Pengalaman Huntelaar Akan Tingkatkan Daya Gedor Lini Depan Ajax

Berita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Pengalaman Huntelaar Akan Tingkatkan Daya Gedor Lini Depan Ajax

Klass-Jan Huntelaar kembali Ajax Amsterdam setelah sembilan tahun meninggalkan Belanda. Pemain berusia 33 tahun tersebut diikat Ajax dengan kontrak berdurasi satu tahun. Artinya kontraknya bersama Ajax akan berakhir pada 30 Juni 2018 mendatang.

Direktur Olahraga Ajax, Marc Overmars, mengungkapkan bahwa Huntelaar merupakan sosok yang tepat untuk mempertajam lini depan Ajax pada musim depan. Apalagi saat ini mereka barus saja ditinggalkan oleh Betrand Traore yang kembali Chelsea setelah masa pinjamannya di Ajax berakhir.

"Saya senang bahwa Klaas-Jan telah memilih Ajax, karena kami telah tertarik padanya selama beberapa tahun. Bertrand Traoré kembali ke Chelsea dan pilihan kami membutuhkan dua pemain depan yang baik untuk musim depan,” terangnya seperti dikutip dari halaman resmi klub.

Huntelaar saat ini sudah berusia 33 tahun, tentu bukan lagi usia produktif bagi pemain sepakbola. Kendati demikian Overmars meyakini bahwa pengalaman yang dimiliki oleh Huntelaar bisa membantu meningkatkan performa tim pada musim depan.

“Huntelaar adalah pemain berpengalaman yang mengenal segala sisi klub dengan baik. Dia masih fit dan yang terpenting, dia sangat ingin sukses dengan Ajax, sementara pada saat bersamaan, dia tahu apa yang akan terjadi,” terangnya.

Pada musim 2016/2017, Kasper Dolberg bisa dibilang sebagai pemain yang paling diandalkan Ajax dalam urusan mencetak gol. Peran tersebut tentu masih akan diemban oleh pemain berusia 19 tahun itu. Kedatangan Huntelaar akan membuat lini depan Ajax lebih kaya, sebab selain diandalkan sebagai juru gedor, Huntelaar pun di proyeksi menjadi pemain yang bisa menjadi panutan bagi para penggawa Ajax yang dominan dihuni pemain muda.

“Kasper Dolberg adalah andalan kami di lini depan. Tapi saya tahu bahwa Huntelaar akan memainkan peran penting di Ajax, baik di dalam maupun di luar lapangan."

Huntelaar merupakan salah satu produk sukses binaan akademi Ajax Amsterdam. Berposisi sebagai penyerang, Huntelaar memiliki kapasitas mumpuni sebagai juru gedor, memulai karier profesional di PSV Eindhoven pada tahun 2002, Huntelaar kemudian kembali ke Ajax antara tahun 2006 sampai 2008.

Bersama klub ibu kota Belanda itu torehan 105 gol dalam 136 penampilan di semua kompetisi berhasil dibukukan. Pencapaian yang kemudian membuat namanya kian melambung hingga membuat Real Madrid tertarik memboyongnya ke Santiago Bernabeu. Namun kebintangan Huntelaar kurang bersinar di klub berjuluk “Los Blancos” itu. Hanya setengah musim saja ia berada di Madrid sebelum akhirnya hijrah ke AC Milan.

Tak lama kemudian pada jendela transfer musim panas tahun 2010 ia dipinang Schalke 04. Bersama “Ther Royal Blues” Huntelaar kembali menemukan permainan terbaiknya. Terbukti ia bertahan selama tujuh musim dengan torehan 82 gol dari 175 penampilannya di Veltins Arena.

Menjelang kompetisi 2017/2018, keputusan berani dilakukan Huntelaar dengan kembali ke Ajax saat usia menginjak 33 tahun. Meski begitu ia merasa optimis kemampuannya belum pudar, hingga gelar Eredivise musim depan menjadi target yang ingin ia capai bersama Ajax musim depan.

"Saya dalam kondisi prima secara fisik dan saya sudah menanti-nantikan dimulainya pra-musim. Tujuannya adalah saya ingin memenangkan gelar Eredivisie musim depan," ucapnya.

Pemilik 76 caps bersama timnas Belanda itu mengungkapkan kebahagiaannya kembali ke Ajax. Menurutnya klub berjuluk “De Godenzonen” itu merupakan klub yang dicintainya. Meski saat ini ia sudah tidak lagi muda namun ia percaya menit bermain lebih banyak bisa ia dapatkan.

“Bukan rahasia lagi bahwa Ajax adalah klub saya. Jadi saya sangat senang bisa kembali kemari. Peran saya jelas, tapi saya tidak datang ke sini untuk memperlambat kinerja tim. Musim lalu, Ajax memainkan hampir enam puluh pertandingan resmi. Jadi saya akan mendapatkan waktu bermain,” tegasnya.

Kembalinya Huntelaar ke Ajax, tentu mengingatkan kita pada sosok Dirk Kuyt yang juga memilih kembali ke klub lamanya Feyenoord Rotterdam pada 2015 lalu. Saat kembali, Kuyt pun berambisi membawa Feyenoord menjadi juara. Butuh dua musim baginya untuk mewujudkan perkataannya itu.

Pertanyaannya adalah, apakah sukses Kuyt bisa menjadi inspirasi bagi Huntelaar untuk memberikan kejayaan bagi Ajax? Sebab pada musim lalu, Ajax telah melawati musim yang cukup sulit dalam hal perburuan gelar. Di Eredivise mereka gagal bersaing dengan Feyenoord dan harus puas menempati posisi dua di klasemen akhir. Nasib yang tak jauh berbeda mereka alami juga di Liga Europa. Berhasil menembus babak final, mereka kandas dari Manchester United.

Foto: Ofisial Ajax

Komentar