Elegi Para Pesepakbola yang Mati Terbunuh

Cerita

by Taufik Nur Shidiq Pilihan

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Elegi Para Pesepakbola yang Mati Terbunuh



Gol-Gol Kematian

Tahun 1990an menjadi masa-masa keemasan untuk tim nasional Kolombia. Pada gelaran Piala Dunia 1990 di Italia, langkah mereka baru terhenti di perdelapan final ketika dikalahkan oleh Kamerun lewat masa perpanjangan waktu.

Kolombia kembali empat tahun kemudian dengan sangat meyakinkan. Tim asuhan Francisco Maturana lolos ke Piala Dunia Amerika Serikat dengan sangat meyakinkan. Ditempatkan di Grup 1 pada putaran kualifikasi zona CONMEBOL, Kolombia tak sekalipun menderita kekalahan. Padahal pesaing-pesaing Kolombia saat itu adalah Argentina, Paraguay, dan Peru. Bahkan Argentina, juara Piala Dunia 1986 dan runner-up Piala Dunia 1990, mereka kalahkan dengan skor meyakinkan lima gol tanpa balas.

Performa gemilang di babak kualifikasi tersebut menjadikan Kolombia salah satu unggulan di putaran final Piala Dunia. Berada di Grup A dengan Amerika Serikat, Swiss, dan Rumania, Kolombia diprediksi mampu lolos sebagai juara frup oleh banyak orang. Namun ternyata Los Cafeteros tampil mengecewakan.

Kolombia pulang cepat dengan status juru kunci. Mereka menelan dua kekalahan di dua pertandingan pertama mereka. Kepastian pulang cepat mereka dapatkan setelah menderita kekalahan di pertandingan kedua, melawan tim nasional Amerika Serikat. Kemenangan Amerika Serikat kala itu sedikit banyak "terbantu" oleh gol bunuh diri Andr�s Escobar.

Pertandingan terakhir melawan Swiss berhasil diakhiri oleh Kolombia dengan kemenangan, namun hal tersebut tak berarti bagi Kolombia maupun Swiss. Kolombia sudah pasti tersingkir dan Swiss sudah pasti lolos ke fase gugur.

Penampilan mengecewakan yang ditunjukkan oleh Kolombia di Piala Dunia 1994 membuat banyak orang merasa kesal. Terutama orang-orang yang menjagokan Kolombia di rumah-rumah judi. Ancaman mati mengiringi kepulangan Kolombia dari Amerika Serikat.

Kondisi tersebut membuat para pemain mendapatkan pengamanan khusus. Para pemain Kolombia juga disarankan untuk tidak keluar rumah kecuali jika keadaan sangat mendesak. Amarah masyarakat belum mereda dan hal tersebut dapat menjadi sesuatu yang berbahaya untuk para pemain.

Namun Escobar tetap meninggalkan rumahnya untuk bertemu dengan temannya pada suatu malam di hari pertama bulan Juli tahun 1994. Setelah Escobar berpisah dengan temannya, Escobar dihampiri oleh dua orang pria bersenjata di luar sebuah restoran yang terletak di Medellin.

"Terima kasih untuk gol bunuh dirinya," kata salah seorang penembak Escobar sebelum mereka melancarkan aksi. Escobar ditembak sebanyak 12 kali, dan setiap melepaska tembakan para pelaku berteriak "gol!"

Gol yang dicetak oleh Heidar Kazem berbeda dengan Escobar, namun nasib Kazem sama tragisnya. Kazem, pemain berkebangsaan Irak yang bermain untuk sebuah klub bernama Sinjar, tidak mencetak gol ke gawang yang salah. Ia menyarangkan bola ke gawang Buhayra, membantu Sinjar meraih angka.

Bagaimanapun, salah atau benar itu urusan sudut pandang. Menurut beberapa pihak, apa yang dilakukan oleh Kazem adalah sebuah kesalahan. Salah seorang pendukung Buharya merasa tidak senang melihat gawang tim kesayangannya kebobolan. Ia kemudian menarik keluar pistol yang dibawanya, mengarahkannya kepada Kazem, dan melepaskan tembakan saat Kazem sedang merayakan gol yang baru saja ia ciptakan.

Peluru bersarang di kepala Kazem. Sang pemain langsung dilarikan ke rumah sakit. Sebelum Kazem nyawa Kazem berhasil diselamatkan, ia berpulang.

Komentar