Suasana Fans Chivas Saat Menghadiri Pertandingan Terakhir Klub Mereka

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Suasana Fans Chivas Saat Menghadiri Pertandingan Terakhir Klub Mereka

Dan Kennedy terlihat ragu saat melangkah keluar dari lorong stadion. Istri, serta ibunya terlihat di antara enam ribuan penonton yang hadir di The StubHub Center, Los Angeles, California. Ada perasaan aneh dalam hati Kennedy. Meskipun desas-desus itu sudah terdengar jauh sebelum pertandingan, tapi ia masih tak percaya.

Sekelompok suporter telah menunggu 11 pemain Chivas di atas lapangan. Mereka berbaris rapi sembari meneriakkan yel-yel, menanti pemain Chivas memasuki lapangan. Ada yang berbaju hitam dengan syal bertuliskan “Black Army 1850 Solemente Chivas USA”. Ada pula yang membawa bendera besar-besar dengan warna kebesaran Chivas: merah-putih.

Kennedy, beserta rekan-rekannya memberi salam dengan lambaian tangan. Nyatanya, para suporter tampaknya sudah tahu kalau hari itu, Minggu 26 Oktober 2014, adalah hari terakhir mereka menyaksikan pertandingan Chivas. Ada kesedihan terpancar dari air muka para suporter. Bahkan, ada yang sampai menangis tersedu-sedu.


Jangan bersedih, dik! (Sumber gambar: Bleacherreport.com)

Urusan prestasi, Chivas jarang sekali menang. Musim ini saja, mereka sudah kalah 22 kali. Ini selalu terngiang dalam kepala Kennedy karena ia yang menjaga gawang. Kennedy pun bertekad untuk tak kebobolan di partai terakhirnya bersama Chivas, menghadapi San Jose Earthquakes.

Pertandingan pun usai. Yeay! Chivas 1-0 atas tetangganya itu, dan gawang Kennedy tak sekalipun bergetar. Kebahagiaan itu nyatanya hadir dalam waktu yang teramat singkat. Saat menoleh ke arah suporter, pikiran Kennedy seperti dibangunkan pada satu kenyataan menyakitkan: inilah akhir dari sebuah petualangan.

Spontan, Kennedy melangkahkan kakiknya ke arah kerumunan suporter. Di sana, ada kesedihan tak terkira dari para suporter yang mayoritas keturunan Amerika Latin. Seperti biasa, para suporter menjulurkan tangan, dan mengeluarkan kertas.

Dengan sabar, Kennedy menyalami para suporter yang menjabat begitu keras jari-jari tangannya. Ia pun membubuhkan tanda tangan di atas kertas yang bergambar logo Chivas dan dirinya. Tak berselang lama, pemain andalan Chivas, Erick Cubo Torres, ikut larut dalam suasana mengharukan itu. Sembari bicara dalam bahasa Spanyol, Torres memeluk para suporter yang mendekat ke arahnya.


(Sumber gambar: trbimg.com)

Hati Kennedy makin bertambah sendu saat melihat seorang anak di tribun. “Anak itu datang di setiap pertandingan sejak dia masih menggunakan popok. Aku melihat betapa Chivas begitu berarti baginya. Di matanya, ini adalah momen kesedihan,” kata Kennedy seperti dikutip Bleacher Report.

Pengelolaan Chivas diambil alih dari sang pemilik lama, Jorge Vergara, oleh operator Liga Amerika, MLS, pada Februari silam. MLS menganggap Vergara tidak optimal dalam menjalankan klub, termasuk dengan aturan "Latino" pada staf di manajemen Chivas. MLS mengambil alih pengelolaan Chivas dan menyatakan telah mendapat investor baru yang siap mengelola klub tersebut.

Hal paling esensial adalah Chivas tak memiliki stadion. Selama hampir 10 tahun, mereka bermain di StubHub Center, berbagi kandang dengan LA Galaxy. Prestasi Chivas pun tak bisa dibilang menggembirakan. Dalam beberapa musim terakhir, mereka tak pernah lolos ke babak play-off. Hal yang paling jelas tentu saja ditunjukkan dengan rataan kehadiran penonton di stadion. Saudara muda dari klub Meksiko CD Guadalajara ini tak pernah mendapat rataan penonton di atas 10 ribu dalam dua musim terakhir. Ini tentu berpengaruh terhadap pemasukan klub dan eksistensi mereka di Los Angeles.

Klub baru nantinya akan bermarkas di LA, tapi hadir dengan brand baru yang meninggalkan segala identitas yang melekat pada Chivas. MLS akan memperkenalkan klub tersebut pada 2017 mendatang setelah stadion baru selesai dibangun. Chivas sendiri bukan sekadar klub, tapi juga sebagai pemersatu komunitas Hispanik-Latino di California. Sayang, banyak masalah muncul di kemudian hari, yang menghadirkan resistensi bagi "calon suporter" yang non-latino.

Cerita lebih lengkap dari perjalanan dan permasalahan Chivas USA. Baca di sini.

Yel-yel berbahasa Spanyol itu masih terngiang dalam benak Kennedy. Sebuah yel-yel terus dinyanyikan hingga Chivas beriringan dengan kematian.





Sumber gambar: trbimg.com

Komentar