Mantan Eksekutif yang Membantu Mengungkap Skandal Korupsi FIFA Tutup Usia

Berita

by Abelio Pramayoga

Abelio Pramayoga

True football fans and an introvert writer. #RESPECT

Mantan Eksekutif yang Membantu Mengungkap Skandal Korupsi FIFA Tutup Usia

Mantan Eksekutif FIFA, Chuck Blazer meninggal di usia 72 tahun. Pria kelahiran 26 April 1945 itu didiagnosa menderita komplikasi penyakit kanker, diabetes dan arteri koroner. Ia telah mengidap penyakit tersebut sejak 2015. Blazer dikenal karena ia membocorkan informasi penting terkait skandal korupsi FIFA yang akhirnya melengserkan posisi presiden FIFA saat itu, Joseph "Sepp" Blatter. Namun, Chuck juga tak lepas dari kontroversi.

"Kami berduka cita atas meninggalnya teman dan klien kami, Chuck Blazer. Semoga segala kesalahan yang ia perbuat; yang juga ia pertanggung jawab kan, tidak membuat kontribusinya untuk sepakbola dilupakan. Di bawah kepemimpinan Chuck, ia telah membuat CONCACAF menjadi konfederasi yang menguntungkan," ujar sang pengacara dilansir AFP.

Blazer mengawali kariernya di administrasi sepakbola pada 1989. Ia terpilih menjadi sekretaris jenderal CONCACAF setelah membujuk Jack Warner sebagai presidennya pada 1990. Jack Warner kini fokus menjalani kariernya sebagai politisi. Ia sudah pensiun total dari segala kegiatan sepakbola pada 2011. Bersama Warner, Blazer bekerja di CONCACAF hingga 2011.

Tak hanya itu, ia juga sempat menjabat di komite eksekutif FIFA pada 1996. Ia menjabat hingga 2013 dan digantikan oleh Sunil Gulati, mantan pesepakbola Amerika Serikat. Selama menjabat sebagai eksekutif FIFA, Blazer diduga menggelapkan uang jutaan dolar demi mengejar kehidupan mewah. Usahanya untuk menyembunyikan pendapatan ilegalnya mulai terungkap saat ia sering absen melaporkan pajaknya sejak 2005 hingga 2010.

Setelah itu, ia akhirnya bersedia mengungkap praktik korupsi di tubuh FIFA yang telah berlangsung setelah diancam penjara oleh FBI. Ia membantu melaporkan sogokan 40 ribu dolar yang diduga berasal dari Jack Warner dan mantan eksekutif FIFA lainnya, Mohammed Bin Hammam. Mereka diduga ingin merekayasa pemilihan presiden FIFA pada 2011.

Puncaknya, ia mengungkap skandal korupsi terbesar di FIFA dengan membocorkan informasi penting melalui sebuah perekam. Ia melakukannya dengan mengikuti setiap rapat FIFA untuk merekam percakapan para anggota eksekutif. Setelah terungkap, skandal itu melibatkan 14 anggota eksekutif dan Blatter sendiri. Kasus itu membuat posisinya akhirnya lengser setelah berkuasa selama 17 tahun. Meski demikian, FIFA turut menghukum Blazer tak boleh terlibat dalam kegiatan sepakbola lagi seumur hidupnya atas kasusnya dulu.

Blazer juga dikenal sebagai "Tuan 10 persen" karena membuat perjanjian dengan CONCACAF untuk mendapatkan keuntungan 10 persen dari konfederasi selama ia menjabat. Namun, ia menegaskan hal tersebut merupakan `hadiah` dari usaha kerasnya membangun CONCACAF.

"Saya sangat puas telah melakukan pekerjaan yang baik. Butuh 21 tahun bagi saya membangun konfederasi, kompetisi dan pemasukannya dan sayalah yang pantas bertanggung jawab atas pendapatannya yang baik," tandas Blazer saat itu.

Dengan segala kontroversinya, Blazer juga memiliki kontribusi positif bersama CONCACAF. Ia merupakan pencetus Piala Emas yang mulai bergulir 1991. Kompetisi yang diadakan setiap dua tahun itu turut menaikkan pamor sepakbola di Amerika Utara dan sekitarnya di dunia.

Komentar