Perempuan Tidak Bisa Bermain Bola Layaknya Pria

Cerita

by Eki Nurdiansyah

Eki Nurdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Perempuan Tidak Bisa Bermain Bola Layaknya Pria

Ada sedikit hal menarik yang diungkap David Hockey dalam tulisan singkatnya untuk I Paper, setelah ia menyaksikan pertandingan sepak bola perempuan antara Jerman menghadapi Inggris dalam sebuah partai persahabatan. “Perempuan tidak bisa bermain sepak bola, mereka tidak mengerti peraturan sepak bola.”

Setidaknya itulah penegasan yang ia tulis di paragraf pembuka tulisannya tersebut.

Ia memiliki berbagai alasan kenapa ia sampai berkesimpulan seperti itu, ketika ia menyaksikan pertandingan tersebut, David melihat bahwa sepakbola yang diperlihatkan perempuan jauh berbeda dengan sepakbola yang biasa diperlihatkan oleh para pria.

Dalam pertandingan yang disaksikan hampir 46.000 penonton yang hadir di stadion Wembley tersebut, ia melihat kala para pemain perempuan dijatuhkan oleh lawannya, mereka langsung berdiri dan bermain kembali. Tak ada ekspresi untuk mengerang kesakitan dan tak ada niatan untuk melakukan diving untuk mengelabui wasit. Mereka pun tidak melakukan protes-protes yang tidak perlu terhadap wasit bila ada keputusan-keputusan yang merugikan timnya masing-masing.

Ia pun menambahkan bahwa pertandingan tersebut tidak seperti pertandingan sepakbola yang biasa ia saksikan di laga-laga Premier League. Pertandingan itu tidak memperlihatkan permainan sepakbola yang sesungguhnya, pertandingan yang biasa diperlihatkan oleh para pria.

Ini seperti menjadi sebuah sindiran tersendiri bahwa sepakbola yang diperlihatkan oleh perempuan jauh lebih ‘macho’ ketimbang sepakbola para pria. Sudah menjadi hal yang lazim bagi kita sebagai penonton kala melihat sepakbola pria yang agak sedikit ‘lebay’. Disentuh sedikit, jatuh mengerang kesakitan. Dan bila diberi peringatan sedikit oleh wasit, mereka melakukan protes-protes tak karuan.

Memang sejatinya hal-hal tersebut adalah bagian tersendiri dari sebuah permainan sepakbola. Diving merupakan cara tersendiri bagi pemain untuk mengelabui wasit untuk mendapatkan keuntungan. Namun bukankah hal tersebut mencederai arti fair play sendiri? Dan bukankah diving merupakan cara yang licik?

Sergio Busquets adalah satu dari sekian banyak pemain yang dicap tukang diving, hal ini adalah buah dari perilakunya kala berpura-pura mengerang kesakitan kala ada sedikit sentuhan tangan Thiago Motta yang mendarat di wajahnya, dalam tayangan ulang terlihat bahwa Busquets sedikit mengintip, bola matanya seolah memantau apa yang diberikan wasit pada Motta dan apakah trik yang ia lakukan berhasil mengelabui wasit?

Memang tidak menutup kemungkinan bahwa hal-hal di atas akan hadir dalam sepakbola perempuan nantinya, tapi setidaknya ungkapan David Hickey menjadi sebuah penegasan tersendiri bahwa seiring berjalannya waktu, sepakbola yang ditunjukkan oleh para pria mulai sudah kehilangan jati dirinya. Sepak bola penuh trik licik, penuh diving dan hal-hal lainnya menjadi hal yang lumrah terjadi dalam pertandingan sepakbola pria.

Dan justru saat ini, lewat pertandingan antara Inggris vs Jerman tersebut, perempuan berhasil merepresentasikan jati diri permainan sepakbola yang sesungguhnya: bermain penuh semangat untuk menang, tanpa hal-hal licik dan tanpa memelas meminta pertolongan wasit.

Komentar