Uji Konsistensi Paris dan Marseille

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Uji Konsistensi Paris dan Marseille

Olympique de Marseille (OM) adalah bukti bahwa menjadi pimpinan klasemen bukanlah hal yang menyenangkan. Paris Saint-Germain adalah bukti bahwa pernyataan “mempertahankan lebih sulit daripada merebut” tidak sepenuhnya benar. OM terlihat menemui banyak kemudahan dalam mempertahankan posisi mereka di puncak klasemen (terlepas dari semua tekanan yang datang), sementara PSG terus menerus menemui hambatan dalam perjuangan untuk menggeser OM dari puncak.

Prediksi banyak orang di awal musim terbukti salah. AS Monaco yang disebut-sebut akan bersaing ketat dengan PSG tercecer dari perburuan gelar juara. PSG sendiri tidak berada di puncak klasemen dan tidak sedang berusaha untuk menjauh dari para pesaingnya. PSG sementara ini berada di peringkat kedua dan sedang mengejar OM.

Di bawah asuhan Marcelo Bielsa, OM menduduki peringkat pertama sejak pekan keenam. Tak pernah lagi mereka turun peringkat hingga hari ini. Ada dua hal yang membuat OM mampu berada cukup lama di posisi tertingi. Pertama, OM terus menerus meraih kemenangan. Kedua, jika mereka tidak meraih kemenangan, hal yang sama terjadi kepada pesaing terdekat. Dalam hal ini, PSG.

Jarak antara OM dan PSG sempat terbuka cukup lebar. Ketika keduanya berjumpa di Paris pada pekan ke-13, PSG berada empat angka di belakang OM. Kemenangan untuk PSG akan membawa tuan rumah mendekati OM dengan selisih angka satu poin saja. Kemenangan untuk OM, sementara itu, akan membawa pasukan Marseille semakin jauh meninggalkan pasukan Laurent Blanc.

Pada akhirnya, PSG meraih kemenangan meyakinkan dua gol tanpa balas. OM dipaksa berada di dalam kondisi yang tidak nyaman. Satu kesalahan kecil akan membuat OM kehilangan posisi. Tentu saja dengan catatan PSG meraih angka tambahan.

Pasca kemenangan atas OM, PSG berhasil mengumpulkan enam angka dari lawatan ke Metz dan saat menjamu Nice. Namun PSG tidak berhasil merebut posisi puncak dari dua kesempatan yang ada karena OM juga berhasil meraih dua kemenangan kandang selama itu; 3-1 melawan Bordeaux dan 2-0 melawan Nantes.

Peluang besar tersaji untuk PSG di pekan ke-16. OM yang bertandang ke kandang FC Lorient di hari Selasa (2/12) hanya mampu membawa pulang satu angka dari Stade du Moustoir. Penalti Jordan Ayew membatalkan kemenangan bekas timnya. Sial bagi PSG, mereka juga hanya berhasil mendapatkan tambahan satu angka dari kunjungannya ke kandang Lille sehari setelahnya.

Posisi puncak sempat didapatkan oleh PSG di pekan ke-17. Menjamu Nantes di hari Sabtu (6/12), PSG menang berkat dua gol Zlatan Ibrahimovic, yang membuat gol cepat Alejandro Bedoya tak berarti apa-apa. Namun PSG harus rela kembali ke peringkat kedua keesokan harinya. Di bawah tekanan untuk menang, OM berhasil mencetak tiga gol dalam kemenangan meyakinkan 3-1 atas Metz.

Drama kembali tersaja di akhir pekan lalu. PSG dan OM sama-sama tidak berhasil mencetak gol. Kedua tim sama-sama tidak mendapatkan angka karena lawan mereka masing-masing sama-sama berhasil mencetak satu gol. Jérémy Pied dan Yannick Ferreira Carrasco memastikan kemenangan untuk En Avant de Guingamp dan Monaco; sekaligus memastikan bahwa status juara paruh musim baru dapat dipastikan di pertandingan terakhir putaran pertama.

Sumber gambar: dailymail.co.uk

Komentar