Pengorbanan Fàbregas dan Pengembangan Pemain Muda Arsenal

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Pengorbanan Fàbregas dan Pengembangan Pemain Muda Arsenal

Dalam kontrak Francesc Fàbregas di Barcelona, kabarnya, terdapat sebuah klausul khusus yang menyebut Arsenal sebagai tujuan pertama jika Fàbregas memilih untuk meninggalkan Barcelona. Sehingga ketika Fàbregas memilih Chelsea dan bukannya Arsenal setelah Barcelona, muncul banyak spekulasi mengenai hal ini.

Sekelompok pendukung Arsenal menyebutnya pengkhianat. José Mourinho mengklaim bahwa Fàbregas tidak pernah ingin kembali ke Arsenal. Arsène Wenger masih belum mau buka mulut mengenai masalah ini. Namun bisa jadi, Fàbregas telah memberi manfaat baik bagi Arsenal dengan tidak kembali ke kesebelasan yang akan selalu ada di hatinya tersebut.

Secara spesifik, Fàbregas (bisa jadi) telah memberi manfaat baik kepada Aaron Ramsey dan Jack Wilshere. Dua pemain yang, menurut Fàbregas, tidak memiliki batasan untuk berkembang. Ketika Sid Lowe bertanya kepada Fàbregas dalam sebuah sesi wawancara untuk the Guardian pada 2013 mengenai sejauh mana Ramsey dan Wilshere dapat berkembang, ia menjawab: “Sebaik yang mereka inginkan.”

“Kadang aku memandang ke belakang dan berpikir menjadi seorang kapten, berpikir mengenai tanggung jawab yang aku miliki, dan aku bertanya-tanya: bagaimana seseorang seperti Ramsey melihatku? Aku melihat bagaimana Ramsey bermain saat ini, bagaimana ia tampak bebas, dan aku berpikir mungkin aku menghalangi jalannya. Mungkin aku adalah sebuah hambatan. Kadang kau memerlukan seseorang untuk pergi demi kemajuanmu dan agar kau dapat berkata: ‘aku ada’," ujar Fabregas

"Aku mengatakan hal seperti ini mengenai Ramsey sebagai sebuah contoh dan karena bocah malang ini sempat mengalami cedera juga, aku dapat mengatakan hal yang sama mengenai Jack. Yang aku bicarakan adalah konsepnya, gagasan untuk maju. Pembebasan beban mental sangatlah penting. Keduanya memiliki masa depan yang brilian,” tambah Fàbregas.

article-2374800-07B57F26000005DC-525_634x494

Fàbregas tidak asal bicara mengenai pembebasan beban mental. Sebagai pemain muda, ia sendiri sempat mengalaminya. Menariknya, bukan Patrick Vieira –pemain yang berposisi sama dengannya– yang membuatnya terhambat. Kepergian Vieira memang membuat Fàbregas berkembang, tapi ia tidak pernah berbicara mengenai kehadiran Vieira sebagai penghambat perkembangannya.

“Ketika aku berusia 18 tahun Arsenal menjual Vieira agar mereka dapat menempatkanku di kesebelasan utama. Mereka mengatakannya langsung kepadaku, mereka memberiku tanggung jawab. Mereka menjadikanku kapten saat aku berusia 21. Banyak hal yang membuatku merasa istimewa di kesebelasan tersebut,” ujar Fàbregas mengenai Vieira dan manfaat positif dari kepergian pemain berkebangsaan Perancis tersebut.

Pemain yang memberi hambatan mental kepada dirinya, menurut Fàbregas, adalah Thierry Henry. Bersama Henry, Arsenal memiliki jaminan terciptanya gol. Namun kehadiran Henry membuat dirinya dan beberapa pemain lain merasa tidak bebas. Jika Henry bermain, pilihan menjadi terbatas. Aliran bola hanya memiliki satu muara.

Tanpa Henry, Fàbregas merasa lebih bebas. Henry sendiri ternyata cukup perhatian untuk menyadari bahwa para pemain Arsenal memandangnya sebagai tujuan utama. Di titik tertentu, kehadiran Henry buruk bagi Arsenal. Dan itu menjadi salah satu alasan di balik kepergiannya ke Barcelona.

Arsenal terkenal memiliki tingkat keberhasilan tinggi dalam mengubah pemain muda berkualitas biasa saja menjadi pemain kelas dunia. Fàbregas sendiri mengakui bahwa dirinya mungkin tak akan berada di tempatnya saat ini jika tidak bergabung dengan Arsenal. Namun jika jalan yang ditempuh selalu sama, jika para pemain muda baru bisa berkembang setelah para pemain senior membukakan jalan dengan pergi meninggalkan Arsenal, kapan Arsenal akan meraih hal-hal besar sebagai sebuah kesatuan?

Bukankah kehadiran para pemain senior dan/atau kaya pengalaman penting bagi para pemain muda? Bukankah ada yang harus mengarahkan para pemain muda tersebut agar tenaga mereka tidak terbuang percuma? Ataukah Wenger merasa dirinya mampu mengatasi masalah ini sendiri?

Komentar