Si Bengal yang Ingin Menyelamatkan Parma

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Si Bengal yang Ingin Menyelamatkan Parma

Sebagai seorang pesepakbola, Faustino Asprilla bukanlah orang suci. Ia punya sifat temperamental yang sulit dikendalikan di dalam maupun di luar lapangan. Pemain keenam terbaik dunia 1996 versi FIFA ini, kemarin mengulurkan tangannya bagi Parma, kesebelasan yang ia bela selama lima musim.

“Aku di sini, di Kolombia, tengah mencari cara untuk membantu mantan kesebelasanku,” kata Asprilla kepada Football Italia, “Aku telah bicara dengan sejumlah pemain untuk melihat jika ada yang bisa dilakukan.”

Tino—panggilan Asprilla—memang terus mengikuti perkembangan Parma hingga saat ini. Setelah memutuskan pensiun, ia masih memerhatikan perkembangan Parma dari jauh. Maklum, Parma adalah kesebelasan pertamanya di Eropa. Parma juga yang membuat bakatnya dihargai 6,7 juta pounds oleh Newcastle United, sebuah angka yang terbilang tinggi kala itu.

Tino dikenal bukan karena pundi-pundi golnya. Ia dikenal karena teknik serta kecepatannya saat mengolah bola. Kehebatan ini yang membuat Radamel Falcao meniru gaya bermainnya. Hasil akhirnya memang mirip: lincah, cepat, dan sulit mencetak gol—bercanda.

Terbang Tinggi Bersama Parma

Saat memasuki usia 18, Tino menjalin kontrak profesional pertamanya dengan Cucuta Deportivo, yang jaraknya sekitar 850 kilometer dari kota kelahirannya di Tulua. Capaiannya di Cucuta terbilang bagus bagi seorang remaja. 17 gol dari 36 penampilan membawanya ke Medellin, markas Atletico Nacional. Di sanalah bakatnya kian terasah.

Ia mencetak 35 gol dari 78 pertandingan. Puncaknya adalah saat ia membawa Nacional menjadi juara Liga Kolombia pada 1991. Prestasi tersebut membuatnya ditawar Parma dengan nilai yang fantastis, 10,2 juta dollar AS.

Saat itu, Parma adalah kesebelasan yang disegani di Italia dan Eropa. Pada musim pertamanya, Parma menempati peringkat ketiga Serie-A, dan berhasil menjuarai Piala Winners. Setahun setelahnya, ia kembali membawa Parma menjuarai Piala Super Eropa yang mempertemukan juara Liga Champions, AC Milan, dengan juara Piala Winners.

Pertandingan yang digelar dalam dua leg ini menghasilkan Parma sebagai pemenang dengan aggregat 2-1. Kemenangan Parma tersebut memang mengesankan. Di leg pertama, mereka kalah 1-0 di hadapan pendukung sendiri di Ennio Tardini. Namun, di leg kedua, giliran mereka yang membalas 2-0 dan mengangkat trofi Piala Super Eropa di San Siro.

Dalam dua pertandingan tersebut, Tino sama sekali tidak mencetak gol. Namun perannya sangat besar bagi Parma. Di leg kedua misalnya, pelatih Nevio Scala lebih memilih mengganti Gianfranco Zola, ketimbang mengganti Tino di posisi penyerang.

Dalam pengabdian pertamanya, Tino mencetak 25 gol dari 84 penampilannya di Serie A bersama Parma. Pada awal musim 1995/1996, Scala nyatanya tidak lagi membutuhkan jasa Tino. Parma pun melepas pemain berjuluk Octopus tersebut ke Newcastle United.

Di Newcastle, karir Tino tidak begitu mentereng. Ia bermain angin-anginan, kadang bermain buruk, kadang bisa mencetak hattrick seperti kala menghadapi Barcelona. Hingga pada Januari 1998, manajer Newcastle kala itu, Kenny Dalglish, tidak suka dengan gaya hidup Tino yang dekat dengan perempuan dan tentu saja angin-anginan di atas lapangan.


Tino di masa tuanya. Tetap berseragam Parma!

Meski sempat kembali setengah musim bersama Parma, Tino memutuskan hijrah ke Serie A Brasil bersama Palmeiras. Di Brasil ia juga mencatatkan sukses dengan mengantarkan Palmeiras menjadi juara Piala Brasil pada 2000.

Setelah dari Palmeiras, karir Tino meredup. Ia sempat bermain untuk Fluminense, Atlante, kembali Atletico Nacional, Universidad de Chile, Estudiantes de la Plata, hingga Cortulua pada 2004. Dari kesebelasan-kesebelasan tersebut, ia tidak pernah bermain lebih dari 12 kali!

Kesebelasan yang paling lama ia bela hanyalah Parma, dan di sana pula namanya melambung.

Usai lepas dari Estudiantes, Tino benar-benar menghilang. Kabarnya, ia sempat bermain untuk kesebelasan Timur Tengah, tapi tidak jelas apa kesebelasannya. Tino pun memutuskan untuk gantung sepatu pada 2009, setelah lima tahun tanpa pernah bermain dalam pertandingan kompetitif.

Diancam Dibunuh

Desember tahun lalu Tino kembali menghiasi media. Ia dan keluarganya mencapat ancaman pembunuhan dari kelompok gangster di Kolombia sebagai bentuk pemerasan. Pesepakbola 45 tahun tersebut mengaku kalau ia didatangi oleh empat pria yang mengendarai dua mobil.

“Mereka memintaku menghubungi atasannya,” kata Tino seperti dikutip ESPNFC, “kalau tidak, mereka akan membunuhku dan keluargaku.”

Atas kejadian tersebut, ia pun memutuskan untuk hijrah dari kota asalnya, Tulua. Ia mengaku sudah tidak bisa menahan lagi ancaman yang diberikan kepada dirinya dan keluarganya. Ia mengaku kesal karena tidak ada yang membelanya di Kolombia.

“Aku mendedikasikan hidupku untuk merepresentasikan nama negara di luar negeri, untuk membawa kebahagiaan bagi masyarakat Kolombia. Saat aku sudah selesai dan ingin beristirahat, untuk menghabiskan waktu yang terbuang dengan keluarga, aku dipaksa keluar ‘lewat pintu belakang’ oleh kotaku sendiri,” sesal Tino.

Hal ini juga sempat terjadi pada 1992. Ketidakamanan itulah yang membawanya ke Italia bersama Parma.

Penuh Kontroversi


Bersama Newcastle. (Sumber: goal.com)

Di puncak karirnya, Tino disamakan dengan kehebatan Pele dan Garrincha. Namun, salah satu faktor yang membuatnya terjun bebas adalah kegemarannya terhadap perempuan dan kehidupan malam.

Pernah saat di Parma, istri dan anaknya meninggalkan Tino dan pulang ke Kolombia. Lalu sebuah rumor mengatakan bahwa Tino menjalin hubungan dengan bintang porno. Hal ini sendiri disangkal oleh pelatih Parma kala itu, Nevio Scala, “Tino hanya bertemu dengan seorang perempuan, itu saja.”

Saat pesta tahun baru, Tino lagi-lagi membuat ulah. Ia menembakkan pistolnya ke udara. Padahal, perlu izin atau lisensi khusus untuk memiliki dan menggunakan senjata di Italia. Harian terbesar Kolombia, El Tiempo bahkan menulis walaupun mereka berhutang banyak pada Tino, tapi mereka tidak ingin memiliki idola yang penuh dengan skandal.

Tino diancam hukuman setahun penjara atas kasus penembakan senjata api tersebut. Namun, akhirnya aparat berwenang menggantinya dengan wajib lapor setiap bulan selama setahun. Nyatanya, hukuman tersebut tidak benar-benar membuat jera. Saat pulang ke Tulua, ia menghajar seorang pria dan mengancam akan membunuhnya.

Pada kesempatan lainnya, Tino dibuang oleh kesebelasan negara (sangara) Kolombia. Sang pelatih, Hernan Dario Gomez, kesal karena Tino terlambat sembilan jam. Bukan karena terlambat naik pesawat atau jalanan macet, tapi karena ia lebih memilih menonton pertunjukan kuda. “Perilaku Asprilla sangat buruk dan menunjukkan disiplin yang buruk. Aku tidak bisa terus-terusan membiarkannya seperti itu.

Disadur dari ESPNFC.com

**

Walau penuh kontroversi, tapi apa yang dilakukan Tino, saat ini, bagi Parma benarlah patut dicontoh. Mungkin ia tidak selama Antonio Bennarivo yang bermain 258 kali untuk Parma, atau Fabio Cannavaro yang bermain tujuh musim tanpa putus. Ia juga tidak setajam Hernan Crespo yang mencetak 72 gol bagi Parma. Penampilan Tino di Parma bahkan tidak mencapai angka 100.

Namun, kesungguhannya untuk membantu bekas klubnya tersebut patut diapresiasi. Meskipun dalam kondisi sulit, karena ancaman pembunuhan, tapi Tino menggerakan rekan-rekannya yang lain untuk mengulurkan tangan membantu Parma yang tengah tergelincir masalah finansial.

Tino tahu Parma sudah memberikan kebebasan saat ia bermain. Berulang kali sang pelatih meminggirkan segala kontroversi yang melekat pada dirinya. Karena itu semua, karir Tino beranjak naik.

Mungkinkan bekas pemain Parma yang lainnya melakukan apa yang dilakukan Tino?

Sumber gambar: goal.com

Komentar