyerang. Sebab akan ada lima pemain yang berdiri sebagai pemain belakang saat bertahan dan akan menyisakan tiga pemain belakang saat menyerang. Perubahan ini pun akan memaksa lawan yang sedang tertinggal untuk ikut mengubah taktik saat ingin menembus pertahanan Juventus.

Hal itu juga yang memaksa pelatih lawan untuk menyiapkan banyak opsi dalam membongkar permainan Juventus. Setidaknya setiap pelatih lawan harus mengira-ngira formasi apa yang akan diterapkan Allegri sejak awal. Bermain dengan 3-5-2, pergerakan kedua bek sayap Juve, Evra dan Stephan Licthsteiner begitu diandalkan. Tapi jika dengan 4-3-1-2, Carlos Tevez dan Morata akan lebih banyak bergerak melebar dengan memulai sprint di garis tengah lapangan untuk kemudian menusuk ke sisi tengah pertahanan lawan.

Hadirnya Evra pun sesungguhnya memberikan kemudahan Allegri untuk menstimulus para pemain Juventus untuk mau mencoba bermain dengan empat bek. Evra yang terbiasa bermain dengan empat pemain belakang menjadi senjata rahasia Allegri untuk menerapkan apa yang tak pernah dicoba Conte.

"Saya sangat suka kebijakan yang telah ia jalani musim ini. Dia tidak mengambil apa pun dari kesebelasan, dia hanya menambahkan sesuatu untuk itu,”  ujar Marcelo Lippi mengenai Allegri.

Ya benar. Allegri tidak mencabut fondasi yang ditinggalkan Conte. Ia justru menjadi katalisator dengan apa yang dimilikinya. Ketidak-egoisannya dalam menentukan taktik, menjadi pembeda tersendiri dari kebanyakan pelatih yang cenderung mengubah gaya dan formasi saat beralih ke pelatih lain. Berkat itu pula Allegri mendapatkan ilmu baru mengenai taktik dan dikenal sebagai pelatih yang fleksibel dalam menerapkan formasi bagi kebanyakan orang.

Skema 3-5-2 yang diperkenalkan Conte pada pertengahan musim pertamanya bersama Juventus tidak serta-merta dialihkan ke skema favoritnya 4-3-1-2, tapi dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi terkini pemain. Allegri selalu berhasil memodifikasi skema di setiap pertandingan, suatu hal yang sulit dilakukan Conte selama tiga tahun sebelumnya.

Inilah yang semakin membedakan Allegri dan Conte. Ketika Conte merasa skuat Juventus tak bisa berbuat banyak di Eropa, Allegri dengan caranya berhasil memoles Juventus dengan skuat yang ada tampil trengginas di Liga Champions. Pandangan Juventus yang tak bisa berbuat banyak di Eropa dengan skuat yang ada, tanpa pemain bintang idaman Conte, berhasil diubah oleh Allegri dengan kemampuan taktikalnya.

Komentar