Sebab Sepakbola Tak Sekadar Urusan Menendang Bola....

Cerita

by Abimanyu Bimantoro

Abimanyu Bimantoro

Football Analyst | Promising Sports Brand Strategist | Liverpool #YNWA

Sebab Sepakbola Tak Sekadar Urusan Menendang Bola....

Bagaimana pun, merupakan cerita yang punya sisi humanis yang kuat ketika seorang pemain yang mengabdi pada sebuah kesebelasan sejak bocah tapi kemudian harus pergi. Apalagi jika kepergian itu terjadi setelah pengabdian panjang selama nyaris 20 tahun. Ini bukan soal seberapa hebat seorang pemain. Ini tenang hal lain dari sepakbola:

Darren Fletcher akhirnya memutuskan hengkang dari Manchester United ke West Bromwich Albion. Di penghujung bursa transfer musim dingin 2015 ini, Fletcher secara resmi meninggalkan MU yang sudah dibelanya sejak tahun 1995.

Pemain yang kadang disebut Fletcherinho ini pindah dengan bebas transfer. Status bebas transfer ini diberikan oleh United kepada para pemainnya yang dianggap sudah sangat lama mengabadi Setan Merah, semacam penghargaan, agar ia mudah pindah ke mana pun yang diinginkannya. Dengan cara itulah United hendak mengatakan, alih-alih diartikan sebagai tanda bahwa pemain tersebut tak berharga, bahwa loyalitas pemain tersebut tak bisa ditakar dengan uang.

fletcher saf

Biar bagaimana pun, Fletcher sudah sangat lama menjadi bagian dari keluarga Old Trafford. Bergabung dengan akademi Manchester United saat masih berusia 11 tahun pada 1995, Fletcher kemudian berkembang hingga mendapatkan kontrak profesional di Manchester United pada tahun 2001. Meski kemudian sempat terkendala dengan beberapa cedera yang menyerangnya, Fletcher akhirnya masuk ke skuat utama Manchester United pada musim 2002/2003.

12 tahun bersama skuat utama Setan Merah (total 20 tahun bersama United sejak masih bocah), Fletcher memang mengoleksi 5 gelar Liga Inggris dan 1 gelar Liga Champions. Namun jika orang sedang membicarakan kejayaan MU pada masa tersebut, mungkin nama Fletcher akan disebut pada urutan yang kesekian. Jauh dibawah nama-nama besar lainnya seperti Giggs, Scholes, dan Rooney.

Kemampuannya memang tidak sehebat pemain lainnya. Dia bukan Paul Scholes yang mampu memberikan umpan sangat baik. Atau juga bukan Ryan Giggs yang mampu mendobrak pertahananan lawan. Apalagi jika dibandingkan dengan  Wayne  Rooney yang mampu mencetak banyak gol dalam satu musim.

Posisinya sebagai gelandang pun sepertinya sulit untuk dimasukan ke dalam 10 besar gelandang terbaik Liga Inggris pada masanya. Liga Inggris sudah dihuni terlalu banyak gelandang kualitas dunia seperti Steven Gerrard, Frank Lampard, Cesc Fabregas, dan yang lainnya. Nama Fletcher mungkin akan langsung tenggelam jika dihadapkan oleh nama-nama tersebut.

Fletcher hanya seorang gelandang pekerja keras yang lebih dikenal tidak pernah kompromi terhadap lawan. Hadangan keras yang berujung pelanggaran sudah merupakan pekerjaan rutin yang sering dilakukan Fletcher. Frank Lampard menjadi salah satu "korban" Fletcher, saat mengalami cedera hamstring setelah mendapat hadangan dari Fletcher.

“Aku senang menantang diriku untuk melawan semua pemain terbaik di Premier League,” katanya pada tahun 2009. “Ketika bermain bersama mereka, aku mengatakan pada diriku sendiri, ‘baik, aku akan melihat seberapa baik diriku. Fabregas, Lampard, dan Gerrard, aku akan melawan kalian dan melihat apakah kalian menyukainya. Sekalipun saat kalian tidak menguasai aku akan terus mengganggu mereka,” tambahnya.

Fletcher juga menjadi salah satu pemain yang mendapat kritikan paling keras saat amarah Roy Keane meledak pasca kekalahan MU atas Middlebrough pada Oktober 2005. Keane mengatakan, “Aku tidak mengerti mengapa orang-orang Skotlandia banyak membicarakan Fletcher.”

Cerita bergulir menjadi demikian panas setelah itu. Komentar pedas Keane atas kekalahan United itu, yang secara personal menyerang beberapa rekannya (selain Fletcher, juga Rio Ferdinand kena semprot) di tv resmi United, membuat kamar ganti memanas. Fergie marah besar. Dan pintu keluar dari Old Trafford pun terbuka lebar bagi Keane.

Namun di lain kesempatan, Keane pun mengakui bahwa dia mengatakan hal tersebut untuk lebih mendorong Fletcher bermain lebih baik. Keane mengakui bahwa dia memang sering bersikap keras kepada Fletcher dengan tujuan untuk membuat pemain asal Skotlandia ini mampu berkembang secara maksimal. Fletcher pun berhasil menjawab kritik-kritik pedas yang datang kepadanya saat mencetak gol kemenangan MU atas Chelsea satu bulan setelah kekalahan melawan Middlebrough. Sundulannya membuat rekor tak terkalahkan Chelsea dalam 40 pertandingan harus terhenti.

Simak cerita-cerita lain dengan topik serupa:

Kesetiaan Sejati Hanya Ada dalam Sepakbola

Memahami Loyalitas Ronaldo pada Madrid dan Portugal

Iker Muniain dan Loyalitas Pemain Muda kepada Bilbao

Rumitnya Loyalitas dalam Derby London


Musim 2008/2009 mungkin akan menjadi musim yang paling membanggakan namun juga paling disesali oleh Fletcher. Ia berhasil menjalani musim terbaiknya dengan masuk ke dalam skuat team of the year premier league musim itu. Tidak hanya itu, Fletcher juga berhasil mengantarkan MU ke Final Liga Champions tahun 2009. Sayangnya, satu tekel terhadap Fabregas di laga semifinal melawan Arsenal membuatnya harus menerima kartu merah. Otomatis, Fletcher pun absen pada laga pamungkas melawan Barcelona.

MU kemudian takluk dari Barcelona pada laga Final di Roma. Meski bagitu banyak orang yang berpendapat bahwa MU akan memiliki peluang menang jika Fletcher dapat tampil pada laga final. Tidak tanggung-tanggung, salah satu orang yang memiliki pendapat ini adalah Jose Mourinho.

“Jika Barcelona kehilangan Dani (Alves), Manchester United akan sangat kehilangan Darren Fletcher. Fletcher sangat penting dari apa yang orang-orang bayangkan. Dia bekerja di lapangan tengah, terutama saat terjadi ‘pertempuran’ di lapangan tengah, pada laga krusial di akan menjadi satu pemain penting. Manchester United akan kehilangan kecepatan dan agresivitas dalam aksi bertahannya,” kata The Special One saat berkomentar untuk preview pertandingan final tersebut.

Dan jika kita memperhatikan saat pidato perpisahan Sir Alex Ferguson di Old Traffold musim lalu, maka hanya ada dua nama pemainnya yang disebut namanya. Bukan Rooney, Carrick, Evra, Vidic, Rio atau bahkan Giggs. Tapi justru Paul Scholes dan.... Darren Fletcher.

“Paul (Scholes), aku berharap kamu menjalani masa pensiunmu dengan baik. Dan aku juga berdoa agar Darren Fletcher bisa segera kembali bermain untuk tim ini.”

fletcher saf2

Yah, Fletcher memang menderitas satu penyakit kronis yang membuat penampilannya menurun drastis sejak tahun 2009. Gangguan pada saluran pencernaannya bukan hanya membuat Fletcher tidak bisa menunjukan performa terbaiknya, tapi bahkan absen hampir dua musim lamanya. Hal inilah yang membuatnya semakin sulit untuk mendapatkan tempat utama di Manchester United.

Tapi Fletcher mendapatkan dukungan luar biasa dari Fergie. Ia mengaku, Fergie yang memintanya untuk fokus memulihkan diri. "Fergie memberi waktu yang saya butuhkan, ia mengatakan bahwa saya tidak usah khawatir dengan segala urusan kontrak dan masa depan di United, dan mengatakan bahwa fokus saja kesehatanku dan keluargaku. Ia sosok yang sangat berarti buatku," tukas Fletcher.

Bagaimana Fergie menyebut Fletcher di pidato perpisahannya di laga terakhirnya sebagai manajer di Old Trafford, memperlihatkan bagaimana hubungan keduanya berlangsung. Untuk karirnya yang penuh kegemilangan, ada banyak pemain hebat yang pernah melintas dalam karir Fergie. Tapi justru Flecther (bersama Scholes tentu saja) yang malah disebut Fergie di momen sakral penahbisannya sebagai "patung" dalam memori dan sejarah United.

Ini, sekali lagi, bukan tentang sepakbola, bukan juga soal skil dan popularitas, tapi perihal keluarga, kebersamaan dan tentu saja kehangatan relasi antar manusia.

Fletcher akhirnya memutuskan untuk pindah ke WBA pada bursa transfer musim dingin ini. Secara permainan, mungkin MU tidak akan terlalu kehilangan Fletcher. MU kini sudah memiliki banyak pemain berkualitas pada posisi gelandang. Namun mungkin MU akan kehilangan skuat terakhirnya yang menjadi saksi hidup masa kejayaannya satu dekade lalu.

Mengabdi pada satu klub selama 20 tahun tentu bukan waktu yang sebentar. Apalagi jika pengabdian itu dilakukan tanpa banyak mendapatkan sorotan pujian atas prestasi yang telah ditorehkan.

Tapi untuk setiap pemain dengan pengabdian dan dedikasi seperti Fletcher, akan selalu ada tempat untuknya di hati para suporter. Sebab para suporterlah yang paling mengerti makna loyalitas. Mereka paham siapa pemain yang akan tetap dikenang sepanjang jalan....

===========

Foto: mirror.co.uk, therepublikofmancunia.com/

Komentar