Leicester City Berusaha Perbaiki Rekor Tandang

Berita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Leicester City Berusaha Perbaiki Rekor Tandang

Musim 2015/2016, ketika Leicester City menjadi juara Liga Primer Inggris, mereka mencatatkan rekor tandang yang cukup mengesankan. Dari 19 laga tandang yang mereka jalani pada musim 2015/2016, mereka sukses mencatatkan 11 kemenangan, enam hasil imbang, dan dua kali kekalahan.

Rekor tandang yang baik inilah yang menjadi salah satu faktor Leicester City mampu menjadi juara pada musim tersebut, selain tentunya karena beberapa pemain macam Jamie Vardy, Riyad Mahrez, dan N`Golo Kante yang mampu tampil maksimal. Musim 2016/2017 keadaan Leicester seolah berbalik 180 derajat.

Dari tiga laga tandang yang sudah mereka jalani, mereka sudah menelan tiga kekalahan. Dua kekalahan di kandang Liverpool dan Manchester United, bahkan berakhir dengan tragis untuk The Foxes. Di Anfield, mereka dihancurkan Liverpool dengan skor 4-1. Skor sama juga mereka catatkan ketika mereka ditaklukkan oleh Manchester United di Old Trafford.

Pekerjaan rumah terbesar yang masih belum bisa terselesaikan oleh Ranieri adalah menemukan pemain pengganti N`Golo Kante. Bukan hanya sekedar posisi, tapi juga peran yang diemban oleh pengganti Kante tersebut. Selama berseragam Leicester, Kante sudah menjelma menjadi gelandang tengah yang tangguh.

Baca Juga: N`Golo Kante Melengkapi Chelsea, Melemahkan Leicester

Nama-nama seperti Daniel Amartey dan Nampalys Mendy tampak belum begitu menjanjikan sebagai pengganti Kante. Inilah yang membuat lini tengah Leicester City tidak sekuat musim 2015/2016, saat Kante, ditemani oleh Danny Drinkwater, menjadi tulang punggung The Foxes di lini tengah.

Selain itu Ranieri pun harus memikirkan formasi dasar apa yang akan mereka gunakan, apakah 4-4-2 (dengan segala lubangnya yang mampu dieksploitasi oleh United dan Liverpool), atau menggunakan 4-5-1. Ia juga harus menentukan apakah ia akan menduetkan Islam Slimani dan Jamie Vardy di depan, atau menempatkan salah satu di antara mereka sebagai lone striker di depan dan menambahkan gelandang di lini tengah (biasanya Andy King).

Formasi dasar 4-5-1 tampak efektif ketika digunakan oleh Ranieri pada babak kedua pertandingan melawan Manchester United. Kesempatan mencetak gol United menjadi berkurang dan Leicester mampu mencetak satu gol susulan lewat Demarai Gray. Lini tengah United yang begitu digdaya pada babak pertama berhasil terhentikan dengan penambahan Andy King di lini tengah.

Tapi formasi ini mengandung kekurangan, yakni lone striker di depan akan benar-benar kesepian jika tidak disertai oleh gelandang yang bertipikal no. 10 yang mampu menemani dan memberikan ruang bagi sang penyerang. Serangan balik pun tidak akan terlalu dahsyat, kecuali jika para winger berani melakukan tusukan, seperti halnya Gray.

Chelsea akan menjadi ujian berikutnya bagi The Foxes dalam usaha mereka untuk memperbaiki rekor tandang musim ini. Menghadapi The Blues di Stamford Bridge, dan juga bertemu pemain yang cukup mereka rindukan, N`Golo Kante, Leicester coba untuk memperbaiki rekor tandang mereka. Namun jika mereka tampil buruk seperti halnya ketika mereka berkunjung ke Anfield ataupun Old Trafford, jangan heran skor 4-1 mungkin saja kembali tercipta.

Komentar