Elegi Para Pesepakbola yang Mati Terbunuh

Cerita

by Taufik Nur Shidiq Pilihan

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Elegi Para Pesepakbola yang Mati Terbunuh



Korban-Korban Penembakan Terencana

Klub sepakbola asal Jamaika, Copperwood FC, menjalani kehidupan yang lebih sulit pasca kejadian tragis yang menimpa salah satu pemain andalan mereka pada 13 April 2010. Byron Clarke, penyerang subur milik tim yang berlaga di St James Division One tersebut, tewas ditembak oleh dua orang tak dikenal di depan rumahnya sendiri.

Saat mendapati telepon genggamnya berdering, Clarke pergi ke luar rumah untuk menerima telepon. Ia kemudian berbincang-bincang dengan lawan bicaranya di seberang telepon sembari duduk di atas batu besar yang terdapat di halaman depan rumahnya.

Saat itulah penembakan terjadi. Dua orang pria bersenjata api menembaki tubuh Clarke berkali-kali. Sang pemain tewas di tempat. Saat dimintai keterangan oleh pihak kepolisian, keluarga Clarke mengaku tidak tahu alasan apa yang membuat pelaku penembakan tega membunuh Clarke.

Sama seperti Clarke, Ahmed Shallal yang bermain untuk Ath-Thawra, tidak berada jauh dari rumahnya di kota Kirkuk saat ia tewas ditembak setahun sebelumnya. "Seorang pemain liga top Irak tewas ditembak oleh pelaku tidak dikenal pada hari Selasa (10/2) ketika ia sedang menunggu taksi yang akan mengantarnya ke klub," tulis pemberitaan di Hindustani Times.

"Ia sedang menunggu taksi di dekat rumahnya. Dan seorang sosok tidak dikenal, yang ditemani oleh satu atau dua orang lainnya dalam satu mobil yang sama, menembakinya," kata juru bicara kepolisian setempat mengenai penembakan yang menimpa Shallal.

Said Nuri Mohammed, direktur Ath-Thawra, mengaku kehilangan begitu ia mendapati kabar bahwa salah seorang pemain andalannya telah pergi untuk selamanya. "Kami tidak tahu mengapa ia dibunuh. Entah itu sebuah aksi terorisme atau alasan lain. Yang pasti, kami kehilangan seorang pemain andalan," ujarnya.

Kota Kirkuk memang mencekam. Sepekan sebelum Shallal tewas ditembak, seorang polisi tewas akibat sebuah bom. Empat polisi lain terluka dalam insiden yang sama.

Dan ternyata tempat yang tenang tidak menjamin keamanan untuk siapapun. Walaupun Nottingham begitu sepi dan tidak sedang dilanda teror seperti Kirkuk, pembunuhan bisa saja terjadi.

Mark Shaw, seorang pemain sepakbola amatir berusia 24 tahun, ditemukan tewas di halaman belakang rumahnya lepas tengah malam pada 20 Agustus 2010. Shaw yang berdomisili di area Heatherington Gardens, Top Valley, Nottingham, tewas karena sebuah luka tembak tunggal.

Polisi menyatakan bahwa Shaw adalah korban dari sebuah pembunuhan berencana. Detektif yang melakukan pemeriksaan memperkuat pernyataan tersebut. Keterangan yang didapatkan dari detektif yang melakukan pemeriksaan menyebutkan bahwa pelaku pembunuhan Shaw melancarkan aksinya dengan gaya eksekusi.

"Putra saya berusia 23 tahun dan bersekolah di tempat yang sama dengannya. Ia adalah salah satu pemain sepak bola andalan dan saya tidak percaya bahwa ia terlibat dalam masalah apapun," kata salah seorang tetangga Shaw. Shaw dikenal sebagai sosok yang ramah dan lembut.

Terlepas dari apa yang diyakini oleh para tetangga mengenai Shaw, pihak kepolisian menyebutkan bahwa kejadian tragis yang menimpa Shaw mungkin ada hubungannya dengan fakta bahwa Shaw berasal dari daerah Bestwood. Area tersebut adalah wilayah kekuasaan Colin Gunn, pimpinan geng setempat yang pernah ditahan karena terbukti membunuh sepasang remaja pada tahun 2006.

Halaman Berikutnya: Gol-gol yang Berakhir dengan Pembunuhan

Komentar