40 Detik yang Bergemuruh di Kepala Gerrard

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

40 Detik yang Bergemuruh di Kepala Gerrard

Ada banyak hal yang bisa kita bicarakan dari pertandingan akbar antara Liverpool melawan Manchester United di Anfield semalam (22/03). Namun, jika kami harus memilih satu saja, maka tanpa ragu kami akan memilih diusirnya Steven Gerrard setelah ia hanya di lapangan setelah 40,8 detik.

Gerrard memulai “pertandingan terbesar terakhirnya bersama Liverpool sepanjang kariernya” dari bangku cadangan.

Sebelumnya, sahabat dan sesama legenda Liverpool, Jamie Carragher sempat berkomentar kepada Sky Sports, “Pasti ia (Steven Gerrard) merasa frustrasi karena selalu ada di bangku cadangan, ia harus bermain (melawan Manchester United).”

Sebelumnya memang ada banyak kesempatan ketika Gerrard tidak bisa bermain, entah karena cedera, hukuman kartu, atau diistirahatkan karena kelelahan; namun biasanya ia akan kembali ke susunan sebelas pemain utama sesegera mungkin ketika urusan-urusan yang menghalanginya sudah selesai (sembuh dari cedera, sudah bisa dimainkan setelah akumulasi, sudah fit kembali, dll).

Ini adalah untuk pertama kalinya ia dinomorduakan, pasti sangat berat menjadi Gerrard pada pertandingan semalam.

Setelah pertandingan, Carragher juga kembali berkomentar kepada Sky Sports: “Saya pikir ia melihat para pemain tidak bermain baik, ia lalu berpikir, ‘Kenapa saya tidak bermain? Kenapa saya tidak ada di atas lapangan?’ Pasti sangat frustrasi.”

Apalagi ia adalah pemain The Reds yang paling banyak mencetak gol gol ke gawang Manchester United, maka sudah sewajarnya: ia harus bermain!

Seolah kesedihan dan rasa frustrasi belum cukup, akhir musim nanti ia akan bergabung dengan Los Angeles Galaxy di Major League Soccer (MLS). Tidak heran kita semua menyoroti Gerrad semalam.

Gerrard menghabiskan paruh pertama menonton United mendominasi kesebelasan favoritnya. Tapi babak ke dua semuanya berubah, ketika ia masuk menggantikan Adam Lallana, dan dengan sigap mengambil ban kapten dari Jordan Henderson.

Gerrard memiliki kesempatan itu. Sayangnya, kesempatan itu hanya berlangsung sekitar 40 detik, karena kartu merah cepat dari wasit Martin Atkinson.

Jadi, apa yang membuat legenda Liverpool ini kehilangan kesabarannya begitu cepat sehingga ia menginjak kaki Ander Herrera? Kami memiliki beberapa anggapan.

Kami akan mencoba masuk ke kepala Gerrard dan memposisikan diri sebagai dirinya. Pernyataan Carragher di atas, “Kenapa saya tidak bermain? Kenapa saya tidak ada di atas lapangan?” tentu menjadi hal wajib yang dipikirkan Gerrard selama duduk di bangku cadangan Liverpool di babak pertama.

Berikut adalah rincian dari proses berpikir Gerrard selama cameo 40 detik magisnya.

Baca juga ulasan kartu merah Gerrard dari perspektif yang lain: Sebuah Ode yang Sedih bagi Steven Gerrard

Babak ke dua dimulai

Pikiran Gerrard: “Here we go! Mari kita bermain dengan serius, kawan-kawan! Mari kita luncurkan operan-operan dahsyat kita dan tekel-tekel penuh semangat. Saya akan menjadi mesin lini tengah!”

Di lubuk hati terdalam: “Vrooom, vroooom...” (suara mesin mobil yang baru dipanaskan)

Pertama kali mendapat bola

Pikiran Gerrard: “Ayo, Stevie! Kirim bola ke sayap. Ayo, Emre! Stevie G kembali beraksi di Anfield! O yeah!”

Mendapatkan bola kembali

Pikiran Gerrard: “Bola ini lewat di atas kepalamu, Nak (Ander Herrera). STEVIEEEEE GEEEEEEEE! Saya baru berada di lapangan selama 20 detik tapi saya sudah berdengung!”

Tekel pertamanya

Liverpool v Manchester United - Barclays Premier League

Pikiran Gerrard: "STEVIEEEEE GEEEE BERAKSI! (Juan) Mata tidak akan bisa beraksi lagi di rumah kami, di rumah saya! Ia boleh sudah mencetak gol di babak pertama, tapi tidak di babak ke dua ini; tidak di saat Stevie G ada di lapangan!”

Di lubuk hati terdalam: “Saya tidak bisa bernapas. Semua pembicaraan tentang Stevie G telah menempatkan banyak tekanan pada saya untuk menunjukkan bahwa saya masih punya kemampuan. Saya sudah sedikit keluar dari zona nyaman saya. Saya adalah seorang legenda, saya tidak ditakdirkan duduk di bangku cadangan. Orang-orang akan mengingat saya sebagai pemain hebat, seseorang yang dapat mengubah permainan. Ya, sekarang saya harus mengubah permainan! Tekel saya yang barusan bagus, meskipun agak keras, saya harap wasit tidak menganggapnya sebuah pelanggaran. Yes! Bukan pelanggaran. Makan, nih, Mata!”

Mendapatkan bola untuk yang kedua kalinya

Pikiran Gerrard: “Nah, dapat bola lagi. Sekarang saya harus mengoper bola ke Coutinho. Awas ada Herrera datang, oper sekarang... Yak berhasil dioper!”

Benturan dengan Herrera dan mulai khawatir pelanggaran

“Habis Mata, sekarang Herrera yang akan saya bugili. Selamat tinggal, Ander Herrera.”

Di lubuk hati terdalam: “Bernapaslah, Stevie. Bernapaslah. Tarik napas, lepas... Tarik napas, lepas...”

Beberapa detik pasca-benturan

Pikiran Gerrard: “Ah, ayolah. F*** off. Saya nyaris tidak menyentuhnya. Bangun lah!”

Di lubuk hati terdalam: “Mati lah gue. Saya harap saya tidak mengecewakan kawan-kawan saya. Jika saya mendapatkan kartu kuning, ini terlalu cepat, saya baru masuk lapangan.”

Dituduh menginjak

Gerrard_Herrera

Pikiran Gerrard: “Tenang lah, Stevie. Bersikap cool lah, Stevie... Oh tidak. Apa-apaan ini?! Oh tidak. Saya tidak melakukannya, Sit (wasit Martin Atkinson). Lihat dia. Dia dari Spanyol, Anda tahu. Jelas dia pura-pura kesakitan.”

Di lubuk hati terdalam: “Oh tidak. Saya benar-benar melakukannya. Saya menginjak kaki Herrera terlalu lama. Saya membiarkan Jamie Carragher kecewa. Saya membiarkan anak-anak kecewa. Bagaimana ini? Siapa yang akan membimbing Jordan Henderson?”

Rasa penolakan

Pikiran Gerrard: “Apakah wasit akan menghukum saya? Kenapa Wayne Rooney ke sini? Apakah wasit mau menghukum Wayne? Oh tidak, kartu merah! Bukan kuning! Semoga bukan untuk saya, semoga bukan untuk saya...”

Di lubuk hati terdalam: “Pergi, Wayne! Saya sedang tidak bisa mengendalikan diri.”

Rasa menerima

Pikiran Gerrard: “Saya tidak percaya ini. Kartu merah itu ternyata untuk saya. Saya membiarkan anak-anak kecewa. Tapi setidaknya saya sudah bermain dengan semangat. Mudah-mudahan mereka membicarakan hal itu.”

Di lubuk hati terdalam: "Pele ada di tribun. Sh*t, man!”

Video-nya bisa Anda simak di bawah ini.



Sumber: Fusion, The Telegraph

Komentar