Dedikasi, Kata Kunci Meraih Prestasi Tertinggi

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Dedikasi, Kata Kunci Meraih Prestasi Tertinggi

“Menjadi pelatih adalah pekerjaan yang berbeda dan membutuhkan dedikasi. Dalam pekerjaan ini, Anda mendedikasikan kehidupan Anda. Anda harus menyadari bahwa Anda tidak memiliki hal-hal lain di luar pekerjaan ini,” kata Arsène Wenger, manajer Arsenal, menanggapi kemungkinan posisi pelatih yang akan diambil alih Thierry Henry.

Yang dikatakan oleh Wenger bukanlah komentar biasa. Kata-kata yang ia ucapkan adalah sesuatu yang penting, yang bisa menyelamatkan Henry (dan siapapun yang memiliki keinginan untuk menjadi pelatih) dari pengambilan keputusan yang salah.

Henry dipandang memiliki modal yang cukup baik untuk menjadi pelatih karena ia dianggap cerdas. Selain itu, Henry juga benar-benar mencintai sepakbola. Namun itu semua tidak berarti tanpa dedikasi, karena ketika seseorang memutuskan untuk menjadi pelatih kepala (atau manajer), orang tersebut harus membayar harga yang sangat mahal untuk meraih kesuksesan: mengorbankan kehidupannya sendiri.

Ambil José Mourinho sebagai contoh. Demi mendaratkan Cesc Fàbregas di Chelsea FC, Mou melewatkan partai final yang dijalani oleh putranya sendiri. Dan itu hanya bagian kecil saja.

Cerdas bukan satu-satunya kunci kesuksesan Mourinho. Dedikasi tinggi memiliki peranan yang lebih besar. Banyak sudah waktu yang ia habiskan untuk terus menerus memperbaiki kualitas yang ia miliki sebagai seorang tactical genius.

Tidak ada nama besar yang membantu Mourinho meraih tempat terhormat sebagai salah satu juru taktik terbaik di dunia, karena ia tidak menjalani karir sebagai seorang pemain ternama. Namun itu bukan masalah. Kemauan keras dan kerelaan untuk mengorbankan banyak waktu telah membawa Mourinho ke puncak dunia.

“Lebih banyak waktu untuk belajar,” jawab Mourinho ketika dimintai keterangan mengenai fenomena banyaknya pelatih sukses yang tidak memiliki nama besar sebagai seorang pemain.

Seorang pemain besar bukan berarti tidak akan menjadi pelatih besar. Sudah cukup banyak bukti dan Pep Guardiola adalah contoh yang paling mudah. Sukses bersama Barcelona sebagai pemain, Pep berhasil mempersembahkan banyak gelar kepada klub yang sama sebagai pelatih kepala. Hijrah ke Jerman untuk menangani FC Bayern München, Pep tetap bermandikan gelar.

Dedikasi, lagi-lagi, menjadi kata kunci. Pep banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari lawan di ruang video. Duduk memandang layar dengan cara ini jelas bukan cara untuk bersantai. Mempelajari lawan adalah sebuah proses panjang dan salah satu bentuk kerja keras. Tidak mungkin Pep mampu menjalani kehidupan seperti itu jika ia tidak memiliki dedikasi. Dan itu semua dimulai bahkan sebelum ia memulai hari pertamanya sebagai seorang pelatih.

Sebelum memutuskan untuk benar-benar terjun ke dunia kepelatihan bersama Barcelona B, Pep mengunjungi Marcelo Bielsa di kediaman sang jenius di Argentina. “Apakah kamu benar-benar menginginkan hal ini?” tanya Bielsa kepada Guardiola ketika Guardiola berusaha menemukan keyakinan untuk benar-benar terjun ke dunia kepelatihan. Selebihnya adalah sejarah baru yang kita ketahui bersama.

Komentar