Kekalahan Liverpool, Obat Frustasi Steve McClaren

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Kekalahan Liverpool, Obat Frustasi Steve McClaren

Secara mengejutkan, Newcastle United berhasil menjungkalkan Liverpool dengan skor 2-0. Kemenangan tersebut merupakan kemenangan ketiga Newcastle sepanjang musim ini. Tambahan tiga poin membuat posisi Newcastle naik ke peringkat ke-18. Meski menang, bukan berarti posisi McClaren akan aman hingga pertengahan musim ini.

“Mari berharap ini adalah momen pencerahan yang bisa mengubah situasi,” tutur mantan pelatih timnas Inggris tersebut. “Ini memberi kami kesempatan. Kemenangan ini menyelamatkanku untuk tidak membenturkan kepalaku ke tembok, dan bertanya-tanya apa yang akan aku lakukan pekan depan.”

Newcastle memang berada dalam situasi yang tidak menyenangkan. Secara permainan, mereka bermain buruk. Dari dua pertandingan sebelum menghadapi Liverpool, Newcastle sudah kebobolan delapan gol kala menghadapi Leicester dan Crystal Palace. Jumlah tersebut bisa saja bertambah banyak, terlebih Liverpool baru membantai Southampton di ajang Piala Liga dengan skor 6-1.

“Ini merupakan dua pekan yang keras. Tim ini telah mendapat banyak kritik dan satu-satunya pembelaan dari mereka adalah pembuktian di atas lapangan. Kami sangat gugup pada awalnya tapi ini merupakan kemenangan yang pantas buat kami. Kami telah menunjukkan bahwa jika Anda bekerja keras, Anda bisa mendapatkan kesempatan untuk menang,” ucap McClaren.

Frustasi

Kekalahan demi kekalahan yang diderita Newcastle membuat McClaren frustasi. Usai dibantai 1-5 oleh Crystal Palace, McClaren bahkan menginginkan agar sejumlah pemain inti—yang biasa ia turunkan—digantikan.

Kekalahan tersebut bukan sekadar poin yang hilang tetapi juga soal kepercayaan diri pemain, manajemen, dan suporter. Mereka kalah melawan kesebelasan yang dibesut Alan Pardew, yang hingga pertengahan musim lalu masih melatih Newcastle. Meski pergi dengan “baik-baik” tapi Pardew menyiratkan bahwa ada hal soal kebijakan transfer yang tidak bisa dipenuhi oleh manajemen. Pilihannya cuma (1) datangkan pemain baru; atau (2) Pardew yang pergi.

Hasilnya, manajemen Newcastle mesti menanggung malu. Dengan skuat yang sudah terbentuk dan berada di papan tengah, mereka tak peduli-peduli amat dengan kepergian Pardew. Manajemen pun tak menunjuk pelatih kepala yang sudah punya nama melainkan menaikkan jabatan John Carver dari asisten manajer, menjadi manajer hingga akhir musim.

Di pekan ke-19 atau pekan terakhir Pardew membesut The Magpies, mereka berada di peringkat kesembilan. Setelah Pardew pergi, posisi Newcastle pun melorot bahkan mendekati bibir jurang degradasi. Pada musim lalu, di tangan Carver, Newcastle hanya berada di peringkat ke-15. Sementara itu, Pardew sukses mengangkat Palace dari zona degradasi ke peringkat ke-10.

Usai kekalahan besar atas Palace, McClaren sempat tak akan menurunkan Moussa Sissoko dan Georginio Wijnaldum. Mereka dianggap tak menampilkan permainan terbaik kala dibantai Palace.

Baca juga: Newcastle, Rumah Kedua Pemain Prancis

Tapi setelah mengandaskan Liverpool, McClaren tiba di ruang konferensi pers dengan berseri. Saat ditanya tentang Wijnaldum, ia hanya tersenyum, “Aku hampir tidak menurunkan mereka semua. Inilah mengapa Anda harus memaksimalkan rentang selama sepekan antarpertandingan.”

“(Dalam rentang waktu tersebut) Kami pun menunjukkan alasan mengapa kami kalah pada dua pertandingan dan kami memberi kesempatan semua orang untuk membela diri, dan mereka telah melakukannya,” kata McCLaren.

Selain memberikan tiga poin, kemenangan atas Liverpool kembali menumbuhkan rasa percaya diri. McClaren percaya kalau dengan komposisi skuatnya seperti saat ini mereka semestinya bisa meraih kemenangan di pertandingan selanjutnya.

Newcastle Pantas Menang

Newcastle layak mengalahkan Liverpool. Hal ini pun diakui oleh manajer Liverpool, Juergen Klopp. “Nyaris segalanya,” ujar Klopp saat ditanya di mana yang salah, “Di awal, pertengahan, dan akhir. Secara jelas ini bukan pertandingan yang bagus. (Kekalahan ini) 50% karena Newcastle dan 50% karena (kesalahan) Liverpool.”

Soal gol Alberto Moreno yang dianulir wasit karena terjebak offside, padahal sebenarnya onside, Klopp mengaku tidak melakukan protes berlebihan. “Kami mencetak gol, tapi karena kami tak cukup baik, asisten wasit mungkin berpikir: ‘Anda tak mencetak gol kelas dunia kalau Anda bermain seburuk ini. Newcastle pantas menang,” tutur Klopp.

Sementara itu, terkait persaingan gelar juara, Klopp menyatakan kalau itu hanyalah konstruksi media. Memang, sebelum pertandingan, McClaren pernah menyanjungnya dan menyatakan kalau Klopp mampu membawa Liverpool juara. Tapi tak demikian dengan Klopp yang lebih memilih keluar dari perdebatan.

“Aku tidak ada masalah jika Anda ingin bicara soal itu (perebutan gelar juara). Namun, tolong jangan tanya aku sekarang tentang ini. Aku tak mengatakan kami adalah pesaing juara sebelumnya. Jadi mengapa aku harus menjelaskannya?”

“Tim ini punya kualitas yang bagus, tapi hari ini kami kalah. Kami tak bisa mengabaikannya. Di sepakbola profesional, jika kamu mengalami kekalahan, ada sesuatu yang salah. Kami merasakan kekalahan ini. Ini pantas, tapi menyakitkan, seperti seharusnya,” kata Klopp.

foto: belfasttelegraph.co.uk

Komentar