Benzema, Pahlawan yang Selalu Menjadi Figuran

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Benzema, Pahlawan yang Selalu Menjadi Figuran

Karim Benzema menjadi pahlawan kemenangan Real Madrid kala menjamu Liverpool  pada matchday ke-4 Liga Champions Rabu lalu (5/11). Penyerang tim nasional Prancis ini mencetak satu-satunya gol pada laga ini yang tentu saja memastikan Los Galacticos meraih tiga poin dan dipastikan lolos ke babak fase gugur lebih dini.

Penampilannya malam itu memang lebih baik dari rekan setimnya yang sedang mengincar pencetak gol terbanyak Liga Champions, Cristiano Ronaldo. Ronaldo melepaskan 10 tembakan tanpa satupun yang berhasil menjadi gol, sedangkan Benzema berhasil mengonversi satu dari tiga usaha percobaannya menjadi gol.

Benzema memang seringkali menjadi pahlawan Real Madrid ketika bintang-bintang Madrid lainnya mengalami kebuntuan untuk membobol gawang lawan. Namun, meski sudah memasuki musim keenamnya bersama tim yang bermarkas di Santiago Bernabeu itu, namanya masih kalah mengkilap dibanding Ronaldo, Gareth Bale atau pun bintang-bintang Madrid lainnya.

Ya, Benzema selalu menjadi tokoh figuran. Ia selalu menjadi bayang-bayang para pemain tokoh utama Real Madrid sejak awal kedatangannya pada musim panas 2009. Saat itu, meski ia ditransfer cukup mahal [35 juta euro] dari Olympique Lyon, semua mata lebih terfokus pada perekrutan Cristiano Ronaldo [94 juta euro] dan Ricardo Kaka [65 juta euro].

Karirnya bersama Madrid pun tak langsung berjalan dengan baik. Pada musim pertama, Benzema kerap memulai laga dari bangku cadangan. Pemain keturunan Aljazair ini kalah bersaing dengan penyerang asal Argentina, Gonzalo Higuain. Alhasil, dari 33 penampilan, Benzema hanya mencetak 9 gol karena menit bermain yang sedikit.

Media Spanyol sempat meragukan kemampuan Benzema yang saat itu masih berusia 22 tahun. Benzema pun dianggap tak serius ingin membela Los Blancos karena ia tak belajar bahasa Spanyol, hingga Madrid mendatangkan Zinedine Zidane untuk ‘menasehati’ Benzema. Media juga memprediksi karir Benzema akan berakhir seperti Nicolas Anelka, yang tak produktif bersama Madrid pada musim 1999/2000 dan hengkang musim berikutnya ke Paris Saint-Germain.

Namun hal itu hanya cerita di luar lapangan hijau yang dibesar-besarkan media. Pada kenyataannya, kualitas Benzema memang tak lebih baik dari Higuain. Higuain memiliki kecepatan yang lebih baik. Dan lagi, pelatih Madrid saat itu, Manuel Pellegrini, lebih menyukai penyerang tunggal yang bisa melesat ke lebar lapangan (untuk membuka ruang bagi Ronaldo).

Benzema tak memiliki kemampuan itu. Ia sangat diandalkan dalam duel-duel udara, tipikal finisher murni. Pergerakannya cepat, tapi tak lebih cepat dari Higuain. Benzema lebih memiliki keunggulan dalam hal daya tahan dan kekuatan, bukan pelari cepat seperti Higuain.

Musim 2010/2011 sedikit lebih cerah bagi karir Benzema. Higuain sering menderita cedera  sehingga Benzema menjadi pilihan utama Jose Mourinho yang menggantikan Pellegrini di awal musim 2010. 48 penampilan dengan total 26 gol pun ia torehkan pada musim itu.

Namun hal itu masih belum meyakinkan fans Real Madrid. Bahkan pelatih tim nasional Prancis, Laurent Blanc tak begitu suka dengan postur tubuh Benzema yang cenderung besar. Blanc menuntut Benzema untuk menurunkan berat badannya agar kecepatannya meningkat.

Benzema menerima kritikan Blanc tersebut. Sebelum musim 2011/2012 bergulir, Benzema bersama sang mentor, Zidane, rutin mengunjungi spa sebagai salah satu cara untuk membakar lemak pada tubuh Benzema.

Hasilnya terlihat ketika musim bergulir. Benzema mulai mendapat kepercayaan dari Mourinho dan mendapatkan jam bermain lebih banyak meski Higuain tak mengalami serangkaian cedera. Levelnya meningkat dan setara dengan Higuain. Jika musim itu Higuain mencetak 22 gol dari 35 penampilan, Benzema mencetak 21 gol dari 34 pertandingan.

Memiliki dua penyerang mematikan, Madrid berhasil menjuarai La Liga dengan torehan lebih dari 100 poin. Saat itu Benzema (dan Higuain) memang dimanjakan oleh Mesut Ozil, Angel Di Maria dan juga Luka Modric yang bergabung pada musim 2012/2013. Belum lagi dengan Ronaldo sang ujung tombak Madrid yang sebenarnya.

Higuain hengkang untuk bergabung dengan Napoli pada musim 2013/14. Otomatis Benzema menjadi pilihan utama Carlo Ancelotti yang menggantikan Jose Mourinho karena bergabung ke Chelsea. Saingan Benzema di lini depan hanyalah penyerang muda berbakat, Alvaro Morata.

Ancelotti nyatanya mampu membuat permainan Madrid lebih efektif dari segi penyerangan. Ia menyulap Benzema menjadi penyerang yang memiliki kemampuan baik dalam menyuplai bola bagi Ronaldo dan juga andalan anyar Madrid, Gareth Bale.

Dengan apa yang sudah didapatkannya sejak musim 2009, ia bisa meniru pergerakan Higuain yang bermain melebar untuk memberikan para penyerang sayap [Ronaldo dan Bale]. Meski hanya mencetak 24 gol dari 52 penampilan, kontribusi Benzema sangat besar sehingga Madrid mampu meraih La Decima, gelar ke-10 Liga Champions.

Musim ini Madrid mendatangkan bintang-bintang anyar. James Rodriguez dan Toni Kroos menggantikan peran Angel Di Maria dan Xabi Alonso yang pindah. Tapi lini depan, tetap dipercayakan pada Benzema. Saking percaya pada kemampuannya, Madrid hanya mendatangkan Javier ‘Chicharito’ Hernandez untuk mem-backup Benzema.

Pada akhirnya Benzema tak bernasib serupa seperti Ricardo Kaka, pemain yang membuat kedatangan Benzema pada 2009 tenggelam. Kaka menjalani musim yang buruk bersama Madrid, sebelum akhirnya kembali ke kota Milan. Bahkan setelah mencicipi atmosfer Major League Soccer, Liga Amerika Serikat, Kaka akhirnya pulang kampung ke Brasil setelah dipinjamkan Orlando City ke Sao Paulo.

Benzema, atas usaha kerasnya, saat ini ia bisa menjadi pemain yang sangat diandalkan Real Madrid. Bahkan walaupun ia tak diagung-agungkan seperti Cristiano Ronaldo (atau pun Gareth Bale), ia tetap akan menjadi Benzema yang selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi Real Madrid untuk meraih kesuksesan.

Karenanya, Benzema akan tetap menikmati perannya sebagai peran figuran meski ia seringkali menjadi pahlawan.

foto: id.wikipedia.org

Komentar